Tampilkan postingan dengan label Liturgi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liturgi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Januari 2013

, ,

Mengapa Kitab Suci Katolik Mempunyai Jumlah Kitab Lebih Banyak daripada Kitab Suci Protestan?

Oleh P. Richard Lonsdale
Kitab Suci Katolik terdiri dari 72 kitab (45 kitab PL + 27 kitab PB), sementara kebanyakan Kitab Suci Protestan hanya terdiri dari 66 kitab. Kitab yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik semuanya merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Selain itu terdapat juga beberapa ayat dalam kitab-kitab tertentu yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik. Mengapa terjadi perbedaan demikian? Jawabannya amat rumit, tetapi secara sederhana dapat dijelaskan seperti berikut ini.

Orang-orang Yahudi menulis Perjanjian Lama, tetapi mereka tidak secara "resmi" menuliskan daftar atau kanon dari kitab-kitab tersebut sampai akhir abad kedua. Sekelompok orang Yahudi khawatir kalau-kalau pada akhirnya tulisan-tulisan Kristen juga akan dimasukkan orang ke dalam kanon mereka. Untuk mencegah hal tersebut, setelah melalui debat yang panjang, mereka memutuskan untuk mencantumkan hanya kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani saja yang termasuk dalam kanon mereka. Dengan demikian mereka dapat mengeluarkan kitab-kitab Kristen yang semuanya ditulis dalam bahasa Yunani. Namun demikian, ada pula beberapa bagian dari kitab Perjanjian Lama yang hanya tersedia salinannya dalam bahasa Yunani, sedangkan kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Ibrani telah hilang. Dengan demikian kitab-kitab tersebut, yang dulunya juga mereka terima, ikut dikeluarkan dari kanon Yahudi.

Gereja Katolik tidak mengikuti keputusan mereka. Terutama karena beberapa kitab yang ditulis dalam bahasa Yunani mendukung doktrin (doktrin = ajaran) Katolik, misalnya tentang Roh Kudus. Gereja Katolik tidak membuat daftar atau kanon resmi sampai beberapa abad kemudian. Sejak awal mula Gereja Katolik menerima semua kitab yang sekarang ada dalam Kitab Suci kita.

Pada abad ke-16, Gereja Protestan mulai mempergunakan Kitab Suci sebagai dasar ajaran mereka. Martin Luther menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Perjanjian Lama Yahudi. Alasan penolakannya adalah karena beberapa bagian dari kitab-kitab tersebut tidak mendukung ajarannya. Seperti misalnya, Luther tidak setuju dengan ajaran Gereja Katolik mengenai Api Penyucian. Padahal gagasan tentang api penyucian terdapat dalam Kitab Makabe II. Selanjutnya Luther juga mencoba mengeluarkan beberapa kitab Perjanjian Baru, misalnya Surat Yakobus. Beberapa gagasan dalam surat Yakobus tidak sesuai dengan ajaran Luther, misalnya tentang ajaran Luther yang menyatakan bahwa perbuatan baik tidak diperlukan dalam memperoleh keselamatan, melainkan hanya iman. Tetapi, pada akhirnya, ia harus memasukkan juga Surat Yakobus dalam kanonnya.

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja Protestan disebut Protokanonika (protokanonika: kanon yang pertama). Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui oleh Gereja Katolik tetapi tidak diakui oleh Gereja Protestan di tempatkan di bagian antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagian ini oleh Gereja Katolik disebut Deuterokanonika (deuterokanonika: kanon yang kedua), sedang oleh Gereja Protestan disebut Apokrip (apokrip : buku-buku keagamaan yang baik untuk dibaca tetapi tidak diilhami Roh Kudus).

Hingga kini Gereja Katolik terus mempertahankan serta menghormati kitab-kitab seperti yang telah diterima oleh Gereja Kristen Purba. Jika Kitab Suci yang mereka wariskan itu baik bagi mereka, tentu baik pula bagi kita. Coba bacalah kisah menarik tentang Tobit, dan coba baca juga nasehat-nasehat berharga dalam Kitab Kebijaksanaan di Kitab Suci Katolik-mu.


sumber: P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
tambahan: P. Dr. H. Pidyarto O.Carm; “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik buku kesatu”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”
Publisher: Unknown - 5:30:00 PM

Selasa, 01 Januari 2013

, ,

Busana Liturgis Imam Dalam Misa

oleh: P. William P. Saunders *


Saya selalu bertanya-tanya mengenai busana liturgis yang dikenakan imam dalam perayaan Misa. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Sterling


Busana-busana liturgis yang dikenakan dalam perayaan Misa mengalami perkembangan seturut berjalannya waktu. Namun demikian, sejak masa-masa awali Gereja, busana liturgis telah dikenakan oleh para imam untuk merayakan Misa. Walau para imam dari Perjanjian Lama mengenakan busana liturgis dalam ritus-ritus liturgis mereka, namun busana-busana liturgis “Kristiani” tidak sungguh diambil dari sana; tetapi, busana-busana liturgis Kristiani ini merupakan perkembangan dari busana Graeco-Romawi, termasuk budaya religiusnya. Meski begitu, gagasan dari Perjanjian Lama mengenai suatu busana khusus yang harus dikenakan dalam melaksanakan ritus-ritus liturgis sungguh mempengaruhi Gereja. St Hieronimus menegaskan, “Agama Ilahi memiliki satu busana dalam pelayanan hal-hal kudus, dan busana lain dalam interaksi dan hidup sehari-hari.” Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313M, Gereja terus menyempurnakan “siapa mengenakan apa, bilamana, dan bagaimana” hingga sekitar tahun 800 ketika norma-norma liturgis perihal busana pada dasarnya distandarisasi dan tetap sama hingga pembaharuan sesudah Konsili Vatikan Kedua.

Sekarang ini, untuk perayaan Misa, seorang imam mengenakan amik, alba, single, stola dan kasula.


AMIK, Tanda Perlindungan

Amik adalah selembar kain lenan putih berbentuk segi empat dengan dua tali panjang di dua ujungnya. Imam mengenakannya sekeliling leher, menutupi bahu dan pundak, menyilangkan kedua tali di depan (membentuk salib St Andreas), dan lalu membawa tali ke belakang punggung, melilitkannya sekeliling pinggang dan mengikatkannya dengan suatu simpul. Tujuan praktis amik adalah untuk menutupi jubah biasa imam, dan untuk menyerap keringat dari kepala dan leher. Di kalangan Graeco-Romawi, amik adalah penutup kepala, seringkali dikenakan di bawah topi baja para prajurit Romawi untuk menyerap keringat, dengan demikian mencegah keringat menetes ke mata. Tujuan rohani amik adalah mengingatkan imam akan nasehat St Paulus, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef 6:17).

