Tampilkan postingan dengan label Santo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2013

,

Santo Yohanes Bosco

Yesus & Bunda Maria Memanggilnya Dalam Suatu Mimpi


Yohanes Bosco adalah santo yang paling keren bagi kaum muda. Ia membaktikan seluruh hidupnya bagi para remaja. Yohanes Bosco seorang yang peramah, suka bercanda, ahli sulap dan akrobat. Ia sungguh amat menyenangkan, kamu pasti akan tertawa terpingkal-pingkal jika bersamanya!

   MASA KECIL
Yohanes Bosco dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1815,  di Becchi, sebuah dusun kecil di Castelnuovo d'Asti (sekarang namanya Castelnuovo Don Bosco), Italia. Ayahnya, Francesco, seorang petani yang miskin. Francesco mempunyai tiga orang putera: Antonio (dari isteri pertamanya yang telah meninggal dunia), Yusuf dan Yohanes. Francesco meninggal dunia saat Yohanes baru berusia dua tahun.

Ibunya, Margarita, dengan segala daya upaya dan kerja keras berusaha menghidupi keluarganya. Namun demikian kerja keras dan kemiskinan tidak menghalangi Margarita untuk senantiasa menceritakan kepada anak-anaknya segala kebaikan Tuhan: siang dan malam, bunga-bunga dan bintang-bintang, “Oh, betapa indahnya Tuhan menjadikan segala sesuatu untuk kita!”, kata mama Margarita. Diajarkannya kepada Yohanes kecil bagaimana mengolah tanah dan bagaimana menemukan Tuhan yang ada di surga yang indah melalui panen yang berlimpah dan melalui hujan yang menyirami tumbuh-tumbuhan.  Di gereja, Mama Margarita berdoa dengan khusuk, ia mengajari anak-anaknya untuk melakukan hal yang sama. Bagi Yohanes, berdoa berarti berbicara kepada Tuhan dengan kaki berlutut di atas lantai dapur, berdoa juga berarti berpikir tentang-Nya ketika ia sedang duduk di atas rerumputan sambil menatap ke arah surga. Dari ibunya, Yohanes belajar melihat Tuhan dalam wajah sesama, yaitu mereka yang miskin, mereka yang sengsara, mereka yang datang mengetuk rumah mereka sepanjang musim dingin, dan yang kepada siapa Mama Margarita memberikan tumpangan, menyuguhkan sup hangat serta membagikan makanan dari kemiskinan mereka.

   MIMPI YANG MENAKJUBKAN
Yohanes Bosco dan Tamu AgungPada usia sembilan tahun untuk pertama kalinya Yohanes mendapat mimpi yang amat menakjubkan yang menggambarkan keseluruhan hidupnya kelak. Dalam mimpinya Yohanes sedang berada di lapangan yang luas. Ia melihat banyak sekali anak di sana, ada yang tertawa, bermain dan ada pula yang bersumpah serapah. Yohanes tidak suka anak-anak itu menghina Tuhan. Ia segera berlari untuk menghentikan mereka sambil berteriak dan mengepalkan tinjunya.

Tampaklah “Seorang yang Agung” berpakaian jubah putih dan wajah-Nya bersinar. Ia memanggil Yohanes dengan namanya, memintanya agar tenang serta menasehatinya:

“Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kelemahlembutan serta belas kasih, kamu akan menjadikan mereka semua teman-temanmu. Beritahukanlah kepada mereka keburukan dosa dan ganjaran kebajikan.”

“Tidak tahukah Engkau,” bisik Yohanes kecil, “bahwa hal itu tidak mungkin?”

“Apa yang tampaknya tidak mungkin bagimu, kamu akan menjadikannya mungkin jika saja kamu melakukannya dengan ketulusan hati dan pengetahuan.”

“Di mana dan bagaimana aku memperoleh pengetahuan?”

Aku akan memberimu seorang Bunda, dengan bimbingan darinya saja seseorang akan menjadi bijaksana, tanpa bimbingannya semua pengetahuan tidak ada gunanya.”

“Tetapi siapakah Engkau yang berbicara seperti itu?”

“Aku adalah Putera dari Surga. Ibumu telah mengajarkan kepadamu untuk menghormati-Ku tiga kali sehari.”

“Ibuku melarangku untuk berbicara dengan seseorang yang tidak aku kenal. Katakanlah siapa nama-Mu.”

“Tanyakan nama-Ku kepada ibu-Ku.”

Kemudian, tampaklah seorang wanita yang amat anggun. Ia mengenakan gaun panjang yang berkilau-kilauan, seolah-olah jubahnya itu terbuat dari bintang-bintang yang paling cemerlang. Wanita itu memberi isyarat kepada Yohanes untuk datang mendekat kepadanya. Dengan lembut diraihnya tangan Yohanes, katanya, "Lihatlah."

