Valerianius
amat terperanjat, ia berkata dengan lembut, “Tunjukkanlah kepadaku
malaikatmu. Jika ia datang dari Tuhan, aku akan mengabulkan
permintaanmu.”
Kata
Sesilia, “Jika engkau percaya akan Allah yang satu dan benar serta
menerima air pembaptisan, maka engkau akan melihat malaikatku.” Kemudian
Valerian pergi menemui Uskup Urban yang menerimanya dengan gembira.
Setelah menyatakan pengakuan iman Kristiani, Valerianus dibaptis dan
pulang kembali kepada St. Sesilia. Di sana, disamping isterinya, pemuda
itu melihat malaikat yang menakjubkan.
Tiburtius,
saudara Valerianus, belajar iman Kristiani dari Sesilia. St. Sesilia
mengisahkan Yesus dengan begitu indahnya hingga tak lama kemudian
Tiburtius pun dibaptis juga. Bersama-sama, kedua pemuda itu melakukan
banyak perbuatan amal kasih. Ketika mereka ditangkap oleh karena menjadi
murid Krsitus, dengan berani mereka memilih mati daripada mengingkari
iman mereka kepada Yesus. Dengan kasih sayang St. Sesilia menguburkan
jenasah mereka, sebelum akhirnya ia sendiri ditangkap. Sesilia
mempertobatkan para petugas yang berusaha membujuknya untuk
mempersembahkan korban bakaran kepada berhala. Ketika Sesilia dibakar
dalam kobaran api, api tidak menyakitinya. Akhirnya, seorang ditugaskan
untuk memenggal kepala Sesilia. Ia menebaskan pedangnya tiga kali ke
leher Sesilia, Sesilia rebah tetapi tidak langsung tewas. Ia tergeletak
di lantai rumahnya sendiri tak mampu bergerak. Meskipun begitu, dengan
mengacungkan tiga jari dengan tangannya yang satu dan satu jari di
tangannya yang lain, ia masih menyatakan imannya kepada Allah Tritunggal
Mahakudus.
Pada pesta santa pelindung musik ini, mari kita merenungkan kata-kata St. Agustinus:
“Kata-kata tidak dapat mengungkapkan hal-hal yang dinyanyikan dalam
hati … Dan jika karena luapan kebahagian sehingga kata-kata tidak lagi
dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan, manusia tidak lagi
mengindahkan kata-kata yang terbatas itu. Mereka meledak dalam pekik
sukacita yang sederhana, pekik kegirangan.”
0 komentar:
Posting Komentar