yesaya.indocell.net
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Januari 2013
Cerita, Renungan
Pandanglah Aku Di Salib
dikutip dari: Pintu ke Surga, Pesan-pesan Kasih Yesus
Pandanglah
Aku di Salib… Jadi, Aku tidak membuatmu jijik dalam keadaan ini?
Kejijikan manusia, jauh dari Bapa, sendirian, dengan beban dosa-dosa,
disalibkan pada Salib… Masih dapatkah engkau memandang pada-Ku dengan
penuh kepercayaan, penuh pengharapan dan keyakinan bahwa Aku adalah
Tuhan-mu dan Mempelai-mu?... Semua orang telah meninggalkan-Ku dalam
kebingungan mereka atas keterpurukan-Ku. Dua atau tiga jiwa yang setia
memandang pada-Ku dengan airmata di pelupuk mata… BundaKu, BundaKu
terkasih!... Murid yang begitu Aku kasihi, Maria Magdalena, dan engkau
bersama mereka… Aku mengenalimu dan Aku merasa bahagia, tetapi di
manakah yang lainnya? Di manakah Petrus, Batu Karang, yang topan badai
tidak akan menguasainya? Di manakah Gereja-Ku yang baru yang akan segera
muncul dari Luka ungu di Hati-Ku yang siap ditikam oleh prajurit? Ia
akan muncul sebagai bunga yang terindah di Firdaus, yang dikandung dari
Kasih dan diberi makan dengan Tubuh-Ku dan Darah-Ku yang akan terus
tercurah bagi Gereja hingga akhir waktu, sebagaimana Aku lakukan pada
saat ini.
Senin, 31 Desember 2012
Cerita
Anjing Religius Ikut Misa Tiap Pekan
Ini
kisah tentang seekor anjing yang religius. Adalah Preta, seekor anjing
di Portugal, sanggup berjalan menempuh jarak 26 kilometer setiap minggu
untuk bisa mengikuti misa (kebaktian).
Setiap
hari Minggu selama tiga tahun terakhir ini, Preta, jenis anjing Pooch
yaitu jenis anjing yang bertubuh tambun dan pendek serta berhidung
pesek, pergi meninggalkan rumah tuannya di sebuah kota di daerah
Sobrado, bagian utara Portugal, pada jam 5 pagi.
Begitu dilaporkan harian Correeio da Manha
awal pekan ini. Bekas anjing jalanan ini berjalan sendirian menuju ke
sebuah gereja di daerah kawasan Ermesinde untuk menghadiri misa pada
pukul 07:30 dan berada di tempat favoritnya di dalam gereja yakni di
samping altar. Pada saat jemaat berdiri atau duduk, Preta juga melakukan
hal yang serupa. Ketika misa usai biasanya ia kembali pulang berjalan
kaki, namun kadangkala ia ikut menumpang pulang naik mobil orang-orang
yang dikenalnya. Jumlah jemaat gereja tersebut saat ini meningkat karena
banyak orang yang ingin melihat kehadiran anjing tersebut. (Ant, Rtr)
Sumber: Harian Surabaya Post, Rabu, 11 Juli 2001, halaman 5
Publisher:
Unknown
- 5:34:00 PM
Sabtu, 29 Desember 2012
Artikel, Cerita
Dalam
salah satu surat kepada Padre Agostino, tertanggal 18 Januari 1912,
Padre Pio menulis, “Iblis tak hendak kalah dalam pertempuran ini. Ia
mengenakan berbagai macam rupa. Sudah beberapa hari ini, ia menampakkan
diri bersama saudara-saudaranya yang bersenjatakan tongkat dan
batang-batang besi. Salah satu kesulitannya adalah mereka menampakkan
diri dalam berbagai penyamaran. Beberapa kali mereka mencampakkanku dari
tempat tidur dan menyeretku keluar dari kamar. Walau demikian, aku
tetap sabar; aku tahu bahwa Yesus, Bunda Maria, malaikat pelindungku, St
Yosef dan St Fransiskus senantiasa bersamaku.”
Surat
kepada Padre Agostino, tertanggal 5 November 1912, “Padre terkasih,
karena kemurahan Tuhan, ini adalah suratku yang kedua untukmu, dan
serupa dengan yang pertama. Aku yakin bahwa Padre Evangelista telah
memberitahukan kepadamu perihal pertempuran baru yang dilancarkan oleh
roh-roh jahat, roh-roh yang murtad, atasku. Padre, mereka tak dapat
menang karena kegigihanku. Perlu kukatakan kepadamu mengenai
jebakan-jebakan yang mereka pasang bagiku, dan bagaimana mereka berusaha
membujukku agar mengabaikan nasehat-nasehatmu. Surat-suratmu merupakan
satu-satunya penghiburan bagiku; dan aku memuliakan Tuhan karena
surat-surat itu mengacaukan roh-roh jahat. Tak dapat kuceritakan
kepadamu bagaimana hebatnya mereka menyerangku. Terkadang, aku pikir aku
akan mati. Sabtu yang lalu aku pikir mereka sungguh hendak membunuhku,
dan aku tidak tahu kepada orang kudus yang mana aku harus memohon
pertolongan. Aku berpaling kepada malaikatku, tetapi ia sengaja
berlambat. Pada akhirnya, ia datang terbang sekelilingku dan memadahkan
puji-pujian kepada Tuhan dengan suara malaikatnya. Kemudian, terjadilah
satu dari peristiwa yang biasa terjadi: aku menegurnya dengan keras
karena keterlambatannya, sementara aku memanggilnya dengan sungguh
memohon pertolongan. Guna menghukumnya, sengaja aku tak mau bertatap
muka dengannya, ingin agar ia menjauh dariku. Tetapi makhluk malang itu
akhirnya meluluhkan hatiku dengan menangis, dan ketika aku menatapnya,
aku mengerti bahwa ia sungguh menyesal.”