Doa ketika mengenakan amik:
“Tuhan, letakkanlah pelindung keselamatan pada kepalaku untuk menangkis segala serangan setan.”


ALBA, Citra Kekudusan

Alba adalah pakaian putih panjang hingga sebatas pergelangan kaki, dan memiliki lengan panjang hingga pergelangan tangan. Kata “alba” dalam bahasa Latin artinya “putih”. Alba adalah pakaian luar yang umum dikenakan di kalangan Graeco-Romawi dan mirip dengan soutane yang dikenakan di Timur Tengah. Tetapi, mereka yang berwenang mengenakan alba dengan kualitas yang lebih baik dengan aneka sulaman atau gambar. Beberapa alba modern memiliki kerah sehingga amik tidak diperlukan lagi. Tujuan rohani alba adalah mengingatkan imam akan pembaptisannya, saat kain putih diselubungkan padanya guna melambangkan kemerdekaannya dari dosa, kemurnian hidup baru, dan martabat Kristiani. Di samping itu, Kitab Wahyu menggambarkan para kudus yang berdiri sekeliling altar Anak Domba di surga sebagai “Orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (7:14). Demikian pula imam wajib mempersembahkan Misa dengan kemurnian tubuh dan jiwa, dan dengan kelayakan martabat imamat Kristus. Di beberapa negara tropis, termasuk Indonesia, jika tidak ada alba, maka dapat dipakai jubah yang berwarna putih.

Doa ketika mengenakan alba:
“Sucikanlah aku, ya Tuhan, dan bersihkanlah hatiku, agar aku boleh menikmati kebahagiaan kekal karena telah dibasuh dalam darah Anak Domba.”


SINGEL, Tali Kesucian

Singel adalah tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan / merapikan alba. Singel merupakan simbol nilai kemurnian hati dan pengekangan diri. Singel dapat berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Di kalangan Graeco-Romawi, singel adalah bagaikan ikat pinggang. Tujuan rohani singel adalah mengingatkan imam akan nasehat St Petrus, Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Pet 1:13-15).

Doa ketika mengenakan singel:
“Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.”


STOLA, Lambang Penugasan Resmi

Stola adalah semacam selendang panjang, kira-kira 4 inci (± 10 cm) lebarnya, warnanya sama dengan kasula, yang dikalungkan pada leher. Stola diikatkan di pinggang dengan singel. Stola merupakan simbol bahwa pemakainya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat). Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakannya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan. Sebelum pembaharuan Konsili Vatikan Kedua, stola disilangkan di dada imam untuk melambangkan salib. Stola juga berasal dari budaya masa lampau. Para rabi mengenakan selendang doa dengan jumbai-jumbai sebagai tanda otoritas mereka. Stola yang disilangkan juga merupakan simbolisme dari ikat pinggang bersilang yang dikenakan para prajurit Romawi: satu ikat pinggang dengan pedang di pinggang, dan ikat pinggang lainnya dengan kantong perbekalan, misalnya air dan makanan. Dalam arti ini, stola mengingatkan imam bukan hanya pada otoritas dan martabatnya sebagai imam, melainkan juga tugas kewajibannya untuk mewartakan Sabda Allah dengan gagah berani dan penuh keyakinan (“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” Ibr 4:12) dan untuk melayani kebutuhan umat beriman. Sekarang, imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan. Stola yang sempit biasanya dikenakan di dalam kasula, sedangkan stola yang lebar dikenakan di atas kasula.

Doa ketika mengenakan stola:
“Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci.”


KASULA, Lambang Cinta dan Pengorbanan

Kasula, disebut juga planeta, adalah pakaian luar yang dikenakan di atas alba dan stola. Kasula merupakan busana khas imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan. Selama berabad-abad model kasula telah mengalami beberapa perubahan dan variasi. Kasula berasal dari kata Latin “casula” yang artinya “rumah”; kasula di kalangan Graeco-Romawi serupa sebuah mantol tanpa lengan yang sepenuhnya menutupi tubuh dan melindungi si pemakai dari cuaca buruk. Tujuan rohani kasula adalah mengingatkan imam akan kasih dan pengurbanan Kristus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).

Doa ketika mengenakan kasula:
“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: `kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.' Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmatmu. Amin.”


Pada Abad Pertengahan, muncul dua interpretasi populer mengenai makna busana liturgis ini. Interpretasi yang paling umum menafsirkan busana liturgis sebagai simbol sengsara Yesus: kain yang digunakan prajurit untuk menutup muka-Nya (amik) dan jubah (alba) sementara Ia diolok-olok dan disesah; tali-temali dan belenggu (singel) yang membelenggu-Nya sepanjang penderaan; salib (stola) yang Ia panggul; dan jubah tak berjahit (kasula) yang atasnya para prajurit membuang undi. Interpretasi lain yang juga populer lebih berfokus pada busana itu dari asal-usulnya yang dari militer Romawi, yang dipandang sebagai simbol imam sebagai laskar Kristus yang berperang melawan dosa dan setan.

Pada intinya, busana-busana liturgis yang dikenakan dalam perayaan Misa memiliki dua tujuan utama. Pertama, “Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis” (Pedoman Umum Misale Romawi No. 335). Kedua, busana liturgis mengilhami imam dan semua umat beriman untuk merenungkan arti simboliknya yang kaya makna.

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: Liturgical Vestments” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
tambahan : “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Busana Liturgis”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia)
gambar : “Vestments” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 2:50:00 PM
, ,

Wahai Perjamuan Yang Mulia dan Mengagumkan

oleh St Thomas Aquinas, Imam (1225 - 1274)

Oleh sebab adalah kehendak Putra Tunggal Allah bahwa manusia ikut ambil bagian dalam keilahian-Nya, maka Ia mengenakan kodrat kita agar dengan menjadi manusia Ia dapat mengilahikan manusia. Pula, ketika Ia mengambil daging kita, Ia mempersembahkan segenap kemanusiaan-Nya itu demi keselamatan kita. Ia mempersembahkan Tubuh-Nya kepada Allah Bapa di atas altar salib sebagai kurban demi pendamaian kita. Ia mencurahkan Darah-Nya demi penebusan dan pemurnian kita, agar kita dapat ditebus dari belenggu perbudakan dan dibasuh dari segala dosa. Tetapi, demi memastikan agar kenangan akan anugerah yang demikian agung itu tetap tinggal bersama kita selamanya, Ia meninggalkan Tubuh-Nya sebagai makanan dan Darah-Nya sebagai minuman umat beriman agar disantap dalam rupa roti dan anggur.