Gerombolan anak-anak lenyap. Yang tampak oleh Yohanes sekarang ialah sekawanan binatang buas: kambing liar, harimau, serigala, beruang….   

“Inilah tempat di mana kamu harus bekerja. Jadikan dirimu rendah hati, kuat dan penuh semangat. Apa yang kamu lihat terjadi pada binatang-binatang buas ini, kamu harus melakukannya kepada anak-anakku.”

Yohanes melihat bahwa binatang-binatang buas itu kini telah berubah menjadi sekumpulan besar anak domba yang jinak, berkerumun dan berdesak-desakan di sekitar Kedua Tamu Agungnya. Melihat itu Yohanes menangis dan minta penjelasan dari Si Wanita karena ia sama sekali tidak mengerti apa arti semua itu. Wanita itu membelainya dan berkata:

“Kamu akan mengerti semuanya jika waktunya telah tiba.”

Yohanes terbangun dan ia tidak dapat tidur kembali.Tahun-tahun mendatang dalam hidupnya telah dinyatakan dalam mimpi itu. Mama Margarita dan Yohanes percaya bahwa mimpi itu adalah gambaran jalan hidup Yohanes kelak.

   AHLI SULAP DAN AKROBAT
Sejak itu Yohanes senantiasa berusaha berbuat baik kepada teman-temannya. Ketika terompet pemain sirkus berbunyi untuk mengumumkan adanya pesta lokal di sebuah bukit di dekat situ, Yohanes pergi dengan penuh semangat dan duduk di baris terdepan. Rombongan sirkus itu menampilkan badut, sulap, permainan-permainan dan akrobat. Yohanes memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan mempelajari semua atraksi yang ditampilkan.
Sepulangnya dari pertunjukan sirkus, Yohanes mulai meniru atraksi-atraksi yang ditampilkan. Ia gagal, tergelincir, jatuh dan badannya memar, tetapi tekadnya kuat. Ia pantang menyerah, sebab pikirnya, "Jika mereka dapat melakukannya, mengapa aku tidak?" Wah, pastilah malaikat pelindungnya menjadi sibuk sekali mengawasi dia. Yohanes terus berlatih hingga suatu hari Minggu sore, ia mempertunjukkan kebolehannya di hadapan anak-anak tetangga. Ia memperagakan keseimbangan tubuh dengan wajan dan panci di ujung hidungnya. Kemudian ia melompat ke atas tali yang direntangkan di antara dua pohon dan berjalan di atasnya diiringi tepuk tangan penonton. Sebelum pertunjukan yang hebat itu diakhiri, Yohanes mengulang khotbah yang ia dengar dalam Misa pagi kepada teman-temannya itu, dan mengajak mereka semua berdoa.
Kabar mengenai pertunjukan yang diselenggarakan Yohanes tersiar hingga ke desa-desa tetangga. Karena pada masa itu jarang sekali ada pertunjukan semacam, segera saja anak-anak yang bermil-mil jauhnya pun datang untuk menyaksikan pertunjukannya. Jumlahnya hingga seratus anak lebih.

“Kita akan memulainya dengan berdoa Rosaio, Peristiwa Mulia, untuk menghormati hari Minggu.”

Anak-anak itu mengeluh, tetapi mereka menurut. Setelah ia mengajak anak-anak menyanyikan satu kidung bagi Bunda Maria, Yohanes berdiri di atas kursi dan mulai menjelaskan isi Kitab Suci seperti yang didengarnya pada Misa pagi. Jika seorang anak menolak untuk mendengarkan khotbahnya atau menolak berdoa, Yohanes akan berkata: “Baiklah. Aku tidak akan mengadakan pertunjukan hari ini. Jika kalian tidak berdoa, bisa saja aku terjatuh dan leherku patah.”

Permainan dan Sabda Tuhan mulai mengubah perilaku teman-temannya. Yohanes kecil mulai menyadari bahwa agar dapat berbuat baik untuk sedemikian banyak anak, ia perlu belajar dan menjadi seorang imam. Imam Castelnuovo melihat perkembangan iman Yohanes yang luar biasa, hingga ia mengijinkan Yohanes menrima komuni dua tahun lebih awal dari usia yang ditentukan Gereja.