Surat
kepada Padre Agostino, tertanggal 18 November 1912, “Musuh tak hendak
membiarkanku tenang; terus-menerus ia menyerangku. Ia berusaha meracuni
hidupku dengan jebakan-jebakan setan. Pastilah ia sedih sebab aku
menceritakan kenyataan-kenyataan ini kepadamu, padahal ia menyuruhku
untuk merahasiakannya darimu. Ia mengatakan padaku untuk menceritakan
kepadamu hanya kunjungan-kunjungan baik yang aku terima; sesungguhnya ia
mengatakan bahwa engkau hanya menyukai cerita-cerita yang demikian.
Pastor telah diberitahu mengenai pertempuran yang kuhadapi melawan
roh-roh jahat ini, dan mengenai surat-suratmu, ia menyarankan agar aku
membuka surat hanya di hadapannya. Sebab itu, ketika suratmu yang
pertama tiba, aku pergi membukanya di kantornya. Tetapi, begitu aku
membuka surat di hadapan Pastor, kami mendapati bahwa seluruh surat
ternoda dengan tinta. Apakah ini balas dendam si iblis? Aku tak percaya
bahwa engkau mengirimkan surat dalam keadaan demikian kepadaku,
teristimewa karena engkau tahu bahwa penglihatanku kurang baik. Pada
mulanya kami tak dapat membaca surat itu, lalu kami menempatkan sebuah
salib di atasnya, dan barulah kami dapat membaca, setidak-tidaknya
sebagian dari isinya.”
Surat
kepada Padre Agostino, tertanggal 13 Februari 1913, “Sekarang, duapuluh
dua hari telah berlalu sejak Yesus mengijinkan setan melampiaskan
murkanya atasku. Padre, sekujur tubuhku memar karena hajaran yang aku
terima hingga sekarang ini dari musuh kita. Beberapa kali terjadi,
mereka bahkan merobek pakaianku agar mereka dapat menghajar langsung ke
dagingku.”
Surat
kepada Padre Benedetto, tertanggal 18 Maret 1913, “Setan-setan ini tak
kunjung henti menganiayaku, bahkan menjungkirkanku dari tempat tidur.
Mereka bahkan merobek pakaianku guna menghajarku! Tetapi sekarang mereka
tak lagi menakutkanku. Yesus mengasihiku, kerapkali Ia mengangkatku dan
membaringkanku kembali di atas tempat tidur.”
Setan
melampaui segala batas kelicikan tipu muslihat ketika ia datang kepada
Padre Pio dengan menyamar sebagai seorang peniten. Padre Pio
menceritakannya sebagai berikut, “Suatu hari, sementara aku sedang
mendengarkan pengakuan dosa, seorang laki-laki datang ke kamar pengakuan
di mana aku berada. Ia tinggi, tampan, pakaiannya anggun; ia halus budi
bahasanya dan sopan. Ia mulai mengakukan dosa-dosanya yang bermacam
ragamnya: menentang Tuhan, menentang manusia dan menentang moral. Segala
dosa-dosanya itu sungguh teramat menjijikkan! Aku bingung demi
mendengar segala dosa yang ia katakan kepadaku, tetapi aku menanggapinya
dengan Sabda Tuhan, teladan Gereja, dan teladan para kudus. Namun,
peniten yang misterius ini menyanggahku kata demi kata, membenarkan
dosa-dosanya, senantiasa dengan kefasihan dan kesopanan yang luar biasa.
Ia membenarkan diri atas segala dosanya, membuatnya kedengaran normal
dan biasa, bahkan logis pada tingkat manusia. Ia juga bersikap demikian
terhadap dosa-dosa mengerikan melawan Tuhan, Santa Perawan, dan para
kudus, senantiasa menggunakan argumentasi kurang ajar yang
berputar-putar. Ia meneruskannya bahkan dengan dosa-dosa busuk yang
hanya muncul dalam benak seorang yang paling berdosa. Jawaban-jawaban
yang disampaikannya kepadaku dengan kehalusan budi bahasa yang keji
sungguh mencengangkanku. Aku bertanya-tanya: siapakah dia ini? Dari
latar belakang apakah ia berasal? Dan aku berusaha memandangnya guna
membaca sesuatu pada wajahnya. Pada saat yang sama, aku juga memusatkan
diri pada setiap kata yang ia ucapkan, berusaha menemukan suatu petunjuk
mengenai identitasnya. Tetapi, sekonyong-konyong, melalui terang batin
yang jelas dan nyata, aku mengenalinya dengan pasti siapa dia. Dengan
suara penuh wibawa aku berkata kepadanya, `Katakan Hidup Yesus, Hidup
Maria!' Segera setelah aku mengucapkan nama-nama manis yang penuh kuasa
ini, seketika itu juga setan lenyap dalam suatu percikan api,
meninggalkan bau busuk yang tak tertahankan.” (Padre Pierino adalah imam
sekaligus anak rohani Padre Pio yang pada waktu itu ada di sana).