Wahai perjamuan yang mulia dan mengagumkan, yang mendatangkan keselamatan bagi kita dan yang sarat dengan segala kemanisan! Adakah sesuatu yang memiliki nilai intrinsik lebih daripada ini? Di bawah hukum lama, daging lembu dan kambing yang dipersembahkan; tetapi di sini Kristus Sendiri, Allah yang benar, disajikan di hadapan kita sebagai makanan kita. Adakah sesuatu yang lebih mengagumkan daripada ini? Tak ada sakramen lain yang memiliki kuasa penyembuhan lebih besar daripada Ekaristi; melalui Ekaristi dosa-dosa diampuni, keutamaan-keutamaan ditingkatkan, dan jiwa diperkaya dengan aneka karunia rohani yang berlimpah. Ekaristi dipersembahkan di Gereja bagi mereka yang hidup dan yang mati, sehingga apa yang ditetapkan bagi keselamatan semua orang dapat mendatangkan manfaat bagi semuanya. Namun, pada akhirnya, tak seorang pun dapat dengan sepenuhnya mengungkapkan kemanisan sakramen ini, di mana sukacita rohani dicecap hingga ke akarnya, dan di mana kita memperbaharui kenangan akan kasih mahaunggul Kristus bagi kita seperti dinyatakan dalam sengsara-Nya.

Adalah demi menanamkan kemaharahiman kasih ini dengan lebih teguh dalam hati umat beriman, maka Tuhan kita menetapkan Sakramen Ekaristi pada Perjamuan Malam Terakhir. Sebab Ia hendak meninggalkan dunia untuk pergi kepada Bapa, setelah merayakan Paskah bersama para murid-Nya, Ia meninggalkannya sebagai kenangan abadi akan sengsara-Nya. Ekaristi adalah kegenapan dari pralambang di masa lampau dan yang teragung dari segala mukjizat-Nya, sementara bagi mereka yang akan mengalami dukacita atas kepergian-Nya, Ekaristi ditetapkan untuk menjadi suatu penghiburan yang unik, yang tinggal abadi di tengah-tengah mereka.




PERAYAAN MISA MENURUT PARA KUDUS

 “Oh, betapa misteri yang mengagumkam terjadi sepanjang Misa Kudus! … Suatu hari kelak kita akan tahu apa yang diperbuat Allah bagi kita di setiap Misa, dan karunia-karunia apa saja yang Ia persiapkan bagi kita dalam Misa. Hanya kasih ilahi-Nya yang memungkinkan karunia yang sedemikian itu dianugerahkan kepada kita… sumber kehidupan ini memancar dengan segala kemanisan dan kuasa…”
~ St Faustina Kowalska

“Tak ada yang begitu membahagiakan, begitu merasuki hati, begitu menggetarkan, begitu menguasai jiwa, seperti Misa, yang dipersembahkan di antara kita. Aku dapat ikut ambil bagian dalam Misa untuk selamanya, dan tidak menjadi lelah. Misa bukanlah sekedar kata-kata belaka; melainkan suatu tindakan yang agung. Tindakan yang paling luhur yang dapat dilakukan di dunia. Misa adalah … menghadirkan Yang Kekal.”
~ Ven. Kardinal Yohanes Henry Newman

 “Ikutlah ambil bagian dalam Misa setiap hari; maka sepanjang harimu akan berhasil baik. Segala tugas kewajibanmu akan terselenggara dengan lebih baik, dan jiwamu akan lebih dikuatkan dalam menanggung salibnya setiap hari. Misa adalah tindakan religius yang paling agung mulia; engkau tak dapat melakukan suatu pun yang dapat mendatangkan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan sekaligus mendatangkan lebih banyak manfaat bagi jiwamu selain dari ikut ambil bagian dalam Misa dengan kerap dan saleh. Misa adalah sembah sujud kesukaan para kudus.”
~ St Petrus Yulianus Eymard
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 2:32:00 PM
,

Tanda Salib

oleh: P. William P. Saunders *

Apa sesungguhnya makna Tanda Salib dan mengapa kita melakukannya?
Bilamana dan bagaimana praktek ini berasal?
~ seorang pembaca di Falls Church

Tanda Salib merupakan suatu gerakan yang indah, yang mengingatkan umat beriman pada salib keselamatan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus. Secara teknis, Tanda Salib merupakan sakramentali, suatu lambang sakral yang ditetapkan Gereja guna mempersiapkan orang untuk menerima rahmat, dan yang menguduskan suatu saat atau peristiwa. Seiring pemikiran tersebut, gerakan ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana untuk memulai dan mengakhiri doa serta Misa.

Para Bapa Gereja awali menegaskan penggunaan Tanda Salib. Tertulianus (wafat 250) menggambarkan kebiasaan membuat Tanda salib: “Dalam segala kegiatan dan gerakan, setiap kali kami datang maupun pergi, saat mengenakan sepatu, saat mandi, saat makan, saat menyalakan lilin, saat berbaring, saat duduk, dalam segala apapun yang kami lakukan, kami menandai dahi kami dengan Tanda Salib” (De corona, 30).

St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386) dalam Pengajaran Katekesenya menyatakan, “Jadi, marilah kita tanpa malu-malu mengakui Yang Tersalib. Jadikan Salib sebagai meterai kita, yang dibuat dengan mantap menggunakan jari-jari di dahi kita dan dalam segala kesempatan; atas roti yang kita makan dan cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita berbaring dan saat kita terjaga; saat kita bepergian, dan saat kita beristirahat” (Katekese, 13). Lama-kelamaan, Tanda Salib dimasukkan dalam berbagai tindakan dalam Misa, misalnya menandai diri tiga kali di dahi, bibir dan hati saat Injil hendak dibacakan atau saat menyampaikan berkat dan saat menandai roti dan anggur persembahan yang dimulai sekitar abad kesembilan.

Cara resmi paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Tanda Salib dibuat dari dahi ke dada, dan kemudian dari bahu kanan ke bahu kiri. Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah ditangkupkan sebagai lambang Tritunggal Mahakudus - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Di samping itu, ketiga jari ditangkupkan sedemikian rupa hingga melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat): jari telunjuk yang lurus melambangkan I; jari tengah saling bersilangan dengan ibu jari melambangkan X; dan jari tengah yang bengkok melambangkan C. Jari manis dan jari kelingking dilipat ke arah telapak tangan, melambangkan kesatuan kodrat manusia dan kodrat ilahi, kehendak manusia dan kehendak ilahi dalam pribadi Kristus. Cara membuat Tanda Salib seperti ini umum dilakukan di kalangan seluruh Gereja hingga sekitar abad keduabelas, tetapi hingga sekarang masih tetap dipraktekkan dalam Gereja-gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja-gereja Orthodox.