   PERGI DARI RUMAH
Seorang misionaris, Don Calosso ('Don' dalam bahasa Italia berarti Romo), datang ke desa Buttigliera untuk memberikan pelajaran agama. Yohanes memutuskan untuk mengikuti semua pelajaran agama yang diberikan olehnya, baik pagi maupun sore. Itu berarti ia harus berjalan kaki sejauh 10 (16 kilometer) mil sehari. Antonio menentang keras keinginan Yohanes untuk belajar. Menurutnya sudah tiba waktunya bagi Yohanes untuk bekerja. Oleh karena itu diambil keputusan: pagi hari Yohanes belajar di pastoran dengan Don Calosso, sesudahnya ia harus bekerja di sawah. Yohanes belajar dengan tekun. Ia membawa bukunya ke sawah dan belajar hingga larut malam. Hal itu sangat menjengkelkan Antonio. Antonio, yang sekarang sudah menjadi kepala keluarga, membuang semua buku-buku Yohanes dan mencambuki adik tirinya itu dengan ikat pinggangnya.

Demi keselamatan Yohanes, Mama Margarrita membuat suatu keputusan yang amat menyedihkan hatinya sendiri, ia menyuruh Johanes pergi.


   PERTANIAN MOGLIA

Di suatu pagi yang dingin di bulan Februari 1827, Yohanes pergi menginggalkan rumah dan berkelana untuk mencari pekerjaan. Usianya baru 12 tahun. Sungguh sulit mencari pekerjaan di musim dingin, hanya pada musim panas saja pertanian membutuhkan banyak tenaga kerja. Setiap kali Yohanes selalu di tolak. Hingga tibalah ia di rumah Tn. Luigi Moglia, seorang petani kaya, dekat Moncucco.
“Pulanglah nak,” kata petani itu. “Datanglah kembali pada Hari Raya Kabar Sukacita”
“Berbelas kasihlah, ya Tuan,” Yohanes memohon, “Tuan tidak perlu membayarku satu sen pun, aku tidak minta apa-apa….ijinkanlah aku tinggal!”

“Tidak mungkin. Pergilah!”

“Tidak, Tuan. Aku akan duduk di lantai sini dan tidak akan pergi.”

Yohanes merasa amat perih hatinya dan menangis. Tergerak oleh belas kasihan, Yohanes diterima bekerja sebagai penggembala sapi. Yohanes amat gembira dan bekerja sebaik yang ia mampu. Ia menggembalakan sapi-sapinya di padang rumput, memerah susu, menumpuk jerami di palungan, dan membajak sawah. “Mataku terbuka lebar-lebar jika aku sedang bekerja, dan aku tidak berhenti sampai tiba saatnya untuk tidur,” kenang Yohanes. Tanpa ibu dan saudara, tanpa teman di sampingnya, Yohanes memusatkan diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan Allah yang amat dikasihinya.

Setiap hari Minggu Yohanes pergi ke gereja untuk mengikuti Misa. Dengan ijin dari Don Cottino, imam paroki setempat, Yohanes mengumpulkan anak-anak untuk bermain dan berdoa seperti yang dulu ia lakukan di desanya.


    SEKOLAH, SEMINARI & LUIGI COMOLLO

Tiga tahun kemudian Antonio pindah ke dusun lain. Yohanes pulang kembali ke rumah dan melanjutkan sekolahnya, pertama-tama di Castelnuovo dan kemudian di Chieri. Guna membiayai pendidikannya, selain menerima sumbangan dari orang-orang yang bersimpati padanya, Yohanes Bosco juga bekerja. Segala macam pekerjaan dilakukannya: penjahit, tukang roti, tukang sepatu, tukang kayu, dan segala macam pekerjaan yang dapat dikerjakannya.

Sebagai pelajar, Yohanes seorang remaja yang pandai dan cerdas. Ia adalah murid terbaik di antara semua murid sekolahnya. Ia mengumpulkan teman-temannya dan membentuk suatu kelompok religius yang diberinya nama Kelompok Sukacita. Yohanes menjadi penggerak utama bagi teman-temannya. Kepribadiannya terbuka, dinamis, vitalitas hidupnya tinggi, kadang ia kurang sabar dan terbawa emosi. Sekali waktu ia menekankan perbuatan baik, kebenaran serta keadilan bukan dengan kelemahlembutan, tetapi justru dengan tinjunya.  

Pada suatu hari seorang guru datang terlambat ke kelas. Murid-murid menjadi ribut, saling melempar buku dan kapur. Hanya seorang anak saja yang duduk dengan tenang di bangkunya. Luigi Comollo seorang anak yang tenang dan pendiam hingga Yohanes tidak pernah memperhatikannya.
“Ayo Luigi,” teriak salah seorang anak yang paling nakal.

“Tidak, aku tidak mau bermain, aku sedang mengerjakan sesuatu.”

“Datang, kataku!”

“Tidak.”

“Datang, atau kupukul kau.”

“Pukullah jika kamu mau.”