Padre
Pierino menceritakan kisahnya, “Suatu hari, Padre Pio sedang dalam
kamar pengakuan, tersembunyi di balik dua tirai. Tirai kamar pengakuan
tidak tertutup rapat dan aku berhasil melihat Padre Pio. Antrian orang
ada di satu sisi, semuanya dalam satu barisan. Dari tempat di mana aku
berada, aku membaca Brevir dan, terkadang aku mendongakkan kepala untuk
melihat Padre. Dari kapel, lewat pintu, datang seorang laki-laki. Ia
tampan, dengan mata yang hitam kecil, rambut abu-abu, mengenakan setelan
jas gelap dan celana panjang bergaris. Aku tak ingin orang itu
mengganggu konsentrasiku, jadi aku terus mendaraskan Brevir; tetapi
suara batinku mengatakan: `Berhenti dan lihatlah!' Aku berhenti dan
melihat Padre Pio. Orang itu berjalan mondar-mandir dan tanpa menunggu
giliran, berhenti tepat di depan kamar pengakuan setelah peniten
sebelumnya keluar. Segera ia melewati tirai dan berdiri tegak di hadapan
Padre Pio. Kemudian sesudahnya aku tidak melihat laki-laki berambut
gelap itu lagi. Beberapa menit kemudian aku melihat laki-laki itu jatuh
terjengkang di atas lantai. Di atas kursi pengakuan, di mana tadinya
Padre Pio duduk, aku tak melihat Padre Pio lagi, melainkan Yesus. Ia
berambut pirang, muda dan tampan; Ia memandang pada orang yang jatuh di
lantai. Lalu, lagi, aku melihat Padre Pio keluar dari sana. Ia kembali
duduk di tempatnya dan penampilannya membaur dengan penampilan Yesus.
Lalu, aku hanya melihat Padre Pio. Segera aku mendengar suaranya,
`Marilah cepat sedikit, saudara-saudara.' Dan tak seorang pun melihat
hal ini terjadi! Semuanya memulai giliran mereka kembali.”
St Padre Pio dan Pergulatannya dengan Setan
Salah satu kontak pertama Padre Pio
dengan penguasa kegelapan terjadi pada tahun 1906. Suatu malam, Padre
Pio tiba kembali ke Biara Santo Elia dari Pianisi. Ia tak dapat tidur
malam itu karena hawa musim panas yang menyengat. Terdengar
langkah-langkah kaki seseorang yang datang dari suatu ruangan dekat
sana. Pikirnya, “Tampaknya, Biarawan Anastasio juga tak dapat tidur.”
Padre Pio bermaksud memanggilnya agar mereka dapat duduk dan
bercakap-cakap sejenak. Maka, ia pergi ke jendela dan berusaha memanggil
rekannya, namun tak ada suara yang keluar. Di salah satu jendela dekat
sana, ia melihat seekor anjing yang sangat besar. Sesudahnya, dengan
kengerian dalam suaranya, Padre Pio menceritakan, “Aku melihat anjing
besar itu masuk melalui jendela; dari mulutnya keluar asap. Aku terjatuh
ke atas tempat tidur dan mendengar suara yang berasal dari anjing itu
mengatakan, `dia, dialah itu.' Sementara aku masih di tempat tidur,
binatang itu meloncat ke jendela, dan lalu ke atas atap dan kemudian
menghilang.”
Iblis
menyerang Padre Pio dengan berbagai macam cara. Padre Augustine juga
menegaskan bahwa iblis menampakkan diri kepada Padre Pio dalam berbagai
macam rupa. “Iblis menampakkan diri sebagai gadis-gadis muda yang
menari-nari telanjang, sebagai salib, sebagai seorang pemuda sahabat
para biarawan, sebagai bapa rohani atau sebagai bapa provincial, sebagai Paus Pius X, sebagai malaikat pelindung, sebagai St Fransiskus
dan sebagai Santa Perawan.” Iblis juga menampakkan diri dalam rupanya
yang menyeramkan dengan disertai suatu bala tentara roh-roh jahat. Ada
kalanya iblis menghampiri Padre Pio tanpa penampakan, melainkan dengan
suara ribut yang memekakkan telinga, dengan semburan ludah, dll. Padre
Pio berhasil membebaskan diri dari serangan-serangan iblis ini dengan
menyerukan Nama Yesus.
Pertempuran
antara Padre Pio dan setan menjadi semakin sengit apabila Padre Pio
membebaskan orang-orang yang kerasukan setan. Padre Tarcisio dari
Cervinara mengatakan, “Lebih dari sekali, sebelum meninggalkan tubuh
orang yang kerasukan, iblis berteriak, `Padre Pio, engkau menimbulkan
lebih banyak masalah bagi kami daripada St Mikhael'; atau `Padre Pio,
janganlah mencuri tubuh orang-orang dari kami, maka kami tak akan
mengganggumu.'”
Padre Pio menggambarkan serangan-serangan iblis dalam banyak suratnya yang ditujukan kepada para bapa rohaninya:
Berikut adalah wawancara Andrea Monda dengan P Gabriel Amorth, pakar eksorsisme Gereja Katolik, mengenai aniaya setan yang dialami Padre Pio.
AM
|
:
|
Di samping jutaan pengagumnya, bukankah Padre Pio juga mempunyai banyak musuh?
|
GA
|
:
|
Padre
Pio sangat dicintai, tetapi ia juga menderita penganiayaan dari
musuh-musuh yang mengerikan. Saya tidak berbicara mengenai musuh
manusia, yang mungkin sesat karena dusta, prasangka ataupun salah paham.
