Tampilkan postingan dengan label Katekese. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katekese. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

, ,

Tertidurnya Maria

oleh: P. William P. Saunders *

Saya menyetel Channel 118 untuk mengikuti program Rosario. Ketika imam sampai pada misteri keempat, “Maria Diangkat ke Surga,” mereka memperlihatkan pemandangan sebuah gereja di Israel yang diberi nama “Tertidurnya Maria.” Di sana terdapat sebuah patung Bunda Maria yang tertidur dan sebuah makam kosong. Saya belum pernah mendengar tentang tertidurnya Maria. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca ACH

Istilah “Tertidurnya Maria” (bahasa Latin “dormire” artinya tidur) dapat menyesatkan sebab seolah lebih terfokus pada wafat dan pemakaman Bunda Maria. Keyakinan seputar tertidurnya Maria pada hakekatnya berhubungan dengan diangkatnya Santa Perawan Maria, badan dan jiwa, ke surga. Dengan jawaban pendahuluan seperti di atas, kita perlu meninjau kembali Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan bagaimana dogma ini berhubungan dengan “Tertidurnya Maria”.

Memang, peristiwa Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga tidak dicatat dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Namun demikian, pertama-tama kita patut berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan, sebab inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Kita percaya teguh bahwa sejak dari awal mula perkandungannya, karena kasih karunia istimewa dari Allah Yang Mahakuasa, Maria bebas dari segala noda dosa, termasuk dosa asal. Malaikat Agung St Gabriel mengenali Maria sebagai “penuh rahmat,” “terpuji di antara perempuan,” dan “bersatu dengan Tuhan.” Maria telah dipilih untuk menjadi Bunda Juruselamat kita. Dari kuasa Roh Kudus, ia mengandung Tuhan kita, Yesus Kristus, dan melalui dia, sungguh Allah menjadi juga sungguh manusia, “Sabda itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Sepanjang masa hidupnya, walau catatan dalam Injil amat terbatas, Maria senantiasa menghadirkan Tuhan kita kepada yang lain: kepada Elisabet dan puteranya, Yohanes Pembaptis, yang melonjak kegirangan dalam rahim ibundanya atas kehadiran Tuhan yang masih berada dalam rahim BundaNya; kepada para gembala yang sederhana dan juga kepada para majus yang bijaksana; pula kepada warga Kana ketika Tuhan kita meluluskan kehendak BundaNya dan melakukan mukjizat-Nya yang pertama. Terlebih lagi, Maria berdiri di kaki salib bersama Putranya, memberi-Nya dukungan dan berbagi penderitaan dengan-Nya lewat kasihnya seperti yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibunda. Dan akhirnya, Maria ada bersama para rasul pada hari Pentakosta ketika Roh Kudus turun dan Gereja dilahirkan. Sebab itu, masing-masing dari kita dapat melihat serta merenungkan Maria sebagai hamba Allah yang setia, yang ikut ambil bagian secara intim dalam kelahiran, kehidupan, wafat dan kebangkitan Tuhan kita.

Karena alasan-alasan ini, kita percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan kepada setiap kita akan keikutsertaan dalam hidup yang kekal, termasuk kebangkitan badan, digenapi dalam diri Maria. Sebab Maria bebas diri dosa asal dan segala konsekuensinya (salah satunya adalah kerusakan badan setelah kematian), sebab ia ikut ambil bagian secara intim dalam hidup Tuhan dan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, dan sebab ia ada saat Pentakosta, maka model dari pengikut Kristus ini sungguh pantas ikut ambil bagian dalam kebangkitan badan dan kemuliaan Tuhan di akhir hidupnya.

Berdasarkan pemahaman ini, Paus Pius XII dengan khidmad memaklumkan dalam Munificentissimus Deus tanggal 1 November 1950, bahwa “Bunda Allah yang Tak Bernoda Dosa, Maria yang tetap perawan selamanya, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya.” Patut dicatat bahwa definisi khidmad tersebut tidak menjelaskan apakah Maria wafat secara fisik sebelum diangkat ke surga atau langsung diangkat ke surga; hanya dikatakan, “Maria, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia ….”

Jadi apakah Bunda Maria wafat terlebih dahulu sebelum diangkat ke surga? Apakah ia “tertidur”? Apakah ia dimakamkan? Gereja tidak mengikat kita pada suatu jawab tertentu sebab tradisi mengenainya kurang jelas. Dalam suatu kumpulan kisah apokrif berjudul Transitus Mariae (Perjalanan Maria), yang dianggap sebagai tulisan Uskup St. Melito dari Sardis (wafat ±thn 200), Bunda Maria wafat dihadapan para rasul di Yerusalem, dan kemudian menurut kisah tersebut, tubuhnya menghilang begitu saja, atau dimakamkan dan kemudian menghilang.

St Yohanes Damaskus (wafat 749) juga menuliskan suatu kisah yang menarik sehubungan dengan SP Maria Diangkat ke Surga, “St Juvenal, Uskup Yerusalem, dalam Konsili Kalsedon (451), memberitahukan kepada Kaisar Marcian dan Pulcheria, yang ingin memiliki tubuh Bunda Allah, bahwa Maria wafat di hadapan segenap para rasul, tetapi bahwa makamnya, ketika dibuka atas permintaan St Thomas, didapati kosong; dari situlah para rasul berkesimpulan bahwa tubuhnya telah diangkat ke surga.”

Namun demikian, kisah-kisah ini janganlah lebih diutamakan dari dasar teologis mengenai keyakinan kita akan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Sebaliknya, patutlah kita ingat bahwa para Bapa Gereja membela dogma SP Maria Diangkat ke Surga dengan dua alasan: Sebab Maria bebas dari noda dosa dan tetap perawan selamanya, ia tidak mengalami kerusakan badan, yang adalah akibat dari dosa asal, setelah wafatnya. Juga, jika Maria mengandung Kristus dan memainkan peran yang akrab mesra sebagai BundaNya dalam penebusan manusia, maka pastilah juga ia ikut ambil bagian badan dan jiwa dalam kebangkitan dan kemuliaan-Nya.

Namun demikian, kisah-kisah saleh mempopulerkan istilah “tertidur,” merenungkan bahwa Maria di akhir hidupnya “tertidur” dan kemudian diangkat ke dalam kemuliaan surga. Kaisar Byzantine Mauritius (582-602) menetapkan perayaan Tertidurnya Santa Perawan Maria pada tanggal 15 Agustus bagi Gereja Timur demi memperingati wafat dan diangkatnya Santa Perawan Maria ke surga. (Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa perayaan ini telah tersebar luas sebelum Konsili Efesus pada tahun 431.) Pada akhir abad keenam, Gereja Barat juga merayakannya dengan nama SP Maria Diangkat ke Surga.

Entah kita mempergunakan istilah “tertidur” atau “diangkat ke surga,” keyakinan dasarnya tetap sama. Katekismus, dengan mengutip Liturgi Byzantine, memaklumkan, “Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Putranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. `Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu'” (No 966).

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar sementara kita merenungkan satu sisi ini dari Bunda Maria. Maria menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada kehendak-Nya, agar mengubah hidup kita melalui kurban dan penitensi, dan mencari persatuan abadi dalam kerajaan surga. Pada tahun 1973, Konferensi Waligereja Katolik dalam surat “Lihatlah Bundamu” memaklumkan, “Kristus telah bangkit dari mati; kita tidak membutuhkan kepastian lebih lanjut akan iman kita ini. Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”


* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: The Dormition of Mary” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 4:39:00 PM
,

Jam Suci

Jam Suci (Holly Hour) bertujuan untuk menemani Yesus dalam doa dan sakrat maut-Nya di Taman Getsemani.