Dengan jengkel anak nakal itu datang dan mendaratkan dua tinjunya ke wajah Luigi. Luigi tidak membalasnya. Dengan suara yang amat tenang ia berkata,

“Puaskah kamu sekarang? Aku memaafkan kamu. Sekarang biarkan aku sendiri.”

Penyerang itu mundur dengan perasaan malu. Sikap Luigi yang amat tenang dan lembut itu mengesankan Yohanes. Yohanes dan Luigi ibarat api dan air, seperti singa dan anak domba. Yohanes mengagumi Luigi dan darinya ia belajar untuk menguasai diri dan meredam kemarahannya. Sejak itu mereka bersahabat karib.

Setalah tamat sekolahnya, pada usia dua puluh tahun, Yohanes Bosco mengambil keputusan yang amat penting dalam hidupnya: ia masuk Seminari Chieri. Mama Margarita menegaskan kepadanya untuk selalu setia kepada panggilannya, jika ia ragu-ragu lebih baik diurungkannya saja niatnya itu daripada menjadi seorang imam yang lalai dan acuh. Nasehat ibunya itu diingat dan dihormati oleh Yohanes sepanjang hidupnya.  

Tak disangkanya, Luigi Comollo, menyusulnya beberapa bulan kemudian. Kepadanyalah, Yohanes mengutarakan semua cita-cita dan rencananya. Luigi sendiri tidak menyusun banyak rencana seperti Yohanes, ia merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir. Tak dikatakannya perasaannya itu kepada sahabatnya, tetapi mereka berdua telah bersepakat: siapa pun yang terlebih dahulu meninggal dunia akan memohon kepada Tuhan untuk memberi ijin memberitahukan kepada sahabatnya yang masih di dunia bahwa ia telah masuk dalam kebahagiaan abadi.

Tahun berikutnya, pada tanggal 2 April 1839, hari Kamis sesudah Paskah, Luigi meninggal dunia karena demam. Yohanes amat berduka karena bagian dari dirinya yang berharga telah pergi. Malam sesudah pemakaman dua puluh orang yang tidur dalam satu kamar asrama dengan Yohanes terbangun karena suara yang aneh. Seolah-olah sebuah kereta kuda, atau kereta api, sedang melaju di lorong, kereta itu menerjang dan menghantam bagaikan gemuruh artileri, menyebabkan lantai dan langit-langit berguncang, pintu kamar terbuka lebar-lebar dan masuklah ke dalam ruangan mereka suatu sinar yang tiba-tiba bersinar amat terang. Dan, dalam keheningan, banyak dari mereka yang mendengar suatu suara yang lembut menyanyi dengan gembira. Tetapi hanya seorang saja yang mendengar perkataan ini:

“Bosco, aku selamat.”

Sinar menghilang dan pergi dengan cara yang sama seperti datangnya. Kemudian segala sesuatunya berakhir. Yohanes dipenuhi dengan sukacita dan syukur.



"Menghindarlah dari teman-teman yang jahat sama seperti kamu menghindar dari gigitan ular beracun. Jika teman-temanmu baik, saya yakin bahwa suatu hari kelak kamu akan bersukacita bersama para kudus di Surga; tetapi jika kumpulanmu jahat, kamu sendiri akan menjadi jahat pula, dan kamu berada dalam bahaya kehilangan jiwamu." ~ St. Yohanes Bosco
Sumber: 1. Secrets of the Saints by Henri Gheon (Sheed & Ward, 1944); CIN St. Gabriel E-Mail; Copyright © 1997 Catholic Information Network (CIN) - January 19, 1997; 2. berbagai sumber
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher: Unknown - 4:50:00 AM

Sabtu, 26 Januari 2013

,

Santo Timotius & Santo Titus


St. TimotiusSelain menjadi orang kudus dan uskup pada masa Gereja Perdana, St. Timotius dan St. Titus memiliki sesuatu yang istimewa. Mereka berdua menerima karunia iman melalui pewartaan St. Paulus.

Timotius dilahirkan di Listra di Asia Kecil. Ibunya adalah seorang Yahudi dan ayahnya bukan. Ketika St. Paulus datang untuk mewartakan Injil di Listra, Timotius, ibu serta neneknya, semuanya menjadi pengikut Kristus. Beberapa tahun kemudian, Paulus kembali lagi ke Listra dan bertemu dengan Timotius yang sudah tumbuh dewasa. Paulus merasa bahwa Timotius dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi seorang pewarta Injil. Paulus mengajaknya bergabung dengannya untuk mewartakan Injil. Jadi demikianlah, Timotius meninggalkan rumah dan keluarganya untuk mengikuti Paulus. Segera juga ia mengalami penderitaan sama seperti yang dialami oleh Paulus. Mereka berdua merasakan sukacita yang besar dalam mewartakan Sabda Tuhan kepada banyak orang. Timotius adalah murid kesayangan rasul besar ini, sudah seperti anaknya sendiri. Timotius pergi kemana pun Paulus pergi, hingga ia menjadi Uskup Efesus. Timotius tinggal di Efesus untuk menggembalakan jemaat-Nya. Sama seperti St. Paulus, Timotius juga wafat sebagai martir.