Musuh Padre Pio yang sesungguhnya adalah roh-roh jahat yang
mengepungnya. Tidak seperti yang diberitakan beberapa laporan, Padre Pio
senantiasa menghormati serta menjunjung tinggi para superiornya; ia
senantiasa taat kepada mereka, walau seringkali ketaatan itu harus
dibayar dengan pengorbanan besar dari pihaknya. Pertempuran yang sengit
dan terus-menerus dalam hidup Padre Pio adalah dengan musuh-musuh Tuhan
dan musuh-musuh jiwa manusia, yaitu setan yang berusaha menjerat
jiwanya.
|
AM
|
:
|
Bilamanakah pertempuran itu dimulai? Apakah hal itu menyangkut pertempuran fisik atau penglihatan-penglihatan dari setan?
|
GA
|
:
|
Setan
senantiasa adalah roh halus, tetapi guna menyatakan dirinya, ia
mengambil aspek yang dapat sangat provokatif dan mencelakakan jiwa:
kengerian, bujuk rayu, tipu muslihat. Sejak masa kanak-kanak, Padre Pio
menikmati penglihatan-penglihatan surgawi, namun demikian ia juga
mengalami kehadiran roh-roh jahat yang mengerikan, yang menyiksanya
dengan cara yang paling menakutkan. Terkadang mereka menderanya dengan
rantai-rantai yang berat, meninggalkannya dalam keadaan memar lebam dan
berdarah. Terkadang mereka menampakkan diri dalam rupa biantang-binatang
yang menyeramkan. Banyak sekali biografi yang menceritakan pertempuran
antara Padre Pio dengan roh-roh jahat.
|
AM
|
:
|
Adakah orang-orang lain yang melihat serangan-serangan bengis ini?
|
GA
|
:
|
Untungnya,
Padre Pio sendiri banyak bercerita mengenai pertempurannya dengan
roh-roh jahat. Terutama, tulisan-tulisan yang ditujukan kepada
pembimbing rohaninya pada tahun 1911 di biara Venafro, sangat terang dan
jelas. Itulah untuk pertama kalinya Padre Pio mengungkapkan kehidupan
rohaninya yang kaya, baik penglihatan-penglihatan surgawi maupun aniaya
roh-roh jahat. Adakalanya Padre Pio berbicara begitu bebas dengan Santa
Perawan dan Tuhan, tanpa menyadari bahwa biarawan-biarawan yang lain
mungkin ada di dekatnya dan mendengarkannya.
|
AM
|
:
|
Apakah yang dikatakan Padre Pio kepada pembimbing rohaninya?
|
GA
|
:
|
Setan
akan menampakkan diri kepadanya dalam rupa seekor kucing hitam yang
buruk, atau dalam rupa seekor binatang yang sungguh menjijikkan. Jelas,
tujuannya adalah untuk menerornya dengan kengerian. Di lain waktu,
roh-roh jahat datang sebagai gadis-gadis muda, telanjang dan
menggairahkan, menarikan tari-tarian mesum, guna mencobai kemurnian imam
muda ini. Tetapi, Padre Pio merasa bahwa bahaya yang terbesar adalah
ketika iblis berusaha menipunya dengan mengambil rupa salah seorang dari
para superiornya (superior provincial atau pembimbing rohani) atau
dalam rupa para kudus (Tuhan, Santa Perawan, atau St Fransiskus Asisi).
|
AM
|
:
|
Bagaimana Padre Pio melindungi diri?
|
GA
|
:
|
Ia belajar “ilmu ibu jari,” yang juga kita dapati dalam tulisan-tulisan St Theresia dari Avila,
dan yang diajarkannya pula pada sebagian dari anak-anak rohaninya.
Padre Pio memperhatikan adanya suatu sikap perlahan-lahan apabila Santa
Perawan atau Tuhan pertama kali muncul, diikuti perasaan damai ketika
penglihatan berakhir. Sebaliknya, setan yang mengambil rupa tokoh kudus
membangkitkan dengan segera perasaan sukacita dan keterpikatan, yang
sesudahnya digantikan oleh rasa sesal dan kesedihan.
|
AM
|
:
|
Apakah Padre Pio pernah mengalami kehadiran setan dalam diri orang-orang yang datang kepadanya?
|
GA
|
:
|
Ya,
dalam hal ini ia dapat dengan jelas melihat apakah seseorang dirasuki
setan. Ia akan menyampaikan bahaya tersebut kepada orang yang
bersangkutan secara pribadi. Saat-saat genting kadang terjadi dalam
kamar pengakuan. Dalam pengakuan dosa, kadang kala Padre Pio membuat
suatu gerakan seolah mengusir sesuatu. Mungkin, ia memohon kepada Tuhan
agar membebaskan peniten dari suatu pencobaan atau kebiasaan jahat. St
Alfonsus, yang ahli dalam hal-hal demikian, menyarankan agar dalam
kasus-kasus tertentu bapa pengakuan dapat melakukan eksorsisme-mini,
bahkan sebelum pengakuan dimulai. Sebagian besar dari
pertermpuran-pertempuran paling sengit antara Padre Pio dengan roh-roh
jahat terjadi saat ia berusaha menyelamatkan seseorang dari kerasukan
setan, baik saat berada di kamar pengakuan ataupun saat ia berdoa bagi
salah seorang anak rohaninya.
|
AM
|
:
|
Apakah Padre Pio dapat dianggap sebagai seorang eksorsis?
|
GA
|
:
|
Padre
Pio tidak pernah melakukan eksorsisme resmi. Namun demikian, ia
memiliki ketajaman discernment yang luar biasa atas jiwa-jiwa yang
berada dalam bahaya. Banyak orang yang dianggap kerasukan setan dibawa
kepada Padre Pio, dan setiap kali sikap yang diambilnya berbeda dalam
setiap kasus yang berbeda pula. Dapat kita katakan bahwa ia dapat
mengetahui apakah orang yang kerasukan setan tersebut dapat dengan mudah
dibebaskan atau tidak.