Pada malam terakhir itu Yesus berkata kepada ketiga rasul-Nya yang terpilih: Petrus, Yohanes dan Yakobus. “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. (Mat 26:38). Tetapi ketiga rasul itu gagal memenuhi permintaan Yesus. Mata mereka sudah berat lalu mereka tertidur. Apa reaksi Yesus? Dia menegur mereka katanya, Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam saja dengan Aku!” (Mat 26:40).

Dalam suatu penampakan kepada Santa Margareta Maria Alacoque pada tanggal 2 Juli 1674, Yesus mengatakan kepadanya, “Setiap Kamis, malam Jumat, Aku akan membuat engkau ikut ambil bagian dalam kesedihan sampai mati seperti yang Ku-rasakan Sendiri di Bukit Zaitun. Kesedihan itu akan memasukkan engkau dengan cara yang tak terpahami bagimu dalam sakrat maut yang lebih berat rasanya daripada maut itu sendiri. Maka, hendaknya engkau bangun malam hari antara jam sebelas dan tengah malam untuk menemani Aku dalam doa yang Ku-panjatkan dengan penuh kerendahan hati kepada Bapa dalam keadaan takut dan ngeri yang hebat. Dalam doa itu engkau akan sujud bersama-Ku sampai ke tanah untuk meredakan murka Ilahi sambil memohon belas kasihan bagi orang-orang berdosa. Juga untuk sekedar mengurangi kekecewaan-Ku ketika ditinggalkan oleh para rasul-Ku, sehingga terpaksa menegur mereka karena tak sanggup berjaga-jaga satu jam saja bersama-Ku. Selama satu jam itu hendaknya engkau melakukan apa yang akan Ku-ajarkan kepadamu.”

Sekarang Jam Suci biasa dilakukan pada malam Jumat Pertama, dimulai jam 23.00 atau jika perlu, lebih awal. Jam Suci bisa dilakukan sebagai devosi pribadi ataupun devosi kelompok. Sedapat mungkin dilakukan di gereja atau di kapel, di depan tabernakel atau di depan pentahtaan Sakramen Mahakudus.

Acara pokok Jam Suci adalah merenungkan sengsara Kristus, baik lahir maupun batin, serta merenungkan segala dosa dan penderitaan dunia yang telah ditebus oleh-Nya. Dalam kelompok, Jam Suci diawali dengan pembacaan Kitab Suci yang sesuai, renungan, saat hening untuk doa batin para peserta, serta biasanya diselingi dengan doa dan nyanyian bersama.

Dalam liturgi, Jam Suci dilakukan pada hari Kamis Putih, sesudah Upacara Mengenangkan Perjamuan Tuhan serta pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan. Umat diberi kesempatan mengadakan tuguran di depan Sakramen Mahakudus hingga tengah malam.

sumber : Lembar Acara Pekan Suci, Paroki Gembala Yang Baik (yesaya.indocell.net)
Publisher: Unknown - 4:32:00 PM

Kamis, 10 Januari 2013

, ,

Mengapa Kitab Suci Katolik Mempunyai Jumlah Kitab Lebih Banyak daripada Kitab Suci Protestan?

Oleh P. Richard Lonsdale
Kitab Suci Katolik terdiri dari 72 kitab (45 kitab PL + 27 kitab PB), sementara kebanyakan Kitab Suci Protestan hanya terdiri dari 66 kitab. Kitab yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik semuanya merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Selain itu terdapat juga beberapa ayat dalam kitab-kitab tertentu yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik. Mengapa terjadi perbedaan demikian? Jawabannya amat rumit, tetapi secara sederhana dapat dijelaskan seperti berikut ini.

Orang-orang Yahudi menulis Perjanjian Lama, tetapi mereka tidak secara "resmi" menuliskan daftar atau kanon dari kitab-kitab tersebut sampai akhir abad kedua. Sekelompok orang Yahudi khawatir kalau-kalau pada akhirnya tulisan-tulisan Kristen juga akan dimasukkan orang ke dalam kanon mereka. Untuk mencegah hal tersebut, setelah melalui debat yang panjang, mereka memutuskan untuk mencantumkan hanya kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani saja yang termasuk dalam kanon mereka. Dengan demikian mereka dapat mengeluarkan kitab-kitab Kristen yang semuanya ditulis dalam bahasa Yunani. Namun demikian, ada pula beberapa bagian dari kitab Perjanjian Lama yang hanya tersedia salinannya dalam bahasa Yunani, sedangkan kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Ibrani telah hilang. Dengan demikian kitab-kitab tersebut, yang dulunya juga mereka terima, ikut dikeluarkan dari kanon Yahudi.

Gereja Katolik tidak mengikuti keputusan mereka. Terutama karena beberapa kitab yang ditulis dalam bahasa Yunani mendukung doktrin (doktrin = ajaran) Katolik, misalnya tentang Roh Kudus. Gereja Katolik tidak membuat daftar atau kanon resmi sampai beberapa abad kemudian. Sejak awal mula Gereja Katolik menerima semua kitab yang sekarang ada dalam Kitab Suci kita.

Pada abad ke-16, Gereja Protestan mulai mempergunakan Kitab Suci sebagai dasar ajaran mereka. Martin Luther menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Perjanjian Lama Yahudi. Alasan penolakannya adalah karena beberapa bagian dari kitab-kitab tersebut tidak mendukung ajarannya. Seperti misalnya, Luther tidak setuju dengan ajaran Gereja Katolik mengenai Api Penyucian. Padahal gagasan tentang api penyucian terdapat dalam Kitab Makabe II. Selanjutnya Luther juga mencoba mengeluarkan beberapa kitab Perjanjian Baru, misalnya Surat Yakobus. Beberapa gagasan dalam surat Yakobus tidak sesuai dengan ajaran Luther, misalnya tentang ajaran Luther yang menyatakan bahwa perbuatan baik tidak diperlukan dalam memperoleh keselamatan, melainkan hanya iman. Tetapi, pada akhirnya, ia harus memasukkan juga Surat Yakobus dalam kanonnya.

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja Protestan disebut Protokanonika (protokanonika: kanon yang pertama). Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui oleh Gereja Katolik tetapi tidak diakui oleh Gereja Protestan di tempatkan di bagian antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagian ini oleh Gereja Katolik disebut Deuterokanonika (deuterokanonika: kanon yang kedua), sedang oleh Gereja Protestan disebut Apokrip (apokrip : buku-buku keagamaan yang baik untuk dibaca tetapi tidak diilhami Roh Kudus).

Hingga kini Gereja Katolik terus mempertahankan serta menghormati kitab-kitab seperti yang telah diterima oleh Gereja Kristen Purba. Jika Kitab Suci yang mereka wariskan itu baik bagi mereka, tentu baik pula bagi kita. Coba bacalah kisah menarik tentang Tobit, dan coba baca juga nasehat-nasehat berharga dalam Kitab Kebijaksanaan di Kitab Suci Katolik-mu.


sumber: P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
tambahan: P. Dr. H. Pidyarto O.Carm; “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik buku kesatu”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”
Publisher: Unknown - 5:30:00 PM

Kamis, 03 Januari 2013

,

Nama Yesus Yang Tersuci

oleh: P. William P. Saunders *
Saya ambil bagian dalam perayaan Misa dan terkejut ketika pada tanggal 3 Januari imam mengumumkan bahwa hari itu adalah Pesta Nama Yesus yang Tersuci. Di paroki saya juga ada Serikat Nama Yesus yang Tersuci. Bagaimanakah asal mula perayaan ini?
~ Seorang pembaca di Fairfax Station   

Penghormatan kepada Nama Tersuci Tuhan kita, Yesus Kristus, dimulai sejak jaman para rasul. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menulis, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:10-11). Sama seperti setiap nama memberikan identitas kepada pemiliknya serta mencerminkan hidup pribadinya, nama Yesus mengingatkan orang akan siapa Yesus serta apa yang telah Ia lakukan bagi kita. Patut diingat bahwa nama “Yesus” berarti “Tuhan menyelamatkan” atau “Tuhan adalah keselamatan.”