Titus adalah seorang bukan Yahudi dan tidak percaya kepada Tuhan. Ia pun juga menjadi murid St. Paulus. Titus seorang yang murah hati dan giat bekerja. Dengan penuh sukacita ia mewartakan Kabar Gembira bersama dengan Paulus dalam perjalanan kerasulan mereka. Oleh karena Titus seorang yang dapat dipercaya, Paulus tanpa ragu mengutusnya dalam banyak “misi” kepada komunitas-komunitas Kristiani. Titus membantu umat memperteguh iman mereka kepada Yesus. Ia juga mampu memulihkan perdamaian apabila terjadi perselisihan di antara jemaat Kristiani. Titus dianugerahi karunia istimewa sebagai pembawa damai. Paulus amat menghargai karunia yang dimiliki Titus ini dan mengenalinya sebagai karya Roh Kudus. Paulus akan mengirim Titus untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul. Ketika Titus ada di antara  suatu kelompok jemaat Kristiani, orang-orang yang bersalah akan menyesali perbuatan mereka. Mereka akan memohon pengampunan dan berusaha memperbaiki apa yang telah mereka lakukan. Ketika damai telah tercapai, Titus akan kembali serta melaporkan hasil baiknya kepada Paulus. Hal ini mendatangkan sukacita bagi Paulus dan jemaat Kristiani yang lain. St. Paulus mengangkat Titus sebagai Uskup di Pulau Kreta, di mana ia tinggal hingga akhir hayatnya.

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Timotius 4:2)
 
yesaya.indocell.net
 

Publisher: Unknown - 4:07:00 AM

Jumat, 25 Januari 2013

,

Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul



Paulus hidup pada jaman Yesus, tetapi sejauh yang kita ketahui, mereka berdua tidak pernah bertemu muka. Paulus dulunya bernama Saulus. Sebagai seorang pemuda, ia adalah seorang murid agama Ibrani yang amat cerdas. Ketika ia telah lebih dewasa, ia mulai menganiaya para pengikut Yesus.  

Dalam Kisah Para Rasul dalam Kitab Suci, kita dapat membaca kisah tentang pertobatan Saulus yang menakjubkan (Kis Bab 9:1-22). Apa yang terjadi? Suatu hari, Saulus sedang dalam perjalanan ke kota Damsyik untuk menangkap para pengikut Kristus. Tiba-tiba, suatu sinar yang amat terang melingkupi dia. Sementara ia jatuh rebah ke tanah dan menjadi buta, ia mendengar suatu suara yang berkata, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Saulus menjawab, “Siapakah Engkau, Tuhan” Dan suara itu menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Saulus amat terperanjat dan bingung. Beberapa saat kemudian ia bertanya, “Apa yang Engkau ingin aku lakukan?” Yesus memintanya untuk melanjutkan perjalanannya ke Damsyik dan disana akan dikatakan kepadanya apa yang harus diperbuatnya.

Pada saat itulah, melalui kuasa Tuhan, Saulus menerima karunia percaya kepada Yesus. Dalam keadaan lemah dan gementar, Saulus mengulurkan tangannya untuk meminta pertolongan. Teman-teman seperjalanan menuntunnya memasuki kota Damsyik. Sinar yang amat terang itu telah membutakan matanya untuk sementara waktu. Sekarang, setelah buta matanya, ia benar-benar dapat “melihat” kebenaran. Dan Yesus telah datang secara pribadi kepadanya, berjumpa dengannya, mengundangnya untuk bertobat. Saulus menjadi seorang murid yang amat mengasihi Yesus. Setelah ia dibaptis, yang dipikirkannya hanyalah membantu orang-orang lain untuk mengenal serta mencintai Yesus, Sang Juruselamat.