Suatu
ketika Padre Pio membebaskan seorang anak muda hanya dengan mengucapkan
kata-kata “Pergi!” Tetapi, pembebasan seketika yang demikian amat
jarang terjadi. Dalam suatu kesempatan, Padre Faustino Negrini menyertai
seorang pemudi bernama Agnese Salamoni, yang dikutuk menjadi “gadis
model paroki” dan sekonyong-konyong dirasuki setan. Padre Pio
mengucapkan suatu berkat sederhana atas gadis itu, yang tampaknya
menghasilkan buah. Padre Faustino sendiri menuntaskan pembebasan sang
pemudi setelah berdoa selama 13 tahun! Tampaknya Padre Pio mengetahui
bahwa waktu pembebasannya belum tiba.
|
Sumber : 1. “Saint Pio of Pietrelcina”; www.padrepio.catholicwebservices.com; 2. “The Devil and Padre Pio”; www.catholicculture.org;
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher:
Unknown
- 7:06:00 AM
Artikel, Cerita
Suatu ketika, pada Permulaan Penciptaan, terjadilah suatu Pertempuran Besar di Surga. Beginilah kisahnya:
Publisher:
Unknown
- 5:02:00 AM
PERTEMPURAN BESAR DI SURGA
Suatu ketika, pada Permulaan Penciptaan, terjadilah suatu Pertempuran Besar di Surga. Beginilah kisahnya:
Tuhan
menciptakan Surga dan Bumi dan semua malaikat dan para pemimpin malaikat
yang disebut Malaikat Agung. Para Malaikat Agung adalah sahabat Tuhan.
Mereka Bercahaya dan Gagah serta Perkasa. Termasuk di antara para
malaikat agung adalah Gabriel, Rafael dan Mikhael. Selain mereka ada
juga Lucifer. Lucifer sangatlah elok hingga para malaikat menyebutnya
Putera Fajar.
Para malaikat
berbahagia karena mereka bersama-sama dengan Allah dan mereka semua
mengasihi-Nya. Kemudian, pada suatu hari Lucifer berkata kepada dirinya
sendiri: “Mengapa harus Tuhan yang paling berkuasa di Surga? Mengapa
bukan aku? Aku bisa terbang dan berubah wujud, aku elok serta gagah
perkasa. Sesungguhnya aku ini sama pentingnya dengan Tuhan. Mulai
sekarang aku tidak lagi akan melakukan perintah-Nya. Aku akan
melawan-Nya dan Surga akan menjadi milikku!”
Maka, Lucifer
pergi berkeliling Surga dan ia mengumpulkan banyak malaikat yang juga
tidak suka dianggap kurang penting dibanding Tuhan hingga terbentuklah
suatu pasukan yang besar. Pasukan para malaikat itu menuju Tahta Allah
dan berkata dengan sombongnya: “Kami ini sama pentingnya dengan Engkau.
Mengapa harus Engkau yang menjadi Raja atas Surga dan atas kami? Kami
ini Gagah perkasa dan Elok dan penuh Kebanggaan diri. Kami akan
bertempur melawan Engkau untuk merebut Kerajaan Surga.”
Tuhan memandang
mereka, dan kemudian Ia berkata: “Lucifer, Aku menganggapmu sebagai
seorang sahabat, dan Aku percaya kepadamu. Bertindaklah bijaksana, coba
pikirkan apa yang hendak engkau lakukan ini.” “Aku sudah memikirkannya,”
kata Lucifer, “dan lebih baik aku tidak tinggal di surga sama sekali
daripada Engkau harus menjadi Rajaku, demikian juga pendapat para
malaikat yang lain!” Dan di belakangnya seluruh para malaikat yang
memberontak berseru dengan suara lantang: “Kami berpihak pada Lucifer!
Hidup Lucifer! Biarlah ia yang memerintah atas kami di Surga! KAMI TIDAK
MENGHENDAKI TUHAN!” “Baiklah,” kata Tuhan, “jika kalian tidak
menghendaki Aku. Tetapi, jika kalian hendak menguasai Surga, kalian
boleh mencobanya jika kalian mau.” Kemudian, Tuhan memanggil Malaikat
Agung Mikhael dan memerintahkannya untuk membentuk Pasukan Balatentara
Surgawi yang berada di pihak Tuhan.
Maka terjadilah
Pertempuran Besar di Surga antara Mikhael dan para malaikatnya melawan
Lucifer. Lucifer berperang, dan para malaikatnya juga berperang, tetapi
mereka TIDAK DAPAT menang. Mikhael menghalau Lucifer dari Surga dan
Lucifer jatuh ke bawah dan ke bawah dan ke bawah hingga ke neraka. Semua
malaikat pengikutnya dihalau juga bersama dengan Lucifer. Pintu Surga
kemudian ditutup. Sorak-sorai terdengar membahana dari pihak Balatentara
Surgawi yang dipimpin oleh Mikhael: “Surga telah menang! Bersoraklah
dan bergiranglah, hai seluruh malaikat Allah! Allah yang Maha Baik
selalu menang!”