Dengan menyerukan nama Kristus dengan khidmat dan dalam iman, orang berpaling kepada-Nya dan mohon dengan sangat pertolongan ilahi-Nya. Sebuah buku rohani tua menyebutkan empat ganjaran istimewa bagi mereka yang menyerukan Nama Yesus yang Tersuci: Pertama, nama Yesus membawa pertolongan dalam kebutuhan fisik. Yesus Sendiri berjanji pada saat Kenaikan-Nya, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Mrk 16:17-18). Setelah Pentakosta, St. Petrus dan St. Yohanes pergi ke Bait Allah untuk berkhotbah dan mendapati seorang lumpuh yang mengemis; St. Petrus memerintahkan, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” dan orang lumpuh itu pun mulai berjalan (Kis 3:1-10). Dengan menyerukan nama Yesus, St. Petrus juga menyembuhkan Eneas (Kis 9:32 dst).

Kedua, nama Yesus membawa pertolongan dalam pencobaan-pencobaan rohani. Yesus mengampuni dosa, dan melalui penyeruan Nama Yesus yang Tersuci, dosa-dosa akan terus diampuni. Pada hari Pentakosta, St. Petrus menggemakan nubuat Nabi Yoel, “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” (Kis 2:21), pengajaran serupa diserukan oleh St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Rm 10:13). Sementara St. Stefanus, martir pertama, dilempari batu, ia menyerukan nama Kristus dan berdoa, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 7:59). St. Thomas More, sementara menanti eksekusinya, menulis kepada putrinya, Margareta, “Aku tidak akan meragukan-Nya, Meg, meskipun aku merasa diriku semakin lemah dan diliputi ketakutan yang sangat. Aku ingat bagaimana Santo Petrus, karena merasakan hembusan angin, mulai tenggelam karena kurang iman, dan aku akan melakukan seperti apa yang dilakukannya: berseru kepada Kristus dan berdoa mohon pertolongan-Nya. Dan kemudian aku percaya Ia akan menumpangkan tangan-Nya yang kudus atasku dan mengangkatku dari badai laut.”

Ketiga, nama Yesus melindungi orang dari setan dan pencobaan-pencobaannya. Yesus, dengan kuasa-Nya Sendiri, mengusir setan-setan (misalnya di Gadara (Mat 8:28-34)). Dengan menyerukan Nama Yesus yang Tersuci, setan akan dikalahkan.

Dan yang terakhir, kita menerima setiap rahmat dan berkat melalui Nama Yesus yang Tersuci. Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh 16:23-24). Ringkasnya, St. Paulus mengatakan, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kol 3:17).

St. Bernardinus dari Sienna (1380-1444) dan muridnya, St. Yohanes dari Capestrano (1386-1456) menyebarluaskan devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci. Dalam khotbah-khotbah misi mereka di segenap penjuru Italia, mereka membawa sebuah monogram Nama Yesus yang Tersuci dikelilingi cahaya. Menurut asalnya, monogram IHS merupakan singkatan nama Yesus dalam bahasa Yunani: I dan H mewakili Iota dan Eta, yaitu dua huruf pertama dari nama-Nya; dan S, Sigma, huruf terakhir. (Tradisi sesudahnya mempergunakan lambang IHS untuk melambangkan bahasa Latin “Iesus Hominum Salvator”, yang artinya “Yesus Juruselamat Manusia”). St. Bernardinus dan St. Yohanes memberkati kaum beriman dengan monogram ini, serta dengan menyerukan nama Yesus, dan banyak mukjizat terjadi. Mereka juga mendorong orang banyak agar menempatkan monogram ini di gerbang-gerbang kota dan di pintu-pintu masuk rumah mereka. Guna menepis penolakan sebagian orang yang menganggap penghormatan tersebut sebagai takhayul, Paus Martinus V pada tahun 1427 merestui penghormatan yang layak bagi Nama Yesus yang Tersuci dan minta agar dalam monogram IHS ditambahkan salib. Pada tahun 1455, Paus Kalistus III meminta St. Yohanes untuk menyampaikan khotbah kepada para laskar agar menyerukan Nama Yesus yang Tersuci saat berperang melawan bala tentara Muslim Turki yang tangguh yang memporak-porandakan Eropa Timur; kemenangan dicapai dengan mengalahkan mereka dalam Pertempuran di Belgrade pada tahun 1456.

Pada tahun 1597, Paus Sixtus V memberikan indulgensi kepada siapa yang dengan hormat mendaraskan, “Terpujilah Yesus Kristus!” Paus Cement VII pada tahun 1530 mengijinkan para Fransiskan merayakan pesta demi menghormati Nama Yesus yang Tersuci, dan Paus Inosensius XIII menyebarluaskan devosi ini kepada seluruh Gereja univeral pada tahun 1721; pestanya dirayakan pada hari Minggu antara tanggal 1 hingga 6 Januari, atau pada tanggal 2 Januari. (Sayangnya, pesta ini dihilangkan dalam revisi kalender liturgi pada tahun 1969 oleh Paus Paulus VI). Paus Pius IX pada tahun 1862 merestui Litani Nama Yesus yang Tersuci, yang kemudian oleh Paus Leo XIII disebarluaskan bagi seluruh Gereja karena ia “… begitu rindu menyaksikan meningkatnya devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci di antara umat beriman, terutama dalam masa ketika nama mahamulia ini dicemooh dan dilecehkan.”  

Paus Yohanes Paulus II menetapkan kembali Pesta Nama Yesus yang Tersuci agar dirayakan pada tanggal 3 Januari. Di samping itu, seruan dalam iman kepada Nama Yesus yang Tersuci sebagai bagian dari doa atau karya, dan pendarasan Litani Nama Yesus yang Tersuci masih memperoleh indulgensi sebagian bagi pemulihan dosa. Juga, Serikat Nama Yesus yang Tersuci, yang didirikan pertama kali pada tahun 1274 dan memperoleh status serikatnya pada tahun 1564, di tingkat paroki dan keuskupan terus menggalakkan penghormatan kepada nama Yesus, melakukan silih bagi dosa carut-marut dan hujat terhadap Nama Yesus yang Tersuci, dan pengudusan pribadi bagi para anggotanya.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Holy Name of Jesus” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 7:28:00 AM

Selasa, 01 Januari 2013

, ,

Busana Liturgis Imam Dalam Misa

oleh: P. William P. Saunders *


Saya selalu bertanya-tanya mengenai busana liturgis yang dikenakan imam dalam perayaan Misa. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Sterling


Busana-busana liturgis yang dikenakan dalam perayaan Misa mengalami perkembangan seturut berjalannya waktu. Namun demikian, sejak masa-masa awali Gereja, busana liturgis telah dikenakan oleh para imam untuk merayakan Misa. Walau para imam dari Perjanjian Lama mengenakan busana liturgis dalam ritus-ritus liturgis mereka, namun busana-busana liturgis “Kristiani” tidak sungguh diambil dari sana; tetapi, busana-busana liturgis Kristiani ini merupakan perkembangan dari busana Graeco-Romawi, termasuk budaya religiusnya. Meski begitu, gagasan dari Perjanjian Lama mengenai suatu busana khusus yang harus dikenakan dalam melaksanakan ritus-ritus liturgis sungguh mempengaruhi Gereja. St Hieronimus menegaskan, “Agama Ilahi memiliki satu busana dalam pelayanan hal-hal kudus, dan busana lain dalam interaksi dan hidup sehari-hari.” Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313M, Gereja terus menyempurnakan “siapa mengenakan apa, bilamana, dan bagaimana” hingga sekitar tahun 800 ketika norma-norma liturgis perihal busana pada dasarnya distandarisasi dan tetap sama hingga pembaharuan sesudah Konsili Vatikan Kedua.