Suatu instruksi dari Paus Inosensius III (1198 - 1216) membuktikan adanya tradisi praktek tersebut, sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam praktek Gereja Katolik Ritus Latin, “Tanda Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).” Sembari memperhatikan kebiasaan membuat Tanda Salib dari bahu kanan ke bahu kiri, yang dilakukan baik oleh gereja-gereja barat maupun timur, Paus Inosensius melanjutkan, “Namun demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan, sebab dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus. [Sebagian imam] melakukannya dengan cara ini, sehingga mereka dan umat menandai diri mereka dengan cara yang sama. Kalian dapat dengan mudah membuktikannya - bayangkan imam menghadap umat untuk menyampaikan berkat - ketika kami membuat Tanda Salib atas umat, kami melakukannya dari kiri ke kanan…” Karenanya, sejak saat itu umat beriman mulai meniru imam dalam menyampaikan berkat, dari bahu kiri ke bahu kanan dengan tangan terbuka. Lama-kelamaan, praktek ini menjadi cara yang biasa digunakan dalam Gereja Barat.       

Dalam karya klasik, “Upacara-upacara Ritus Romawi” tulisan Adrian Fortescue dan J. B. O'Connell, Tanda Salib dibuat dengan cara berikut: “Letakkanlah tangan kiri dengan telapak terbuka di bawah dada. Tangan kanan terbuka juga. Pada saat menyerukan Patris [Bapa] angkatlah tangan kanan dan sentuhkan kening; saat menyerukan Filii [Putra], sentuhlah dada agak ke bawah, tetapi di atas tangan kiri; saat menyerukan Spiritus Sancti [Roh Kudus], sentuhlah bahu kiri dan kanan; saat menyerukan Amin, tangkupkan kedua tangan jika perlu.” Meskipun praktek ini telah berkembang dari bentuk asalnya dan kini masih dipraktekkan dalam Ritus Timur, tetapi telah menjadi praktek yang biasa dilakukan pula dalam Gereja Ritus Latin selama beberapa abad.  

Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan dengan khidmat dan saleh. Umat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus, dogma inti yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah ingat bahwa Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia, yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di atas altar salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar akan betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada mereka yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh sebab itu, marilah setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak dengan sembarangan ataupun ceroboh.  

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Sign of the Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 2:29:00 PM

Sabtu, 29 Desember 2012

, ,

Siapa itu Melkisedek ?

oleh: P. William P. Saunders *
Siapa itu Melkisedek?
Saya mendengar namanya disebut dalam Doa Syukur Agung pada waktu Misa.
~ seorang pembaca di Springfield

Melkisedek muncul dalam Kitab Kejadian (14:18-20). Abraham kembali dari mengalahkan Raja Kedorlaomer dan ketiga raja lainnya yang bersama-sama dengan dia. Pada waktu itulah Abraham disambut oleh Melkisedek, Raja Salem, yang juga “seorang imam Allah Yang Mahatinggi”. (Menarik disimak, kata Melkisedek berarti “raja kebenaran” dan Salem berarti “damai sejahtera”.) Melkisedek membawa roti dan anggur kepada Abraham, dan memberkatinya dengan kata-kata berikut, “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu” (Kej 14:19-20). Patut diingat bahwa roti dan anggur biasa dipersembahkan dalam kurban persembahan di antara “hasil bumi pertama” sebagai ucapan syukur kepada sang Pencipta. Meskipun Melkisedek secara teknis adalah seorang imam kafir, ia mengenal satu allah yang esa, dan menyebut-Nya sebagai, “Allah Yang Mahatinggi,” sama seperti orang Yahudi. Abraham menerima berkat dan persembahan ini, lalu memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik. Tetapi, setelah perjumpaan ini, Melkisedek hilang dari kisah Kejadian.

Melkisedek disebut kembali dalam Mazmur 110, “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: `Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek'” (Mzm 110:4). Mazmur ini dianggap sebagai salah satu mazmur Mesianik yang terpenting, yang menggambarkan Mesias yang akan datang, Tuhan kita Yesus Kristus, sebaga Raja, Imam dan Penakluk.

Mungkin St Paulus, yang menurut tradisi dianggap sebagai pengarang Surat kepada Jemaat di Ibrani, adalah promotor terbesar Melkisedek (lih Bab 5-9). St Paulus mempergunakan pribadi Melkisedek untuk menggambarkan ajaran kurban imamat seperti yang ditetapkan oleh Kristus. St Paulus memulainya dengan “Setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa” (Ibrani 5:1). Kendati kelemahan manusiawi, manusia dipanggil oleh Allah untuk menjadi seorang imam.

St Paulus kemudian memperbandingkan imamat Melkisedek dengan imamat Harun, yaitu imamat kaum Lewi. Imamat Harun berdasarkan keturunan yang berasal dari Abraham. Para imam sesudah Harun berasal dari keluarganya, dari kaum Lewi, dan ditunjuk sebagai imam karena keturunan mereka. Juga, para imam ini mempersembahkan kurban Perjanjian Lama.
Kebalikan dari imamat Lewi adalah Imamat Kristus, yang dipralambangkan oleh imamat Melkisedek. Pertama-tama, Melkisedek tidak bersilsilah dalam Perjanjian Lama, dan imamatnya tidak berdasarkan keturunan. Kristus, sama seperti Melkisedek, adalah imam karena penetapan ilahi dan imamat-Nya tidak berdasarkan pada ikatan keturunan.
Kedua, Abraham mengenali Melkisedek, raja dan imam, dengan menerima berkat dan mempersembahkan kepada Melkisedek sepersepuluhannya. Tindakan merendahkan diri yang begitu rupa ini menunjukkan bahwa imamat yang berasal dari Abraham lebih rendah tingkatannya dari imamat Melkisedek. Tindakan ini juga merupakan pratanda bahwa imamat Lewi akan digantikan oleh imamat yang lebih agung, sempurna dan rajawi, yaitu imamat Kristus.

Ketiga, Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur sebagai ucapan syukur kepada Allah, mempralambangkan apa yang dilakukan Kristus pada Perjamuan Terakhir.

Keempat, Melkisedek berasal dari “bangsa-bangsa lain”. Kristus datang untuk menyelamatkan bukan hanya dari keturunan Israel, melainkan juga segenap umat manusia dari berbagai bangsa. Di samping itu, nama dan gelar Melkisedek sendiri mengandung arti “raja kebenaran, raja damai sejahtera”; Yesus masuk ke dalam dunia guna menyatakan kebenaran dan membawa damai sejahtera.