Jadi, sekarang kalian tahu mengapa kita mengatakan dalam doa kita, “Malaikat Agung St. Mikhael, lindungilah kami dalam peperangan,” karena ia adalah Panglima Perang Balatentara Surgawi.
Tetapi, apa
yang kemudian terjadi pada Lucifer dan para malaikat yang memberontak?
Lucifer amat marah dan berang atas kekalahannya dalam Pertempuran
melawan Tuhan. Tidak akan pernah ia melupakannya. Lucifer tidak pernah
lagi diperkenankan masuk ke dalam Surga untuk selama-lamanya. Jadi,
karena Dendam yang mendalam, ia melakukan apa saja untuk membalas Tuhan.
Yang paling
mengerikan dari Lucifer adalah rasa IRI-nya. Siapa yang menurutmu ia
cemburui? Kita! Mengapa? Karena ketika Tuhan Yesus disalibkan, Ia
membuka Kerajaan Surga bagi kita agar kita dapat masuk ke dalamnya! Jadi
Lucifer, yang nama lainnya ialah Setan, atau Iblis, amat murka karena
kita yang hanyalah Orang Biasa diperkenankan masuk ke dalam Surga,
sedangkan ia, seorang malaikat Agung, tidak. Jadi, ia dan para
malaikatnya (para iblis) selalu dan selalu berusaha untuk mencegah kita
masuk ke dalam Surga. Para iblis merayu kita dengan pikiran-pikiran
jahat, membujuk kita melakukan perbuatan-perbuatan dosa, semuanya untuk
melukai hati Tuhan.
Jadi, kapan
saja kalian berniat untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang jahat,
ingatlah akan Pertempuran besar di Surga. Ingatlah bahwa Lucifer sedang
berusaha menghasut kalian untuk berada di pihaknya. Jika kamu
membatalkan niat jahatmu itu, kalian telah menang dan berada di pihak
Tuhan.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Kamis, 27 Desember 2012
Artikel, Cerita, Renungan
Kado Ulang Tahun Untuk Yesus
Menurut
berbagai sumber kisah berikut ini adalah sebuah kisah nyata. Seorang
anak laki-laki kelas empat sekolah dasar di suatu daerah di Milaor
Camarine Sur, Filipina, setiap hari harus melintasi rute daerah tanah
bebatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak
kendaraan melaju kencang dan tak beraturan. Setiap pagi, setiap kali
berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, anak ini mampir sebentar ke
gereja sekedar untuk menyapa Tuhan dalam Tabernakel. Tindakannya selama
ini diamati oleh Pastor Agaton, pastor paroki, yang merasa tersentuh
melihat perilaku anak laki-laki yang lugu dan beriman tersebut.
"Bagaimana kabarmu hari ini Andy? Apakah kamu akan segera berangkat ke sekolah?"
"Ya, Pastor!" balas Andy dengan senyum khasnya.
Sebab Pastor mengkhawatirkan keselamatan Andy, suatu hari ia mengatakan kepada bocah tersebut,
"Jangan
menyeberang jalan raya sendirian. Sepulang sekolah, kau boleh mampir ke
gereja dan aku akan menemanimu ke seberang jalan. Dengan begitu aku
bisa memastikan bahwa kamu pulang ke rumah dengan selamat."
"Terima kasih, Pastor."
"Kenapa kamu tidak segera pulang sekarang?"
"Saya masih ingin menyapa Tuhan sebentar, Pastor."
Pastor meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan Tabernakel.
"Tuhan, Engkau tahu ulangan matematikaku hari ini sangat jelek, tetapi aku tidak mencontek meski teman-temanku melakukannya.
Kami mengalami musim paceklik, tetapi aku masih bisa sarapan sepotong kue. Terima kasih atas kuenya.
Orang
bilang bahwa kami akan mengalami masa-masa musim panen yang susah,
bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolonglah supaya mereka
bisa bersekolah kembali.
Lihat, Tuhan, ini sepatuku. Mungkin aku harus berjalan ke sekolah tanpa sepatu minggu depan.
Mama
memukulku lagi. Sakit, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling
tidak aku masih punya seorang mama. Tuhan... Engkau mau lihat lukaku?
Aku tahu Engkau bisa menyembuhkannya, di sini... di sini... aku rasa
Engkau tahu yang ini kan ...? Tolong jangan marahi Mama... Mama hanya
sedang kesal dan khawatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku.
Ah
Tuhan, ... aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis
cantik di kelasku, namanya Anita ...menurut-Mu apakah dia akan
menyukaiku? Ah, bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap
menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk
menyenangkan-Mu. Engkau adalah sahabatku.
O
ya ... sebentar lagi Natal, ulang tahun-Mu tinggal beberapa hari lagi,
apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat aku punya kado
untuk-Mu. Tapi, ini kejutan untuk-Mu. Aku harap Engkau akan menyukainya.
Ooops, aku harus pergi sekarang."