Sekarang ini, untuk perayaan Misa, seorang imam mengenakan amik, alba, single, stola dan kasula.


AMIK, Tanda Perlindungan

Amik adalah selembar kain lenan putih berbentuk segi empat dengan dua tali panjang di dua ujungnya. Imam mengenakannya sekeliling leher, menutupi bahu dan pundak, menyilangkan kedua tali di depan (membentuk salib St Andreas), dan lalu membawa tali ke belakang punggung, melilitkannya sekeliling pinggang dan mengikatkannya dengan suatu simpul. Tujuan praktis amik adalah untuk menutupi jubah biasa imam, dan untuk menyerap keringat dari kepala dan leher. Di kalangan Graeco-Romawi, amik adalah penutup kepala, seringkali dikenakan di bawah topi baja para prajurit Romawi untuk menyerap keringat, dengan demikian mencegah keringat menetes ke mata. Tujuan rohani amik adalah mengingatkan imam akan nasehat St Paulus, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef 6:17).

Doa ketika mengenakan amik:
“Tuhan, letakkanlah pelindung keselamatan pada kepalaku untuk menangkis segala serangan setan.”


ALBA, Citra Kekudusan

Alba adalah pakaian putih panjang hingga sebatas pergelangan kaki, dan memiliki lengan panjang hingga pergelangan tangan. Kata “alba” dalam bahasa Latin artinya “putih”. Alba adalah pakaian luar yang umum dikenakan di kalangan Graeco-Romawi dan mirip dengan soutane yang dikenakan di Timur Tengah. Tetapi, mereka yang berwenang mengenakan alba dengan kualitas yang lebih baik dengan aneka sulaman atau gambar. Beberapa alba modern memiliki kerah sehingga amik tidak diperlukan lagi. Tujuan rohani alba adalah mengingatkan imam akan pembaptisannya, saat kain putih diselubungkan padanya guna melambangkan kemerdekaannya dari dosa, kemurnian hidup baru, dan martabat Kristiani. Di samping itu, Kitab Wahyu menggambarkan para kudus yang berdiri sekeliling altar Anak Domba di surga sebagai “Orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (7:14). Demikian pula imam wajib mempersembahkan Misa dengan kemurnian tubuh dan jiwa, dan dengan kelayakan martabat imamat Kristus. Di beberapa negara tropis, termasuk Indonesia, jika tidak ada alba, maka dapat dipakai jubah yang berwarna putih.

Doa ketika mengenakan alba:
“Sucikanlah aku, ya Tuhan, dan bersihkanlah hatiku, agar aku boleh menikmati kebahagiaan kekal karena telah dibasuh dalam darah Anak Domba.”


SINGEL, Tali Kesucian

Singel adalah tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan / merapikan alba. Singel merupakan simbol nilai kemurnian hati dan pengekangan diri. Singel dapat berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Di kalangan Graeco-Romawi, singel adalah bagaikan ikat pinggang. Tujuan rohani singel adalah mengingatkan imam akan nasehat St Petrus, Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Pet 1:13-15).

Doa ketika mengenakan singel:
“Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.”


STOLA, Lambang Penugasan Resmi

Stola adalah semacam selendang panjang, kira-kira 4 inci (± 10 cm) lebarnya, warnanya sama dengan kasula, yang dikalungkan pada leher. Stola diikatkan di pinggang dengan singel. Stola merupakan simbol bahwa pemakainya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat). Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakannya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan. Sebelum pembaharuan Konsili Vatikan Kedua, stola disilangkan di dada imam untuk melambangkan salib. Stola juga berasal dari budaya masa lampau. Para rabi mengenakan selendang doa dengan jumbai-jumbai sebagai tanda otoritas mereka. Stola yang disilangkan juga merupakan simbolisme dari ikat pinggang bersilang yang dikenakan para prajurit Romawi: satu ikat pinggang dengan pedang di pinggang, dan ikat pinggang lainnya dengan kantong perbekalan, misalnya air dan makanan. Dalam arti ini, stola mengingatkan imam bukan hanya pada otoritas dan martabatnya sebagai imam, melainkan juga tugas kewajibannya untuk mewartakan Sabda Allah dengan gagah berani dan penuh keyakinan (“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” Ibr 4:12) dan untuk melayani kebutuhan umat beriman. Sekarang, imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan. Stola yang sempit biasanya dikenakan di dalam kasula, sedangkan stola yang lebar dikenakan di atas kasula.

Doa ketika mengenakan stola:
“Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci.”


KASULA, Lambang Cinta dan Pengorbanan

Kasula, disebut juga planeta, adalah pakaian luar yang dikenakan di atas alba dan stola. Kasula merupakan busana khas imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan. Selama berabad-abad model kasula telah mengalami beberapa perubahan dan variasi. Kasula berasal dari kata Latin “casula” yang artinya “rumah”; kasula di kalangan Graeco-Romawi serupa sebuah mantol tanpa lengan yang sepenuhnya menutupi tubuh dan melindungi si pemakai dari cuaca buruk. Tujuan rohani kasula adalah mengingatkan imam akan kasih dan pengurbanan Kristus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).

Doa ketika mengenakan kasula:
“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: `kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.' Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmatmu. Amin.”


Pada Abad Pertengahan, muncul dua interpretasi populer mengenai makna busana liturgis ini. Interpretasi yang paling umum menafsirkan busana liturgis sebagai simbol sengsara Yesus: kain yang digunakan prajurit untuk menutup muka-Nya (amik) dan jubah (alba) sementara Ia diolok-olok dan disesah; tali-temali dan belenggu (singel) yang membelenggu-Nya sepanjang penderaan; salib (stola) yang Ia panggul; dan jubah tak berjahit (kasula) yang atasnya para prajurit membuang undi. Interpretasi lain yang juga populer lebih berfokus pada busana itu dari asal-usulnya yang dari militer Romawi, yang dipandang sebagai simbol imam sebagai laskar Kristus yang berperang melawan dosa dan setan.

Pada intinya, busana-busana liturgis yang dikenakan dalam perayaan Misa memiliki dua tujuan utama. Pertama, “Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis” (Pedoman Umum Misale Romawi No. 335). Kedua, busana liturgis mengilhami imam dan semua umat beriman untuk merenungkan arti simboliknya yang kaya makna.

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: Liturgical Vestments” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
tambahan : “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Busana Liturgis”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia)
gambar : “Vestments” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 2:50:00 PM
, ,

Wahai Perjamuan Yang Mulia dan Mengagumkan

oleh St Thomas Aquinas, Imam (1225 - 1274)

Oleh sebab adalah kehendak Putra Tunggal Allah bahwa manusia ikut ambil bagian dalam keilahian-Nya, maka Ia mengenakan kodrat kita agar dengan menjadi manusia Ia dapat mengilahikan manusia. Pula, ketika Ia mengambil daging kita, Ia mempersembahkan segenap kemanusiaan-Nya itu demi keselamatan kita. Ia mempersembahkan Tubuh-Nya kepada Allah Bapa di atas altar salib sebagai kurban demi pendamaian kita. Ia mencurahkan Darah-Nya demi penebusan dan pemurnian kita, agar kita dapat ditebus dari belenggu perbudakan dan dibasuh dari segala dosa. Tetapi, demi memastikan agar kenangan akan anugerah yang demikian agung itu tetap tinggal bersama kita selamanya, Ia meninggalkan Tubuh-Nya sebagai makanan dan Darah-Nya sebagai minuman umat beriman agar disantap dalam rupa roti dan anggur.