Terakhir, Melkisedek bukanlah seorang imam dari Perjanjian Lama. Kristus sebagai imam mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa dan membuat perjanjian yang baru, sempurna serta kekal abadi dengan darah-Nya Sendiri.

Pada intinya, Surat kepada Jemaat di Ibrani menguraikan kisah Melkisedek dan menyusun suatu gambaran yang mempralambangkan Kristus, yang akan menggenapi Perjanjian Lama dan imamat.

Para Bapa Gereja perdana dengan jelas memahami serta menerima gambaran ini. St Siprianus dari Kartago (wafat thn 258) dalam Suratnya kepada Cecil, mengajarkan, “Juga dalam imam Melkisedek kita melihat Sakramen Kurban Kristus dipralambangkan, sesuai dengan yang diwartakan dalam Kitab Ilahi, di mana dikatakan, `Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram.' Melkisedek sesungguhnya serupa dengan Kristus, seperti dimaklumkan dalam mazmur oleh Roh Kudus, yang mengatakan kepada Putra, seolah dari Bapa: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.” Imamatnya pastilah yang berasal dari kurban-Nya dan yang berasal dari pada-Nya: sebab Melkisedek adalah imam Allah Yang Mahatinggi; sebab ia mempersembahkan roti, dan sebab ia memberkati Abraham. Dan siapakah yang lebih tinggi dari imam Allah Yang Mahatinggi selain daripada Tuhan kita Yesus Kristus, yang, ketika Ia mempersembahkan kurban kepada Allah Bapa, mempersembahkan persembahan yang sama seperti yang dipersembahkan Melkisedek, yaitu roti dan anggur, yang sesungguhnya adalah Tubuh dan Darah-Nya.”

St Sirilus dari Yerusalem dalam Pengajaran Katekesenya (Mystagogicæ 5) juga menyebut kurban Melkisedek sebagai “semacam” pratanda Ekaristi Kudus.

Gereja menghormati gambaran akan Melkisedek ini. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Melkisedek, `imam Allah yang Mahatinggi', dipandang oleh tradisi Kristen sebagai `pratanda' imamat Kristus, `imam besar satu-satunya menurut peraturan Melkisedek'. Kristus itu `kudus, tanpa salah, tanpa noda' dan `oleh satu kurban saja… Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan', yaitu oleh kurban di salib-Nya, satu kali untuk selamanya” (#1544). Di samping itu: “Gereja melihat di dalam tindakan Melkisedek, raja dan imam, yang membawa `roti dan anggur', satu pratanda bahan persembahannya sendiri” (# 1333). Oleh sebab itulah, dalam Doa Syukur Agung I, sesudah konsekrasi imam berdoa: “Sudilah memandang persembahan ini dengan hati yang rela dan wajah berseri; dan sudilah menerimanya seperti Engkau berkenan menerima persembahan hamba-Mu Habel dan kurban leluhur kami Abraham, dan seperti Engkau berkenan menerima kurban suci dan tak bernoda yang dipersembahkan kepada-Mu oleh Melkisedek, Imam Agung-Mu.”

* Fr. Saunders is pastor of Queen of Apostles Parish and dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College, both in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Who Was Melchizedek?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1999 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Publisher: Unknown - 6:53:00 AM

Jumat, 14 Desember 2012

,

Apakah mengabaikan misa itu dosa berat ?

Saya mengunjungi sanak-saudara sesudah Paskah; menyedihkan sekali mereka tidak ikut merayakan Misa. Saya pergi ke Misa dan mencoba mengingatkan mereka bahwa mengabaikan Misa merupakan dosa berat. Kata mereka, “Oh, itu kan dulu. Sekarang tidak ikut Misa bukan lagi dosa berat.” Bagaimana pendapat anda? Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca dari Manassas

Daripada menjawab pertanyaan di atas hanya dari sudut pandang “mengabaikan Misa adalah dosa,” pertama-tama kita patut mengingat kembali akan pentingnya Perayaan Misa. Setiap hari Minggu, kita berkumpul bersama sebagai suatu Gereja dengan hati penuh sukacita untuk beribadat kepada Allah yang Mahakuasa. Kita mengenangkan dan menyatakan iman kita sekali lagi akan misteri keselamatan kita, yaitu bahwa Yesus Kristus, Putra Allah, sengsara, wafat dan bangkit pada hari ketiga demi keselamatan kita. Peristiwa-peristiwa Kamis Putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah dirangkum sepenuhnya dan seluruhnya dalam Kurban Kudus Misa. Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sacrosanctum Concilium) Konsili Vatikan II menegaskan, “Sebab melalui Liturgilah dalam Korban Ilahi Ekaristi, `terlaksanalah karya penebusan kita'. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati.” (SC #2).

Di samping itu, dalam Perayaan Misa, setiap umat beriman Katolik diperkaya dengan rahmat yang berlimpah: Pertama, kita diberi santapan Sabda Tuhan - kebenaran Allah yang kekal, yang telah dinyatakan kepada kita dan ditulis di bawah ilham Roh Kudus. Kita kemudian menanggapi Sabda Tuhan dengan menyatakan Iman Katolik yang Kudus seperti yang diungkapkan dalam Syahadat Para Rasul, dengan mengatakan tidak saja AKU percaya “sebagai satu pribadi, melainkan aku percaya” sebagai bagian dari Gereja.

Kedua, jika kita berada dalam keadaan rahmat, maka kita beroleh kesempatan untuk menerima Kristus dalam Ekatisti Kudus. Dengan yakin kita percaya bahwa Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi Kudus, dan kita sungguh menerima Tubuh-Nya, Darah-Nya, Jiwa-Nya dan Keallahan-Nya dalam Komuni Kudus. Tidak saja Ekaristi Kudus mempersatukan kita secara intim mesra dengan Kristus, tetapi juga mempersatukan kita dengan saudara-saudara kita di seluruh Gereja universal dalam satu persekutuan. Ekaristi Kudus sungguh suatu karunia yang luar biasa agung!

Dengan pemahaman ini, jangan seorang pun berpikir bahwa menghadiri Misa hanyalah untuk memenuhi kewajiban. Ikut ambil bagian dalam Perayaan Misa merupakan suatu hak istimewa, dan karenanya semua umat beriman Katolik sepatutnya rindu untuk ambil bagian di dalamnya. Yang ada di benak kita janganlah “Aku wajib melakukannya”; melainkan, selayaknya kita berpikir “Aku rindu melakukannya.”