"Pastor … Pastor … aku sudah selesai. Pastor bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"
Suatu
hari, Pastor Agaton jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Empat
perempuan tua yang tidak pernah tersenyum diserahi tugas merawat
gereja. Seusai pesta Natal di sekolah, Andy bergegas menuju gereja, tak
sabar hendak memberikan kadonya untuk Yesus. Ia menerobos masuk ke dalam
gedung gereja dan mendapati keempat perempuan tua itu sedang berlutut
dengan Rosario di tangan.
"Halo… aku...," sapanya riang.
"Bocah tidak tahu sopan! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa?! Keluar!"
Andy
terkejut, "Tetapi, di mana Pastor Agaton? Pastor akan membantuku
menyeberangi jalan raya… Pastor menyuruhku mampir lewat pintu belakang
gereja. Aku juga harus menyapa Tuhan - aku punya kado ulang tahun
untuk-Nya. "
Andy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, ketika seorang dari keempat perempuan itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar gereja.
Sambil membuat tanda salib ia berkata, "Keluarlah bocah... jangan ganggu kami yang sedang berdoa!"
Andy
sendirian menyeberangi jalan raya dengan pikiran galau, ketika
tiba-tiba sebuah bus datang melaju kencang dari arah tikungan jalan. Tak
ada waktu untuk menghindar, dan Andy tewas seketika. Orang-orang
berlarian datang dan mengelilingi tubuh bocah malang yang sudah tak
bernyawa tersebut. Sekonyong-konyong, muncul seorang Lelaki berjubah
putih yang dengan berurai airmata datang dan memeluk tubuh Andy.
"Apakah Anda mengenalnya? Apakah Anda keluarga bocah malang ini?"
Lelaki
itu menggeleng dan dengan hati pilu menjawab, "Dia sahabat-Ku." Hanya
itu yang Ia katakan. Ia mengambil hadiah dari dalam baju bocah malang
tersebut dan menaruhnya di dada-Nya. Lalu Ia berdiri dan pergi sambil
membopong tubuh Andy; keduanya pun segera lenyap dari pandangan.
Sepulang dari rumah sakit, Pastor Agaton berkunjung ke rumah Andy dan bercakap-cakap dengan kedua orangtuanya.
"Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal?"
"Seorang Lelaki berjubah putih menghantarnya kemari," ucap ibu Andy terisak.
"Apa yang dikatakan-Nya?"
Ayah
Andy menjawab, "Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sangat
berduka. Kami tidak mengenal-Nya, namun Ia terlihat sangat sedih atas
meninggalnya Andy. Anehnya, ada suatu kedamaian yang sulit dimengerti
mengenai Lelaki itu ketika Ia menyerahkan anak kami. Ia membelai wajah
Andy dan mengecup keningnya, sembari membisikkan sesuatu..."
"Apa yang dikatakannya?"
Ia
berkata, "Terima kasih untuk kadonya. Aku akan segera berjumpa
denganmu. Engkau akan bersama-Ku. Saya menangis, tetapi tidak tahu
mengapa begitu. Yang saya tahu, saya menangis karena bahagia ... saya
tak dapat menjelaskannya Pastor, tetapi ketika Dia meninggalkan kami,
ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Saya merasakan kasih yang
mendalam di hati. Tak dapat saya lukiskan sukacita dalam hati ini. Saya
tahu puteraku sudah berada di surga sekarang. Tapi tolong katakan,
Pastor, siapakah Lelaki ini yang biasa berbicara dengan puteraku setiap
hari di gereja? Pastor seharusnya tahu karena Pastor selalu berada di
sana setiap hari."
Pastor
Agaton merasa ada air mata menetes di pipinya, dengan lutut gemetar ia
berbisik, "Ia tidak berbicara dengan siapa-siapa … kecuali dengan
Tuhan."
dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher:
Unknown
- 7:26:00 PM
Artikel, Cerita
Surat dari Yesus sebelum Natal
| Bayi Yesus di Basilika St. Petrus Vatikan |
Sahabatku terkasih,
Seperti
kalian ketahui, kita semakin dekat dengan hari ulang tahun-Ku. Setiap
tahun ada suatu perayaan khusus demi menghormati-Ku, dan Aku pikir tahun
ini perayaan ini juga akan dirayakan.
Pada
masa ini banyak orang berbelanja hadiah-hadiah, banyak iklan-iklan di
radio dan televisi, dan di segenap penjuru dunia orang berbicara
mengenai hari ulang tahun-Ku yang semakin menjelang.
Sungguh menyenangkan tahu bahwa, setidaknya setahun sekali, orang berpikir tentang Aku.
Seperti kalian tahu, perayaan hari ulang tahun-Ku dimulai bertahun-tahun yang silam.
Pada
awalnya, orang tampaknya mengerti dan mengucap syukur atas segala yang
telah Aku lakukan bagi mereka, tetapi pada masa sekarang, tak seorang
pun tampaknya tahu alasan perayaan ini.
Sanak
saudara, teman dan sahabat, berkumpul bersama dan bergembira ria,
tetapi mereka tak mengerti makna perayaan. Aku ingat, tahun lalu ada
suatu perayaan besar demi menghormati-Ku. Meja perjamuan penuh dengan
sajian makanan yang lezat, kue-kue, buah-buahan, beraneka macam permen
dan coklat. Dekorasinya sungguh indah menawan, dan ada banyak…banyak
sekali hadiah-hadiah yang dibungkus cantik.
Tetapi, adakah kalian tahu? Aku tidak diundang.
Aku adalah tamu kehormatan dan mereka bahkan tidak ingat untuk mengirimi-Ku undangan.