Wahai perjamuan yang mulia dan mengagumkan, yang mendatangkan keselamatan bagi kita dan yang sarat dengan segala kemanisan! Adakah sesuatu yang memiliki nilai intrinsik lebih daripada ini? Di bawah hukum lama, daging lembu dan kambing yang dipersembahkan; tetapi di sini Kristus Sendiri, Allah yang benar, disajikan di hadapan kita sebagai makanan kita. Adakah sesuatu yang lebih mengagumkan daripada ini? Tak ada sakramen lain yang memiliki kuasa penyembuhan lebih besar daripada Ekaristi; melalui Ekaristi dosa-dosa diampuni, keutamaan-keutamaan ditingkatkan, dan jiwa diperkaya dengan aneka karunia rohani yang berlimpah. Ekaristi dipersembahkan di Gereja bagi mereka yang hidup dan yang mati, sehingga apa yang ditetapkan bagi keselamatan semua orang dapat mendatangkan manfaat bagi semuanya. Namun, pada akhirnya, tak seorang pun dapat dengan sepenuhnya mengungkapkan kemanisan sakramen ini, di mana sukacita rohani dicecap hingga ke akarnya, dan di mana kita memperbaharui kenangan akan kasih mahaunggul Kristus bagi kita seperti dinyatakan dalam sengsara-Nya.

Adalah demi menanamkan kemaharahiman kasih ini dengan lebih teguh dalam hati umat beriman, maka Tuhan kita menetapkan Sakramen Ekaristi pada Perjamuan Malam Terakhir. Sebab Ia hendak meninggalkan dunia untuk pergi kepada Bapa, setelah merayakan Paskah bersama para murid-Nya, Ia meninggalkannya sebagai kenangan abadi akan sengsara-Nya. Ekaristi adalah kegenapan dari pralambang di masa lampau dan yang teragung dari segala mukjizat-Nya, sementara bagi mereka yang akan mengalami dukacita atas kepergian-Nya, Ekaristi ditetapkan untuk menjadi suatu penghiburan yang unik, yang tinggal abadi di tengah-tengah mereka.




PERAYAAN MISA MENURUT PARA KUDUS

 “Oh, betapa misteri yang mengagumkam terjadi sepanjang Misa Kudus! … Suatu hari kelak kita akan tahu apa yang diperbuat Allah bagi kita di setiap Misa, dan karunia-karunia apa saja yang Ia persiapkan bagi kita dalam Misa. Hanya kasih ilahi-Nya yang memungkinkan karunia yang sedemikian itu dianugerahkan kepada kita… sumber kehidupan ini memancar dengan segala kemanisan dan kuasa…”
~ St Faustina Kowalska

“Tak ada yang begitu membahagiakan, begitu merasuki hati, begitu menggetarkan, begitu menguasai jiwa, seperti Misa, yang dipersembahkan di antara kita. Aku dapat ikut ambil bagian dalam Misa untuk selamanya, dan tidak menjadi lelah. Misa bukanlah sekedar kata-kata belaka; melainkan suatu tindakan yang agung. Tindakan yang paling luhur yang dapat dilakukan di dunia. Misa adalah … menghadirkan Yang Kekal.”
~ Ven. Kardinal Yohanes Henry Newman

 “Ikutlah ambil bagian dalam Misa setiap hari; maka sepanjang harimu akan berhasil baik. Segala tugas kewajibanmu akan terselenggara dengan lebih baik, dan jiwamu akan lebih dikuatkan dalam menanggung salibnya setiap hari. Misa adalah tindakan religius yang paling agung mulia; engkau tak dapat melakukan suatu pun yang dapat mendatangkan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan sekaligus mendatangkan lebih banyak manfaat bagi jiwamu selain dari ikut ambil bagian dalam Misa dengan kerap dan saleh. Misa adalah sembah sujud kesukaan para kudus.”
~ St Petrus Yulianus Eymard
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 2:32:00 PM
,

Tanda Salib

oleh: P. William P. Saunders *

Apa sesungguhnya makna Tanda Salib dan mengapa kita melakukannya?
Bilamana dan bagaimana praktek ini berasal?
~ seorang pembaca di Falls Church

Tanda Salib merupakan suatu gerakan yang indah, yang mengingatkan umat beriman pada salib keselamatan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus. Secara teknis, Tanda Salib merupakan sakramentali, suatu lambang sakral yang ditetapkan Gereja guna mempersiapkan orang untuk menerima rahmat, dan yang menguduskan suatu saat atau peristiwa. Seiring pemikiran tersebut, gerakan ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana untuk memulai dan mengakhiri doa serta Misa.

Para Bapa Gereja awali menegaskan penggunaan Tanda Salib. Tertulianus (wafat 250) menggambarkan kebiasaan membuat Tanda salib: “Dalam segala kegiatan dan gerakan, setiap kali kami datang maupun pergi, saat mengenakan sepatu, saat mandi, saat makan, saat menyalakan lilin, saat berbaring, saat duduk, dalam segala apapun yang kami lakukan, kami menandai dahi kami dengan Tanda Salib” (De corona, 30).

St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386) dalam Pengajaran Katekesenya menyatakan, “Jadi, marilah kita tanpa malu-malu mengakui Yang Tersalib. Jadikan Salib sebagai meterai kita, yang dibuat dengan mantap menggunakan jari-jari di dahi kita dan dalam segala kesempatan; atas roti yang kita makan dan cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita berbaring dan saat kita terjaga; saat kita bepergian, dan saat kita beristirahat” (Katekese, 13). Lama-kelamaan, Tanda Salib dimasukkan dalam berbagai tindakan dalam Misa, misalnya menandai diri tiga kali di dahi, bibir dan hati saat Injil hendak dibacakan atau saat menyampaikan berkat dan saat menandai roti dan anggur persembahan yang dimulai sekitar abad kesembilan.

Cara resmi paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Tanda Salib dibuat dari dahi ke dada, dan kemudian dari bahu kanan ke bahu kiri. Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah ditangkupkan sebagai lambang Tritunggal Mahakudus - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Di samping itu, ketiga jari ditangkupkan sedemikian rupa hingga melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat): jari telunjuk yang lurus melambangkan I; jari tengah saling bersilangan dengan ibu jari melambangkan X; dan jari tengah yang bengkok melambangkan C. Jari manis dan jari kelingking dilipat ke arah telapak tangan, melambangkan kesatuan kodrat manusia dan kodrat ilahi, kehendak manusia dan kehendak ilahi dalam pribadi Kristus. Cara membuat Tanda Salib seperti ini umum dilakukan di kalangan seluruh Gereja hingga sekitar abad keduabelas, tetapi hingga sekarang masih tetap dipraktekkan dalam Gereja-gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja-gereja Orthodox.

Suatu instruksi dari Paus Inosensius III (1198 - 1216) membuktikan adanya tradisi praktek tersebut, sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam praktek Gereja Katolik Ritus Latin, “Tanda Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).” Sembari memperhatikan kebiasaan membuat Tanda Salib dari bahu kanan ke bahu kiri, yang dilakukan baik oleh gereja-gereja barat maupun timur, Paus Inosensius melanjutkan, “Namun demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan, sebab dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus. [Sebagian imam] melakukannya dengan cara ini, sehingga mereka dan umat menandai diri mereka dengan cara yang sama. Kalian dapat dengan mudah membuktikannya - bayangkan imam menghadap umat untuk menyampaikan berkat - ketika kami membuat Tanda Salib atas umat, kami melakukannya dari kiri ke kanan…” Karenanya, sejak saat itu umat beriman mulai meniru imam dalam menyampaikan berkat, dari bahu kiri ke bahu kanan dengan tangan terbuka. Lama-kelamaan, praktek ini menjadi cara yang biasa digunakan dalam Gereja Barat.       