Namun demikian, karena Perayaan Misa menawarkan karunia yang begitu berharga, menyediakan kelimpahan rahmat yang luar biasa, dan mempersatukan kita semua sebagai satu Gereja, kita sungguh mempunyai kewajiban kudus untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Ingat bahwa perintah ketiga dalam Sepuluh Perintah Allah adalah, “Kuduskanlah hari Tuhan.” Bagi bangsa Yahudi, hari Sabat dalam Perjanjian Lama adalah hari Sabtu, sebagai tanda akan “hari istirahat” setelah penciptaan. Bagi umat Kristiani, kita selalu menguduskan hari Minggu, hari kebangkitan Tuhan. Sama seperti penciptaan dimulai pada hari pertama dalam minggu dengan perintah Tuhan, “Jadilah terang,” demikian juga Kristus, sang Terang yang datang untuk menghalau kegelapan dosa dan maut, bangkit dari antara orang mati pada hari pertama dalam minggu, sebagai tanda akan ciptaan yang baru.

Mengingat betapa agungnya Misa dan juga seturut teladan Perjanjian Lama yang dengan tepat diteruskan oleh Gereja, Kitab Hukum Kanonik (CIC # 1246) menetapkan, “Pada hari Minggu menurut tradisi apostolik dirayakan misteri paskah, maka harus dipertahankan sebagai hari raya wajib yang primordial di seluruh Gereja.” Lagipula, “Pada hari Minggu dan pada hari-hari raya wajib lainnya orang-orang beriman berkewajiban untuk ambil bagian dalam Misa.” (# 1247). Oleh sebab itu, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Barangsiapa melalaikan kewajiban ini dengan sengaja, melakukan dosa berat.” (# 2181). Baru-baru ini, Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, mengulang kembali perintah gereja ini dalam surat apostoliknya Dies Domini (Menghormati dan Merayakan Hari Tuhan, # 47, 1998).

Tentu saja, ada situasi-situasi khusus di mana orang dibebaskan dari kewajiban merayakan Misa, misalnya, jika seseorang sakit, dalam keadaan gawat darurat, atau tidak dapat ikut serta dalam Misa tanpa menanggung suatu beban yang berat. Seorang imam dapat juga memberikan dispensasi kepada seseorang dari kewajiban merayakan Misa oleh karena suatu alasan yang serius. Misalnya, tak seorang pun, termasuk Tuhan sendiri, mewajibkan seseorang merayakan Misa padahal orang tersebut sakit parah hingga tak mungkin pergi menghadiri Misa; tak ada keutamaan yang dapat diperoleh dengan memperburuk kondisi kesehatannya sendiri, sekaligus menulari orang-orang lain dalam Gereja. Atau, dalam hal terjadi serangan badai, seseorang haruslah menimbang dengan bijaksana apakah ia dapat melakukan perjalanan dengan aman untuk merayakan Misa tanpa membahayakan dirinya sendiri sekaligus membahayakan nyawa orang lain. Ketika situasi-situasi sulit seperti itu terjadi, yang menghalangi seseorang merayakan Misa, maka orang tersebut wajib meluangkan waktu untuk berdoa, mendaraskan doa-doa dan membaca bacaan-bacaan Kitab Suci yang dibacakan pada hari itu, atau menyaksikan perayaan Misa di televisi dan setidak-tidaknya ikut ambil bagian dalam roh / semangat. Ingatlah bahwa ketika situasi-situasi sulit seperti di atas terjadi, orang tidaklah berdosa berat jika ia melewatkan Misa.

Dalam menimbang pertanyaan tersebut, orang haruslah merenungkan dengan sungguh akan betapa berharganya Misa dan Ekaristi Kudus. Setiap hari, umat beriman Katolik di Republik Rakyat Cina mengambil resiko kehilangan kesempatan dalam bidang pendidikan dan ekonomi, dan bahkan resiko kehilangan nyawa mereka sendiri agar dapat ikut ambil bagian dalam Misa. Di daerah-daerah misi, orang harus melakukan perjalanan bermil-mil jauhnya untuk merayakan Misa. Mereka rela mengambil resiko dan rela menanggung pengorbanan itu sebab mereka sungguh percaya akan Misa dan akan kehadiran Kristus dalam Ekaristi Kudus.

Ketika seseorang dengan sengaja mengabaikan Misa untuk pergi shopping, menyelesaikan pekerjaan, tidur beberapa jam lebih lama, menghadiri pesta atau acara ramah-tamah, atau berekreasi, orang tersebut mengijinkan sesuatu mengambil alih tempat Tuhan. Sesuatu itu menjadi lebih berharga daripada Ekaristi Kudus. Sayangnya, saya mengenal keluarga-keluarga yang dapat berjalan kaki saja ke Gereja, tetapi memilih untuk tidak ikut merayakan Misa; ironisnya, mereka menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Katolik. Ya, perilaku demikian sungguh mencerminkan sikap acuh tak acuh terhadap Tuhan dan dengan demikian orang melakukan dosa berat.

Tuhan haruslah mendapat tempat utama dalam hidup kita. Pada hari Minggu, kewajiban utama kita adalah beribadat kepada Tuhan dalam Misa Kudus sebagai suatu gereja dan kita akan diperkaya dengan rahmat-Nya. The Didascalia, sebuah tulisan dari abad ketiga mendesak kita, “Tinggalkan segala sesuatu pada Hari Tuhan dan dengan saleh bergegaslah menuju pertemuan jemaatmu, sebab itulah ibadatmu kepada Tuhan. Jika tidak, alasan apakah yang dapat mereka sampaikan kepada Tuhan, mereka yang tidak berkumpul bersama pada Hari Tuhan untuk mendengarkan Sabda Kehidupan dan menerima Santapan Ilahi yang tak akan berakhir selamanya?” Ya, sungguh, alasan apakah yang dapat mereka sampaikan?         

* Fr. Saunders is pastor of Queen of Apostles Church in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Is Missing Mass a Mortal Sin?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1999 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 11:39:00 AM

Selasa, 27 November 2012

,

Santa Perawan Maria Dari Medali Wasiat



27 NOVEMBER : SP MARIA DARI MEDALI WASIAT


Inilah lambang karunia yang kulimpahkan kepada orang-orang yang memintanya kepadaku. Barang-siapa mengenakannya akan menerima karunia yang besar.”
~ Pesan Bunda Maria kepada St. Katarina Laboure


Tengah malam Katarina Laboure dibimbing ke Kapel. Di sana ia berbicara dengan Bunda Allah. Dengan cara yang amat menyentuh hati, ia menikmati kasih sayang serta perhatian Bunda Maria yang ditujukan bagi semua orang, terutama mereka yang bertaut kepada Putera-nya dan menyebut dirinya Kristen.