Kita mengenal Saulus dengan nama Romawinya yaitu Paulus. Ia disebut “rasul”. Ia menjelajah ke seluruh dunia untuk mewartakan Kabar Gembira. Tak terhitung banyaknya orang yang telah dihantarnya kepada Yesus. Ia bekerja dan harus menderita. Para musuhnya telah beberapa kali berusaha membunuhnya. Namun, itu semua tidak dapat menghentikannya untuk mewartakan Injil. Ketika Paulus sudah tua dan lemah, sekali lagi ia dijebloskan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman mati. Meskipun demikian, St. Paulus merasa berbahagia dapat menderita dan bahkan mati bagi Kristus. Rasul besar ini menulis surat-surat yang mengagumkan kepada jemaat Kristiani. Semua suratnya itu tercantum dalam Kitab Suci. Surat-surat tersebut, yang disebut Epistula, seringkali dibacakan dalam Liturgi Sabda dalam Misa.

“Aku tahu kepada siapa aku percaya.” (2Timotius 1:12)   

yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 6:47:00 PM

Selasa, 22 Januari 2013

,

Santo Vinsentius dari Saragossa



St. Vinsensius dari SaragossaVinsentius wafat dimartir di Spanyol pada tahun 304, yaitu tahun yang sama St. Agnes wafat dimartir di Roma. Mereka berdua merupakan korban dari penganiayaan kejam yang dilakukan oleh Kaisar Dacian.
 
Vinsentius dibesarkan di Saragossa, Spanyol. Ia menerima pendidikan dari Uskup St. Valerius. Bapa Uskup melantik Vinsentius sebagai diakon. Meskipun Vinsentius masih muda, St. Valerius mengenali bakat-bakatnya dan kebaikan hatinya. Uskup Valerius memintanya untuk mewartakan dan mengajarkan tentang Yesus dan Gereja.

Kaisar Dacian menangkap baik Valerius maupun Vinsentius. Ia memenjarakan mereka untuk jangka waktu yang lama. Tetapi, keduanya tidak membiarkan diri berputus asa. Mereka berdua tetap setia kepada Yesus. Kemudian, kaisar mengirim Uskup Valerius ke pembuangan, tetapi Diakon Vinsentius diperintahkannya agar disiksa dengan kejam.

Vinsentius mohon kekuatan dari Roh Kudus. Ia ingin tetap setia kepada Yesus tak peduli betapa dahsyat derita yang akan menimpanya. Tuhan mengabulkan permohonannya dengan memberikan kekuatan yang ia minta. Diakon Vinsentius tetap merasakan kedamaian selama menjalani segala macam siksaan yang dikenakan kepadanya. Ketika aniaya telah berakhir, ia dikembalikan ke penjara di mana ia mempertobatkan penjaga penjara. Pada akhirnya, kaisar menyerah dan mengijinkan orang mengunjungi Vinsentius. Umat Kristiani datang dan merawat luka-lukanya. Mereka berusaha sebaik mungkin agar Vinsentius merasa nyaman. Tak lama kemudian Vinsentius wafat.

Marilah pada hari ini kita berdoa menggunakan kata-kata St. Vinsentius: “Ya, Tuhan, penuhilah kami dengan Roh-Mu dan kuatkanlah kami dalam kasih-Mu.” 
 
yesaya.indocell.net
 
Publisher: Unknown - 4:02:00 PM

Sabtu, 19 Januari 2013

,

Santo Canute



St Canute adalah seorang raja Denmark yang kuat dan bijak. Ia hidup pada abad kesebelas. Canute seorang atlit yang hebat, seorang penunggang kuda yang cakap, dan seorang jenderal yang mengagumkan.

Di awal masa pemerintahannya, ia memimpin sebuah peperangan melawan bangsa barbar yang mengancam hendak mengambil alih kekuasaan. Raja Canute dan bala tentaranya berhasil mengalahkan mereka. Raja begitu mencintai iman Kristiani hingga ia memperkenalkannya kepada orang-orang yang belum pernah mendengar mengenai kekristenan. St Canute berlutut dalam gereja di kaki altar dan mempersembahkan mahkotanya kepada Raja segala raja, Yesus. Raja Canute seorang yang amat murah hati dan lemah lembut kepada rakyatnya. Ia berupaya membantu mereka mengatasi masalah-masalah mereka. Di atas segalanya, ia ingin membantu mereka menjadi pengikut Yesus yang sejati. Akan tetapi, pecah suatu pemberontakan dalam kerajaannya diakibatkan oleh hukum-hukum yang ia tetapkan mengenai dukungan terhadap Gereja. Suatu hari, sekelompok orang yang marah mendatangi gereja di mana Canute sedang berdoa. Raja tahu mereka telah datang untuk mencelakainya. Ketika para musuh masih di luar, Raja Canute menyambut Sakramen Rekonsiliasi dan Komuni Kudus. Ia berbelas-kasihan kepada mereka yang begitu murka hingga hendak membunuhnya. Dengan segenap hati ia mengampuni para musuhnya. Sementara ia masih berdoa, sebilah tombak dilemparkan melalui jendela dan raja pun tewas. Hari itu adalah tanggal 10 Juli 1086.