Dalam karya klasik, “Upacara-upacara Ritus Romawi” tulisan Adrian Fortescue dan J. B. O'Connell, Tanda Salib dibuat dengan cara berikut: “Letakkanlah tangan kiri dengan telapak terbuka di bawah dada. Tangan kanan terbuka juga. Pada saat menyerukan Patris [Bapa] angkatlah tangan kanan dan sentuhkan kening; saat menyerukan Filii [Putra], sentuhlah dada agak ke bawah, tetapi di atas tangan kiri; saat menyerukan Spiritus Sancti [Roh Kudus], sentuhlah bahu kiri dan kanan; saat menyerukan Amin, tangkupkan kedua tangan jika perlu.” Meskipun praktek ini telah berkembang dari bentuk asalnya dan kini masih dipraktekkan dalam Ritus Timur, tetapi telah menjadi praktek yang biasa dilakukan pula dalam Gereja Ritus Latin selama beberapa abad.  

Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan dengan khidmat dan saleh. Umat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus, dogma inti yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah ingat bahwa Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia, yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di atas altar salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar akan betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada mereka yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh sebab itu, marilah setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak dengan sembarangan ataupun ceroboh.  

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Sign of the Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 2:29:00 PM

Senin, 31 Desember 2012

Katekese Tentang Imamat

oleh: St. Yohanes Maria Vianney
Imam dalam Konsekrasi

Anak-anakku, kita telah sampai pada Sakramen Imamat, yaitu sakramen yang tampaknya tidak ada sangkut pautnya dengan satu pun di antara kalian, namun demikian sesungguhnya sakramen ini menyangkut semua orang. Sakramen Imamat menaikkan manusia hingga sampai pada Tuhan. Betapa luar biasanya seorang imam! Seseorang yang menduduki tempat Tuhan - seseorang yang diperlengkapi dengan segala kuasa Allah. “Pergilah,” demikian sabda Kristus kepada para imam, “sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi, karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku.” Ketika seorang imam mengampuni dosa, ia tidak mengatakan, “Tuhan mengampuni dosa-dosamu”; ia mengatakan “Saya mengampuni dosa-dosamu”. Pada saat Konsekrasi, imam tidak mengatakan, “Inilah Tubuh Kristus”; ia mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku”.

St. Bernardus mengatakan bahwa segala sesuatu kita peroleh melalui Maria; kita juga boleh mengatakan bahwa segala sesuatu kita peroleh melalui imam. Ya, segala sukacita, segala rahmat, segala karunia surgawi. Seandainya kita tidak memiliki Sakramen Imamat, kita tidak akan memiliki Kristus. Siapakah yang menempatkan Ia di sana, dalam tabernakel? Imam. Siapakah yang menerima jiwamu pada saat jiwamu memasuki kehidupan? Imam. Siapakah yang memberi jiwamu makanan, memberinya kekuatan agar mampu menyelesaikan ziarahnya? Imam. Siapakah yang mempersiapkan jiwamu agar layak di hadapan Tuhan dengan membasuhnya, pada saat terakhir, dalam Darah Yesus Kristus? Imam - selalu imam. Dan apabila jiwamu sampai pada ajalnya, siapakah yang akan membangkitkannya, yang mohon agar jiwamu beristirahat dalam tenang dan damai? Sekali lagi imam. Kamu tidak akan dapat memikirkan satu berkat pun dari Tuhan tanpa sekaligus memikirkan juga gambaran seorang imam.

Pergilah mengaku dosa kepada Bunda Maria, atau kepada seorang malaikat; apakah mereka akan mengampuni dosa-dosamu? Tidak. Apakah mereka akan memberimu Tubuh dan Darah Kristus? Tidak. Santa Perawan tidak dapat menghadirkan Putra Ilahinya dalam Hosti. Mungkin kamu ada bersama dua ratus orang malaikat, tetapi mereka tidak dapat mengampuni dosa-dosamu. Tetapi imam, betapa pun sederhananya dia, mempunyai kuasa untuk melakukannya; ia dapat mengatakan kepadamu, “Pergilah dalam damai; saya mengampuni dosa-dosamu”. Oh, betapa mengagumkannya seorang imam! Imam sendiri tidak akan mampu memahami betapa besar kuasa yang diberikan kepadanya hingga ia tiba di surga kelak. Jika saja ia mampu memahaminya di dunia ini, ia akan mati, bukan karena ketakutan, melainkan karena cinta.

Rahmat-rahmat Tuhan lainnya tak akan ada gunanya bagi kita tanpa imam. Apakah gunanya sebuah rumah penuh emas berlimpah, jika tak ada seorang pun yang membukakan pintunya bagimu! Imam memiliki kunci harta pusaka surgawi; imamlah yang membukakan pintunya bagimu; imam adalah pelayan Allah yang baik, penyalur harta kekayaan-Nya. Tanpa imam, Wafat dan Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus tak akan ada artinya sama sekali. Lihat orang-orang tak ber-Tuhan itu; apakah gunanya Kristus telah wafat bagi mereka? Sayang sekali! Mereka tidak mendapat bagian dalam rahmat Penebusan; mereka tidak mempunyai imam yang membasuh jiwa-jiwa mereka dengan Darah-Nya!

Seorang imam bukanlah imam bagi dirinya sendiri; ia tidak dapat mengampuni dirinya sendiri; ia tidak dapat menerimakan sakramen-sakramen pada dirinya sendiri. Seorang imam bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untukmu. Sesudah Tuhan, imam adalah segalanya. Biarkan suatu paroki tanpa imam selama dua puluh tahun; maka umat akan menyembah berhala. Apabila Pastor misionaris dan saya hendak pergi, kalian akan mengatakan, “Apa yang dapat kami lakukan di gereja? Tidak ada Misa; Tuhan tidak lagi ada di sana; lebih baik kami berdoa saja di rumah.” Jika orang hendak membinasakan agama Katolik, mereka akan mulai dengan menyerang para imam, sebab jika tidak ada lagi imam, tidak akan ada lagi kurban, dan jika tidak ada lagi kurban, tidak akan ada lagi agama.

Ketika lonceng gereja berdentang memanggilmu ke gereja dan orang bertanya, “Ke manakah engkau hendak pergi?” Kamu akan menjawab, “Aku pergi untuk memberi makan jiwaku.” Dan apabila orang bertanya kepadamu sambil menunjuk tabernakel, “Tempat apakah pintu emas itu?” “Itulah tempat penyimpanan kami, di mana Santapan sejati bagi jiwa kami disimpan.” “Siapakah yang memiliki kuncinya? Siapakah yang menyimpan makanannya? Siapakah yang mempersiapkan perjamuannya, dan siapakah yang melayani perjamuan?” “Imam.” Dan apakah Santapannya?” “Tubuh dan Darah Kristus yang mulia” Oh, Tuhan! Oh, Tuhan! Betapa Engkau telah mengasihi kami! Lihatlah kuasa yang diberikan kepada imam; dengan perkataan seorang imam, sekeping roti diubah menjadi Tuhan. Hal ini lebih dahsyat daripada penciptaan dunia! Seorang bertanya, “Apakah jika demikian St. Philomena taat pada Imam dari Ars?” “Tentu saja, St. Philomena pasti taat padanya, karena Tuhan sendiri taat padanya.”

Jika aku berjumpa dengan seorang imam dan seorang malaikat, sudah sepatutnya aku memberi salam terlebih dahulu kepada imam sebelum aku memberi salam kepada malaikat. Malaikat adalah sahabat Tuhan; tetapi imam menduduki tempat-Nya. St. Theresia mencium tanah di mana seorang imam baru saja lewat. Apabila kamu berjumpa dengan seorang imam, katakanlah, “Inilah dia yang menjadikan aku anak Allah, yang membukakan pintu Surga bagiku dengan Sakramen Baptis yang kudus; yang menyucikan aku setelah aku berdosa; yang memberikan makanan bagi jiwaku.” Sementara memandang menara gereja, katakanlah, “Apakah itu yang ada di sana?” “Tubuh Kristus” “Mengapakah Ia di sana?” “Karena seorang imam ada di sana dan mempersembahkan Misa Kudus”.