Pesta
itu untuk-Ku, tetapi ketika hari besar itu datang, Aku dibiarkan di
luar; mereka menutup pintu di depan muka-Ku … padahal Aku begitu ingin
bersama mereka, duduk dan makan bersama mereka.
Sesungguhnya,
hal itu tidaklah mengejutkan-Ku, sebab beberapa tahun belakangan ini,
semuanya menutup pintu bagi-Ku. Karena tak diundang, Aku memutuskan
untuk ikut dalam pesta tanpa menarik perhatian. Aku masuk dan berdiri di
pojok.
Mereka
semuanya minum-minum; sebagian bahkan mulai mabuk dan melontarkan
gurauan-gurauan dan menertawakan segala sesuatu. Sungguh, mereka
riang-ria dalam pesta-pora.
Di
puncak acara, seorang tua yang besar dan gendut berpakaian serba merah,
berjanggung putih panjang, memasuki ruangan sembari berseru Ho-Ho-Ho!
Tampaknya ia mabuk. Ia duduk di atas sofa dan anak-anak berlarian
menyonsongnya, seraya berseru, “Santa Claus, Santa Claus”; seolah pesta
ini untuknya!
Tengah
malam semua saling berpelukan satu sama lain. Aku juga merentangkan
tangan-Ku berharap seorang memeluk-Ku. Dan tahukah engkau, tak seorang
pun datang untuk memberi-Ku pelukan.
Lalu,
mereka mulai membagi-bagikan hadiah. Mereka membuka kado masing-masing
dengan penuh rasa ingin tahu. Ketika semuanya telah mendapatkan bagian,
Aku mencari-cari, mungkin, ada satu hadiah untuk-Ku. Bagaimanakah
gerangan perasaanmu ketika pada hari ulang tahunmu semua orang saling
berbagi hadiah sementara engkau sendiri tidak mendapatkan apapun?
Sebab itu, Aku mengerti bahwa Aku tidak dikehendaki dalam pesta itu, dan Aku pun meninggalkan pesta diam-diam.
Setiap tahun, keadaannya semakin parah. Orang hanya ingat hadiah, pesta, makan dan minum; tak seorang pun ingat akan Aku.
Aku rindu Natal ini engkau membiarkan-Ku masuk dalam hidupmu.
Aku
rindu engkau mengenali kenyataan bahwa lebih dari duaribu tahun yang
lalu, Aku datang ke dalam dunia demi memberikan nyawa-Ku bagi kalian, di
salib, demi menyelamatkan kalian.
Hari ini, Aku rindu kalian meyakini hal ini dengan segenap hati.
Aku
rindu berbagi dengan kalian. Karena begitu banyak orang tak hendak
mengundang-Ku ke pesta mereka, maka Aku akan menyelenggarakan pesta-Ku
sendiri, suatu pesta agung seperti yang tak pernah dibayangkan orang,
suatu pesta yang spektakuler. Sekarang Aku sedang melakukan
persiapan-persiapan terakhir.
Hari
ini Aku mengirimkan banyak undangan, juga untukmu. Aku rindu mengetahui
apakah engkau bermaksud datang. Aku akan menyediakan tempat bagimu dan
menuliskan namamu dengan huruf-huruf emas dalam buku tamu-Ku.
Hanya mereka yang ada dalam daftar tamu akan diundang ke pesta.
Mereka
yang tidak menjawab undangan ini akan tinggal di luar. Bersiaplah,
sebab ketika semuanya telah siap, engkau akan menjadi bagian dari pesta
agung-Ku.
Sampai jumpa. Aku mencintaimu!
Tertanda,
Yesus
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher:
Unknown
- 12:44:00 PM
Cerita
Arti Natal yang Sesungguhnya
Pada
masa yang silam, di Persia memerintah seorang raja yang baik hati serta
bijaksana. Ia mencintai rakyatnya. Ia ingin tahu kehidupan mereka. Ia
ingin tahu penderitaan yang harus mereka alami. Seringkali ia berpakaian
seperti seorang pekerja atau bahkan pengemis dan pergi ke
kampung-kampung miskin. Tak seorang pun yang ia kunjungi pernah mengira
bahwa ia adalah raja mereka.
Suatu
ketika ia mengunjungi seseorang yang amat miskin yang tinggal di sebuah
gua. Ia makan makanan kasar yang dimakan orang miskin itu. Ia berbicara
kepadanya dengan kata-kata yang lembut serta menghibur. Lalu ia pergi.
Di kemudian hari, ia kembali mengunjungi orang miskin itu lagi dan
dengan jelas mengatakan kepadanya, “Aku ini rajamu.”
Alangkah
terkejutnya si orang miskin itu! Raja menyangka bahwa orang itu pasti
akan meminta suatu hadiah atau pertolongan darinya. Tetapi, ternyata
tidak. Sebaliknya, orang miskin itu berkata:
“Engkau
meninggalkan istanamu serta kemuliaanmu untuk mengunjungiku di tempat
yang gelap serta kumuh ini. Engkau makan makanan kasar yang aku makan.
Engkau membawa kebahagiaan dalam hatiku. Bagi orang lain engkau
memberikan hadiah-hadiah berlimpah. Bagiku engkau telah memberikan
dirimu sendiri.”
Sumber: “Meaning of Christmas”; Societas Verbi Divini, USA Western Province; www.svd-ca.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher:
Unknown
- 12:33:00 PM
Langganan:
Postingan (Atom)