Medali Wasiat yang dianugerahkan kepada kita menjadi tanda kasih sayang serta pemeliharaan yang ditawarkan Bunda Maria kepada kita semua. Mengenakan Medali Wasiat berarti menerima tawaran kasihnya.  

Tanggal 18 Juli 1830 jam setengah dua belas malam terbangunlah Sr Katarina. Dengan jelas ia mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya hingga tiga kali, “Suster Laboure!” Tampaklah seorang anak kecil kira-kira berumur empat atau lima tahun yang berkata kepadanya, “Mari kita pergi ke gereja, Santa Maria menunggumu.”

Sr Katarina menjawab: "Kita akan ketahuan."

Anak itu tersenyum, "Jangan khawatir, sekarang ini jam setengah dua belas, semua orang sudah tidur ...ayolah, aku menunggumu."

Sr Katarina segera bangkit dan bersiap-siap lalu pergi bersama anak itu yang selalu ada di sebelah kirinya dengan memancarkan sinar yang terang benderang. Pintu kapel yang terkunci langsung terbuka oleh sentuhan anak kecil itu. Sr Katerina amat takjub: di dalam gereja semua lilin dan lampu telah menyala, seolah-olah akan dipersembahkan Misa tengah malam. Anak itu menuntunnya ke altar. Kira-kira setengah jam lamanya Sr Katarina berlutut di sana, ketika tiba-tiba terdengar olehnya gemerisik gaun sutera. Anak itu berbisik, “Santa Maria ingin berbicara kepadamu”.

Di sebelah altar turunlah Santa Maria. Setelah berlutut di hadapan tabernakel, Bunda Maria duduk di kursi Pastor. “Dengan satu langkah saja,” kata Sr Katarina, “aku berada di dekatnya. Tanganku bertumpu di atas lutut Santa Maria. Itulah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku.” Santa Maria bercakap-cakap dengan Sr Katarina selama dua jam mengenai tugas yang hendak diberikan Tuhan kepada Sr Katarina  serta kesulitan-kesulitan yang bakal dialaminya dalam mengerjakan tugas tersebut. Setelah Santa Maria pergi, anak kecil itu mengantarkan Sr Katarina kembali ke ruang tidur. Terdengarlah lonceng berbunyi dua kali tetapi Sr Katarina tidak dapat tidur lagi.

Tanggal 27 November 1830 jam setengah enam sore, Sr Katarina dan para suster pergi ke Kapel untuk bermeditasi. Samar-samar terdengar gemerisik gaun sutera. Sr Katarina mengarahkan pandangannya ke altar dan di sana ia melihat Santa Perawan Maria berdiri di atas sebuah bola besar. Gaun sutera Maria bersinar kemilau. Kerudung putihnya panjang hingga ke kaki. Di bawah kerudung kepalanya, ia mengenakan sehelai renda untuk mengikat rambutnya. Sebuah bola emas dengan salib di atasnya ada ditangannya. Santa Maria menengadah mohon berkat Tuhan bagi benda itu. Lalu tampaklah pada jari-jemarinya cincin permata yang beraneka warna dan sangat indah. Permata ini memancarkan sinar gilang-gemilang. Limpahan kemulian demikian terang hingga bola besar tempat Maria berpijak tidak tampak lagi. Sr Katarina mengerti bahwa sinar cahaya melambangkan rahmat yang dilimpahkan bagi mereka yang mencarinya; mutiara-mutiara di jari-jemari Bunda Maria yang tidak memancarkan sinar melambangkan rahmat bagi jiwa-jiwa yang lupa memintanya. Kemudian bola itu menghilang. Tangan Maria terentang ke bawah dan terbentuklah suatu bingkai yang lonjong dengan kata-kata mengelilingi kepalanya: “O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.”  

Santa Perawan Maria berkata, “Inilah lambang karunia yang kulimpahkan kepada orang-orang yang memintanya kepadaku. Suruhlah membuat sebuah medali menurut bentuk ini. Barangsiapa mengenakannya akan menerima karunia yang besar, terutama jika medali ini dikenakan pada lehernya.” Kemudian berbaliklah gambar tersebut dan tampaklah gambar bagian belakang medali. Yaitu huruf “M” dengan sebuah salib di atasnya. Huruf M terletak di atas sebuah palang di mana di bawahnya terdapat dua buah hati. Hati yang pertama dilingkari mahkota duri - hati Yesus. Hati yang kedua tertusuk pedang - hati Maria. Penjelasannya amat sederhana. Kita umat Kristen telah ditebus oleh Tuhan yang telah disalibkan di hadapan ibu-Nya, Maria Ratu Para Martir. Dua belas bintang mengelilingi penampakan tersebut.

Sr Katarina bertanya bagaimana ia dapat mengusahakan medali itu dibuat. Bunda Maria mengatakan bahwa ia harus pergi kepada Bapa Pengakuannya, Pastor Jean Marie Aladel karena: "Ia adalah hambaku." Pada mulanya Pastor Aladel tidak dapat percaya akan apa yang dikatakan Sr Katarina, namun demikan, setelah dua tahun berlalu, ia pergi juga kepada Uskup Agung Quelen di Paris. Tanggal 20 Juni 1832 Uskup Agung Quelen memerintahkan agar segera dibuat 2000 Medali.

Ketika Sr Katarina menerima medalinya, ia berkata, "Sekarang medali ini harus disebarluaskan." Devosi kepada medali yang dianjurkan oleh Sr Katarina secara ajaib menyebar dengan cepat. Pertobatan dan mukjizat-mukjizat yang terjadi melalui Medali Santa Perawan Maria tak terhitung banyaknya. Sehingga, nama resmi yang diberikan kepada  medali tersebut "Medali dari Yang Dikandung Tanpa Dosa"  segera dilupakan orang. Mereka lebih suka menyebutnya Miraculous Medal (Medali Ajaib) atau di Indonesia disebut Medali Wasiat.

Pada tahun 1836 Komisi Khusus yang ditunjuk oleh Bapa Uskup Agung menyatakan bahwa penampakan Santa Perawan Maria di Kapel Biara Puteri-Puteri Kasih di 140 Rue du Bac, Paris, Perancis adalah benar.

Kita pun diberi keistimewaan untuk mengenakan Medali Wasiat. Mengenakannya berarti menerima tawaran perlindungan Bunda Maria yang membawa kuasa Putera-nya, Yesus Kristus ke dalam hidup kita.