Betapa sukacita memenuhi hati para rasul setelah Kebangkitan Kristus, saat mereka melihat Tuhan yang sangat mereka kasihi! Seorang imam pastilah merasakan sukacita yang sama, saat ia melihat Tuhan yang ia pegang dengan tangannya. Penghargaan tinggi diberikan pada benda-benda yang diletakkan dalam piala minum Santa Perawan dan Kanak-kanak Yesus di Loretto. Tetapi jari-jari imam, yang menyentuh Tubuh Yesus Kristus yang kita agungkan, yang menggenggam piala berisi Darah-Nya, yang mengunjukkan patena di mana Tubuh-Nya ditempatkan, tidakkah jauh lebih berharga? Imam adalah jantung Hati Yesus. Jika kamu melihat seorang imam, pikirkanlah Tuhan kita Yesus Kristus.

sumber : Catechism on the Priesthood by Saint John Vianney; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher: Unknown - 5:39:00 PM
,

Martirium

oleh: P. William P. Saunders *

St. Polikarpus
St Polikarpus
St Ignatius dari Antiokhia


Katekismus menyatakan, “Martirium adalah kesaksian teragung yang dapat diberikan orang untuk kebenaran iman; itulah kesaksian sampai mati” (No. 2473). Daripada mengingkari imannya, seorang martir lebih suka memberikan kesaksian dengan kebesaran hati yang luar biasa akan keyakinan bahwa Kristus menderita sengsara, wafat dan bangkit dari antara orang mati demi keselamatan kita, dan akan kebenaran iman Katolik kita. Kata martir sendiri berarti “saksi”.

Kitab Suci mencatat kisah-kisah kepahlawanan baik dari laki-laki maupun perempuan yang lebih suka mati sebagai martir daripada mengingkari iman mereka atau tidak setia pada hukum Allah. Dalam Perjanjian Lama, Susana lebih suka mati daripada menyerahkan diri pada hasrat dosa kedua hakim yang fasik (Daniel 13). Yohanes Pembaptis menolak untuk berkompromi dengan kejahatan dan tak hentinya memaklumkan hukum Allah; hingga pada akhirnya ia “memberikan nyawanya sebagai saksi kebenaran dan keadilan” (Doa Pembuka pada Peringatan Wafatnya St Yohanes Pembaptis). St Stefanus, salah seorang dari para diakon pertama Gereja, adalah juga martir yang pertama (Kis 6:8dst), diikuti kemudian oleh Rasul St Yakobus Tua (Kis 12:2).

Kesaksian para martir ini menjadi satu dalam penglihatan apokaliptik Kitab Wahyu. St Yohanes melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba. Dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” Ketika ditanya, siapakah orang-orang itu, terdengar jawaban, “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (bdk Why 7:9-17).

Pemahaman spiritual yang mendasari tindakan martirium adalah pemahaman yang wajib diterima setiap umat Kristiani. Dalam mengajarkan syarat-syarat untuk menjadi seorang murid sejati, Tuhan kita menegaskan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:24-26). Ya, setiap umat Kristiani harus siap memikul salib, bahkan jika itu berarti kehilangan nyawa di dunia ini.  

Dengan berbesar hati memikul salib, seorang Kristiani akan beroleh berkat dalam pandangan Tuhan. Dalam Sabda Bahagia, sikap hidup yang benar, yang mendatangkan rahmat persatuan dengan Tuhan, dinyatakan dalam Sabda Bahagia kedelapan, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Lebih lanjut, Yesus mempertegasnya, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Walau demikian, tujuan utamanya bukanlah sekedar menderita di sini dan sekarang ini demi iman, melainkan kebesaran hati dan ketekunan yang menghantar orang pada hidup yang kekal, “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga” (bdk Mat 5:10-12).

Pemahaman spiritual ini dengan sangat indah diwujud-nyatakan dalam kesaksian iman para martir Gereja perdana pada masa penganiayaan oleh bangsa Romawi. Sebagai contoh, St Ignatius dari Antiokhia (wafat 110), yang adalah Uskup Antiokhia yang ketiga, penerus St Evodius (yang adalah penerus St Petrus Rasul), dan yang adalah murid St Yohanes Rasul, dijatuhi hukuman mati oleh Kaisar Trajan dengan dilemparkan ke arena sebagai mangsa binatang-binatang buas. Dalam perjalanan ke Roma di mana ia akan dieksekusi, ia menulis tujuh pucuk surat, termasuk satu surat kepada orang-orang Romawi, di mana ia merefleksikan mengenai hukuman mati yang menantinya, “Biarlah aku menjadi mangsa binatang-binatang buas, karena dengan demikian mungkinlah bagiku untuk sampai kepada Allah. Aku adalah gandum Tuhan, dan aku akan digiling dalam gigi bintang-binatang buas agar aku dapat menjadi roti Kristus yang murni.” Dan lagi “Segala ujung bumi dan segala kerajaan dunia ini tidak berguna sedikitpun bagiku. Lebih baiklah bagiku, mati untuk Kristus daripada hidup sebagai raja sampai ke ujung bumi. Aku mencari Dia yang sudah mati untuk kita; aku menghendaki Dia yang telah bangkit demi kepentingan kita. Saat kelahiranku sudah di ambang pintu” (epistula ad Romanos).

Suatu kesaksian iman luar biasa lainnya pada masa itu adalah kesaksian St Polikarpus, Uskup Smyrna, yang adalah sahabat St Ignatius dan yang adalah juga murid St Yohanes Rasul dan ditahbiskan sebagai uskup oleh St Yohanes. Karena menolak mempersembahkan kurban bagi dewa-dewa berhala Romawi dan menolak keallahan kaisar, St Polikarpus dijatuhi hukuman mati dengan dibakar di atas tiang pancang dalam usia delapanpuluh enam tahun, pada masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius. Sementara tumpukan kayu hendak dinyalakan, St Polikarpus berdoa, “Aku bersyukur kepada-Mu karena telah menganggapku layak, dan memasukkanku ke dalam kelompok para saksi berdarah pada hari ini dan pada saat ini… Engkau memegang janji-Mu, Allah kesetiaan dan kebenaran. Untuk rahmat ini dan untuk segala sesuatu, aku memuji Engkau, aku memuliakan Engkau dan meluhurkan Engkau dengan pengantaraan Yesus Kristus, Imam Agung surgawi yang kekal, PutraMu yang kekasih. Dengan pengantaraan Dia, yang hidup bersama Engkau dan Roh Kudus, terpujilah Engkau sekarang dan selama-lamanya. Amin” (Martyrium Polycarpi).

Dalam membela martirium, Tertulianus (wafat 250) menulis dalam `Apologeticus', “Salibkan kami, aniaya kami, bunuh kami, binasakan kami. Kejahatanmu adalah bukti ketidakbersalahan kami, sebab itulah Tuhan membiarkan kami mengalami sengsara ini. Ketika baru-baru ini engkau menjatuhkan hukuman kepada seorang gadis Kristiani dengan menyerahkannya kepada seorang mucikari dan bukannya kepada seekor harimau, sesungguhnya engkau menyadari dan mengakui secara terbuka bahwa bagi kami, suatu noda dalam kemurnian kami jauh lebih menakutkan daripada hukuman apapun dan lebih mengerikan daripada maut. Walau demikian, kekejianmu yang dahysat itu tak menghasilkan apa-apa; malahan merupakan suatu umpan bagi agama kami. Semakin kami ditebas olehmu, semakin menjadi banyaklah jumlah kami. Darah para martir adalah benih Kristiani.”