St Canute berupaya menjadi seorang raja yang baik sebagai ungkapan syukur kepada Yesus atas segala rahmat dan berkat yang telah ia terima. Kita, juga, sepatutnya mengucap syukur kepada Tuhan setiap hari dan mempersembahkan kepada-Nya sebuah mahkota yang terdiri dari rangkaian perbuatan baik kita.
 
yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 2:27:00 PM

Kamis, 17 Januari 2013

,

Santo Antonius Dari Mesir

St. Antonius dilahirkan pada tahun 251 di sebuah dusun kecil di Mesir. Ketika usianya duapuluh tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia. Mereka mewariskan kepadanya harta warisan yang besar dan menghendaki agar ia bertanggung jawab atas hidup adik perempuannya. Antonius merasakan belas kasihan Tuhan yang berlimpah atasnya dan datang kepada Tuhan dalam doa. Semakin lama semakin peka ia akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya. Sekitar enam bulan kemudian, ia mendengar kutipan Sabda Yesus dari Kitab Suci: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga.” (Mrk 10:21). Antonius menerima sabda tersebut sebagai sapaan pribadi Tuhan dan jawab-Nya atas doanya mohon bimbingan Tuhan. Ia menjual sebagian besar harta miliknya, menyisakan sedikit saja cukup untuk menunjang hidup adiknya dan dirinya sendiri. Kemudian ia membagi-bagikan uangnya kepada mereka yang membutuhkannya.

Saudari Antonius bergabung dengan kelompok perempuan yang hidup dalam doa dan kontemplasi. Antonius memutuskan untuk hidup sebagai seorang pertapa. Ia mohon pada seorang pertapa senior untuk memberinya pelajaran hidup rohani. Antonius juga mengunjungi para pertapa lainnya agar ia dapat belajar kebajikan-kebajikan paling utama dalam diri setiap pertapa. Kemudian ia mulai hidupnya sendiri dalam doa dan tobat sendirian hanya dengan Tuhan saja.

Ketika Antonius berusia limapuluh lima tahun, ia mendirikan sebuah biara guna menolong sesama. Banyak orang mendengar tentangnya dan mohon saran serta nasehatnya. Antonius akan memberi mereka nasehat-nasehat praktis, seperti “Setan takut pada kita ketika kita berdoa dan bermatiraga. Setan juga takut ketika kita rendah hati dan lemah lembut. Terutama, setan takut pada kita ketika kita sangat mencintai Yesus. Setan lari terbirit-birit ketika kita membuat Tanda Salib.”

St. Antonius mengunjungi St. Paulus Pertapa. Ia merasa diperkaya dengan teladan hidup St. Paulus yang kudus. Antonius wafat setelah melewatkan hidup yang panjang dalam doa. Usianya mencapai seratus lima tahun. St. Atanasius menulis riwayat hidup St. Antonius dari Mesir yang sangat terkenal.

Hidup St. Antonius merupakan hidup dengan pengabdian total kepada Tuhan. Bersediakah aku mengabdikan hidupku kepada Tuhan hingga rela mempersembahkan hidupku sepenuhnya seperti yang telah dilakukan Yesus? 
yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 4:21:00 AM
, ,

Santo Berardus dkk



St. Antonius Padua di hadapan relikwi para martirEnam biarawan Fransiskan menerima tugas dari St. Fransiskus Asisi untuk pergi ke Maroko. Mereka diutus untuk mewartakan iman Kristiani di tengah masyarakat Muslim. Biarawan Berardus, Petrus, Adjutus, Accursio dan Odo melakukan perjalanan dengan kapal laut pada tahun 1219. Maroko terletak di ujung barat laut Afrika. Perjalanan mereka merupakan perjalanan yang panjang serta berbahaya. Kelompok biarawan tersebut tiba di Seville, Spanyol. Segera mereka mulai berkhotbah di jalan-jalan dan di taman-taman kota. Orang memperlakukan mereka seolah-olah mereka gila dan menangkap mereka. Agar tidak dipulangkan kembali ke negerinya, para biarawan mengatakan bahwa mereka ingin bertemu sultan. Jadi, gubernur Seville mengirim mereka ke Maroko.