"O Maria, yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.” 
 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 4:21:00 AM

Minggu, 25 November 2012

,

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Raja Semesta Alam



HR Yesus Kristus Raja Semesta Alam merupakan minggu terakhir dalam kalendarium liturgi sebelum memasuki tahun baru / Masa Adven. Sebagaimana terjadi pada peristiwa akhir, yaitu orang sering mengadakan refleksi atau evaluasi, marilah kita juga mengevaluasi dan berrefleksi atas diri kita masing-masing: panggilan, tugas perutusan dst. Adakah perkembangan atau pemantapan, peningkatan dalam hidup beriman, hidup manusiawi, karya / pegawai atau panggilan (berkeluarga, imam dan biarawan)? Apakah kita semakin dikuasai dan dirajai oleh Raja Yesus Kristus, sehingga memiliki `budaya Raja Yesus Kristus': cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak Yesus Kristus, dan bukan dengan caranya sendiri alias `sak penake wudhele dewe', menurut selera sendiri.

Sebagai anggota tarekat / lembaga hidup bakti, sejauh mana saya semakin dijiwai oleh kharisma atau spiritualitas pendiri. Sebagai suami-isteri yang menyatu karena dan oleh cinta-kasih, sejauh mana semakin mengasihi sehingga berdua nampak bagaikan `anak kembar'. Sebagai pegawai atau karyawan semakin terampil dalam bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan dan pelayanan masing-masing serta menghayati visi-misi unit / lembaga kerja di mana saya berada. Sebagai pelajar atau mahasiswa semakin mahir dalam belajar yang nampak dalam nilai-nilai akhir semester atau akhir tahun yang selalu naik meskipun hanya sedikit, dst. Dengan kata lain, pada akhir tahun liturgi ini marilah kita mawas diri apakah perjalanan setahun yang telah lewat sungguh bermanfaat dan berdaya-guna bagi hidup, keselamatan, kesejahteraan, panggilan atau tugas perutusan kita. Apakah kita juga sanggup menanggapi secara positif ajakan Sang Raja: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Hari ini di manapun berada, apapun yang kita kerjakan… ingat bahwa kita berada di Taman Firdaus.
P. Ign. Sumarya, S.J.
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 5:48:00 AM

Kamis, 15 November 2012

Sacrosanctum Concilium no 21

PEMBAHARUAN LITURGI

Supaya lebih terjaminlah bahwa Umat kristiani memperoleh rahmat berlimpah dalam Liturgi suci, Bunda Gereja yang penuh kasih ingin mengusahakan dengan seksama pembaharuan umum Liturgi sendiri. Sebab dalam Liturgi terdapat unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah, maupun unsur-unsur yang dapat berubah, yang disepanjang masa dapat atau bahkan mengalami perubahan, sekiranya mungkin tel;ah disusupi hal-hal yang kurang serasi dengan inti kakekat Liturgi sendiri, atau sudah menjadi kurang cocok.
Adapun dalam pembaharuan itu naskah-naskah dan upacara-upacara harus diatur sedemikian rupa, sehingga lebih jelas mengungkapkan hal-hal kudus yang dilambangkan. Dengan demikian Umat kristiani sedapat mungkin menangkapnya dengan mudah, dan dapat ikut serta dalam perayaan secara penuh, aktif dan dengan cara yang khas bagi jemaat.
Maka Konsili suci menetapkan norma-norma berikut yang lebih bersifat umum.
Publisher: Unknown - 7:02:00 AM
,

Sejarah Gereja Katolik

Sejarah Gereja Katolik meliputi rentang waktu selama hampir dua ribu tahun. Sejarah Gereja Katolik merupakan bagian integral Sejarah kekristenan secara keseluruhan. Istilah Gereja Katolik yang digunakan secara khusus untuk menyebut Gereja yang didirikan di Yerusalem oleh Yesus dari Nazaret (sekitar tahun 33 Masehi) dan dipimpin oleh suatu suksesi apostolik yang berkesinambungan melalui Santo Petrus Rasul Kristus, dikepalai oleh Uskup Roma sebagai pengganti St. Petrus, yang kini umum dikenal dengan sebutan Paus.
"Gereja Katolik" diketahui pertama kali digunakan dalam surat dari Ignatius dari Antiokhia pada tahun 107, yang menulis bahwa: "Di mana ada uskup, hendaknya umat hadir di situ, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, Gereja Katolik hadir di situ."
Di pusat doktrin-doktrin Gereja Katolik ada Suksesi Apostolik, yakni keyakinan bahwa para uskup adalah para penerus spiritual dari keduabelas rasul mula-mula, melalui rantai konsekrasi yang tak terputus secara historis. Perjanjian Baru berisi peringatan-peringatan terhadap ajaran-ajaran yang sekedar bertopengkan Kekristenan, dan menunjukkan bahwa para pimpinan Gereja diberi kehormatan untuk memutuskan manakah yang merupakan ajaran yang benar. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja Katolik adalah keberlanjutan dari orang-orang tetap setia pada kepemimpinan apostolik (rasuli) dan episkopal (Keuskupan) serta menolak ajaran-ajaran palsu.

Dikutip dari : www.imankatolik.or.id
Publisher: Unknown - 6:53:00 AM

Selasa, 13 November 2012

Aspergilum



ASPERGILUM, berasal dari bahasa Latin “aspergere” yang berarti “mereciki”, adalah sebatang tongkat pendek, di ujungnya terdapat sebuah bola logam yang berlubang-lubang, dipergunakan untuk merecikkan air suci pada orang atau benda dalam Asperges dan pemberkatan. Bejana Air Suci adalah wadah yang dipergunakan untuk menampung air suci; ke dalamnya aspergilum dicelupkan.
 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 6:41:00 PM

Reliquary





WADAH RELIKUI adalah bejana di mana relikui disegel dan disimpan. Sebagian besar relikui-relikui kecil disimpan dalam suatu wadah bundar dengan gagang dan kaki, serupa montrans kecil. Relikui tidak boleh dipertontonkan untuk penghormatan umat beriman terkecuali jika ditempatkan dalam wadah reliqui.
 
Dikutip dari : yesaya,indocell.net
Publisher: Unknown - 6:39:00 PM

Piala



PIALA, dalam bahasa Latin disebut “calix” yang berarti “cawan”, adalah yang tersuci di antara segala bejana. Piala adalah cawan yang menjadi wadah anggur untuk dikonsekrasikan, dan sesudah konsekrasi menjadi wadah Darah Mahasuci Kristus. Piala harus dibuat dari logam mulia. Piala melambangkan cawan yang dipergunakan Tuhan kita pada Perjamuan Malam Terakhir di mana Ia untuk pertama kalinya mempersembahkan Darah-Nya; piala melambangkan cawan Sengsara Kristus (“Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku,” Mrk 14:36); dan yang terakhir, piala melambangkan Hati Yesus, dari mana mengalirlah Darah-Nya demi penebusan kita. 
 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 6:34:00 PM