Tak diragukan lagi, walau dianiaya dengan hebat, Gereja terus bertahan dan berkembang, teristimewa dengan ditopang oleh kesaksian para saksi iman yang gagah berani dan doa-doa para martir yang kudus. Dalam Anjuran Apostolik “Gereja di Asia”, Paus Yohanes Paulus II memberikan perhatian pada penganiayaan Gereja, dan dengan menggemakan kembali seruan Tertulianus, beliau memaklumkan, “Semoga mereka berdiri tegak sebagai saksi-saksi kebenaran yang tak terkalahkan akan kebenaran, bahwa umat Kristiani selalu dan di mana-mana dipanggil untuk mewartakan tidak lain kecuali kuasa Salib Tuhan! Dan semoga darah para martir Asia sekarang seperti senantiasa merupakan benih hidup baru bagi Gereja di setiap penjuru benua!” (No. 49).

Bapa Suci Yohanes Paulus II senantiasa memberikan perhatian besar pada kesaksian para martir Gereja kita, teristimewa mereka yang wafat pada abad ini, khususnya selama masa penganiayaan yang dilancarkan oleh Nazi dan Komunis. Setiap benua telah dibasahi oleh darah para martir. Bapa Suci menerangkan martirium sebagai “bukti yang paling cemerlang bagi kebenaran iman; sebab iman dapat memberi wajah manusiawi bahkan kepada peristiwa-peristiwa maut yang penuh kekerasan, dan menunjukkan keindahannya bahkan di tengah pelbagai penganiayaan yang paling mengerikan” (Incarnationis Mysterium, No. 13).

Menurut Sri Paus, “bukti iman” ini membuktikan tiga hal. Pertama, martirium merupakan penegasan bahwa tatanan moral tidak boleh dilanggar - baik kebenaran dan kekudusan hukum Allah, maupun martabat pribadi manusia. Kedua, martirium merupakan suatu pujian dari suatu “kemanusiaan” yang sempurna dari seseorang serta pujian terhadap “hidup” sejati. Di sini, Bapa Suci mengutip pernyataan St Ignatius dari Antiokhia, “Saudara-saudara, berbelaskasihanlah padaku: jangan menghalangiku dari kehidupan; jangan menginginkan kematianku…. Biarkanlah aku sampai kepada cahaya yang murni; sekali sudah di sana aku akan sungguh-sungguh menjadi seorang manusia. Biarkan aku meneladani sengsara Tuhanku” (Ad Romanos). Ketiga, martirium merupakan suatu tanda yang menonjol dari kekudusan Gereja, dengan memberikan kesaksian sepenuhnya mengenai kebenaran. Singkat kata, “lewat contoh hidup mereka yang jelas dan menarik, yang sepenuhnya sudah diubah oleh cahaya kebenaran moral, para martir dan, pada umumnya, semua santo Gereja, menerangi tiap periode dalam sejarah dengan membangkitkan kembali kepekaan moralnya” (Cahaya Kebenaran, No. 93).

Sebab itu, sementara kita mendekati akhir tahun liturgi dan bersiap diri merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, baiklah kita memberikan perhatian pada para martir Gereja kita, oleh sebab kesaksian iman mereka menyemangati kita dan memberi kita pengharapan besar. Dengan rahmat Tuhan, kiranya kita boleh mempersembahkan diri pada Tuhan dan GerejaNya, dengan iman seperti yang mereka teladankan. Marilah mencamkan dalam hati kata-kata St Paulus ini, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr 12:1-2).


* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Church in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Understanding Martyrs” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Publisher: Unknown - 6:13:00 AM
,

Malaikat Agung dan Malaikat Pelindung

oleh: P. William P. Saunders *

Kitab Suci mencatat nama tiga malaikat yang adalah utusan utama Allah, yaitu St Mikhael, St Rafael, dan St Gabriel. Mereka disebut malaikat agung oleh karena peran penting mereka dalam rencana Allah. St Mikhael, yang namanya berarti, “siapa yang seperti Allah”, memimpin bala tentara malaikat yang mencampakkan setan dan para malaikat yang memberontak ke dalam neraka; pada akhir zaman, St Mikhael akan menghunus pedang keadilan guna memisahkan yang baik dari yang jahat (bdk Why 12:7dst). St Gabriel, yang namanya berarti, “kekuatan Allah” menyampaikan kabar kepada Santa Perawan Maria bahwa ia telah dipilih menjadi Bunda Sang Juruselamat (bdk Luk 1:26-38). St Rafael, yang namanya berarti “kesembuhan dari Allah”, menyembuhkan mata Tobit yang buta (bdk Tobit 5).

Para malaikat adalah juga pelindung kita. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan dan doa permohonan” (No. 336). St Basilius (wafat 379) menegaskan, “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (Adversus Eunomium, III, 1). Sebagian besar dari kita, semenjak kecil telah belajar mendaraskan doa sederhana kepada malaikat pelindung kita, “Malaikat Allah, pelindungku tersayang, dengan perantaraan siapa kasih Allah dinyatakan kepadaku. Sejak saat ini dampingilah aku, untuk menerangi, melindungi, memimpin dan membimbingku.” Sebagian dari para kudus dapat melihat malaikat, seperti St Petrus (Kis 12:1-19), atau melihat malaikat pelindung mereka, seperti St Padre Pio dan St Elizabeth dari Hungaria.

Di samping itu, sebagai umat Katolik, kita ingat peran penting St Mikhael dalam membela kita melawan setan dan kuasa-kuasa jahat. Di penghujung abad ke-19, Paus Leo XIII (wafat 1903) mendapat penglihatan yang menubuatkan datangnya abad penderitaan dan perang. Dalam penglihatan tersebut, Tuhan mengijinkan setan memilih suatu abad di mana ia boleh melancarkan serangan-serangannya yang paling dahsyat melawan Gereja. Iblis memilih abad ke-20. Bapa Suci begitu tergerak hatinya oleh penglihatan ini hingga beliau menyusun suatu doa kepada Malaikat Agung St Mikhael, “Malaikat Agung St. Mikhael, belalah kami dalam peperangan. Jadilah pelindung kami dalam melawan segala kejahatan dan jebakan setan. Kami mohon dengan rendah hati agar Allah menaklukkannya, dan engkau, O panglima balatentara surgawi, dengan kuasa Ilahi, usirlah ke neraka setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di seluruh dunia yang hendak menghancurkan jiwa-jiwa. Amin.” Selama bertahun-tahun, doa ini didaraskan pada akhir Misa Kudus guna menumbangkan komunisme. Segenap umat beriman sepatutnya kembali berseru memohon pertolongan St Mikhael dalam memberantas kejahatan-kejahat dahsyat yang merajalela dalam dunia - aborsi, eutanasia, terorisme, pembantaian bangsa-bangsa tertentu, perkawinan sesama jenis, dan lain sebagainya.

Sebagai warga Gereja, kita menyadari peran serta para malaikat dalam kegiatan liturgi kita. Dalam Misa Kudus, pada bagian Prefasi sebelum Doa Syukur Agung, kita menggabungkan diri bersama segenap malaikat dan para kudus untuk melambungan madah pujian, “Kudus, kudus, kudus….” Dalam Doa Syukur Agung I, imam berdoa, “Allah yang Mahakuasa, utuslah malaikat-Mu yang kudus mengantar persembahan ini ke altar-Mu yang luhur.” Dalam Aklamasi Akhir Liturgi Pemakaman, imam berdoa, “Kiranya para malaikat menghantarmu ke dalam Firdaus; kiranya para martir datang menyambutmu dan membawamu ke kota suci, Yerusalem baru yang abadi.” Di samping itu, dalam penanggalan liturgi kita merayakan Pesta Para Malaikat Agung pada tanggal 29 September dan Pesta Para Malaikat Pelindung pada tanggal 2 Oktober.

Dalam doa-doa dan aktivitas harian kita, sepatutnyalah kita ingat akan para utusan Allah ini yang oleh karena kasih-Nya melindungi hidup kita dari malapetaka dan membimbing kita di jalan keselamatan.


* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Archangels and Guardian Angels” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.
Publisher: Unknown - 6:10:00 AM