Sultan menerima para biarawan serta memberi mereka kebebasan untuk berkhotbah di kota. Tetapi, sebagian orang tidak suka akan hal ini. Mereka melaporkannya kepada penguasa. Sultan berusaha melindungi para biarawan dengan mengirim mereka untuk tinggal di Marrakech, di pesisir barat Maroko. Seorang pangeran Kristen, yang juga sahabat sultan, Dom Pedro Fernandez, menerima mereka di rumahnya. Namun, para biarawan tersebut sadar bahwa misi mereka adalah mewartakan iman. Jadi, mereka kembali ke kota sesering mungkin. Hal ini membuat geram sebagian orang yang tidak suka mendengar pesan yang disampaikan para biarawan. Keluhan dan hasutan mereka membuat sultan murka begitu rupa hingga suatu hari, ketika melihat para biarawan itu sedang berkhotbah, ia memerintahkan para biarawan itu untuk segera berhenti atau pergi meninggalkan negeri. Karena para biarawan tidak hendak melakukan keduanya, para biarawan Fransiskan itu dipenggal kepalanya di sana saat itu juga. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 16 Januari 1220.

Dom Pedro datang menjemput jenasah para martir. Pada akhirnya, ia mengantarkan relikwi para biarawan ke Gereja Salib Suci di Coimbra, Portugal. Misi para biarawan Fransiskan ke Maroko sangat singkat dan tampaknya gagal. Namun demikian, hasilnya sungguh luar biasa. Kisah para martir yang gagah berani ini membakar semangat para Fransiskan pertama untuk menjadi misionaris dan wafat sebagai martir pula. Kesaksian keenam biarawan Fransiskan inilah yang mendorong seorang pemuda untuk mengabdikan hidupnya kepada Tuhan sebagai seorang imam Fransiskan. Kita mengenalnya sebagai St. Antonius dari Padua.

Hidup kita merupakan suatu kurban pujian bagi Tuhan, hidup yang dibakar oleh cinta yang menyala-nyala kepada-Nya. Semoga kita beroleh rahmat agar senantiasa mengikuti Dia dengan hati yang bersih dan murni.
Publisher: Unknown - 4:20:00 AM

Selasa, 15 Januari 2013

,

Santo Paulus Pertapa



St. Paulus, pertapaKetika St. Paulus wafat dalam usianya yang ke seratus tigabelas tahun, tentunya banyak pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Pastilah ia merasakan sukacita dan damai luar biasa saat kematiannya. Inilah sebabnya:

Paulus dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen pada tahun 229. Mereka tinggal di Thebes, Mesir. Dengan cara hidup mereka, orangtuanya menunjukkan kepada Paulus bagaimana mencintai Tuhan dan sujud menyembah kepada-Nya dengan segenap hati. Tentulah Paulus merasa sangat sedih kehilangan kedua orangtuanya ketika usianya baru lima belas tahun. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 250, Kaisar Desius mulai melakukan penganiayaan yang kejam terhadap Gereja. Paulus bersembunyi di rumah seorang sahabat, tetapi ia merasa tidak aman. Kakak iparnya mengincar harta warisannya. Sewaktu-waktu dapat saja saudaranya itu mengkhianatinya serta melaporkannya kepada penguasa. Jadi, Paulus melarikan diri ke padang gurun. Ia menemukan gua dengan sebuah pohon palma dan mata air segar di dekatnya. Di sanalah ia menetap. Ia menjalin dahan-dahan palma dan dijadikannya pakaiannya. Ia makan buah-buahan dan minum air segar.

Paulus bermaksud untuk tinggal di sana hanya sementara waktu saja hingga masa penganiayaan berakhir. Namun demikian, pada saat masa tersebut sudah lewat, ia telah jatuh hati dengan hidup doa. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan. Bagaimana ia dapat melepaskannya? Paulus memutuskan untuk tinggal di padang gurun dan tidak pernah kembali lagi pada pola hidupnya yang mewah. Sebaliknya, ia akan melewatkan sepanjang hidupnya dengan berdoa bagi kepentingan semua orang dan melakukan silih bagi dosa.

Ada seorang pertapa kudus lainnya pada masa itu, namanya Antonius. Antonius beranggapan bahwa hanya ia sendirilah yang bertapa. Tuhan menunjukkan Paulus kepadanya dalam suatu mimpi dan dan menyuruh Antonius untuk pergi mengunjunginya. Paulus sangat gembira bertemu dengan Antonius, sebab ia tahu bahwa ajal akan datang menjemputnya beberapa hari lagi. Antonius merasa sedih sebab ia tidak ingin kehilangan sahabat barunya demikian cepat. Tetapi, seperti telah diramalkan sendiri olehnya, Paulus wafat pada tanggal 15 Januari tahun 342. Antonius menguburkannya dengan jubah yang dulunya adalah milik St. Atanasius. Lalu, Antonius membawa pulang serta menyimpan baik-baik baju dari dahan-dahan pohon palma yang biasa dikenakan Paulus. Tak pernah ia melupakan sahabatnya yang mengagumkan itu.

Meskipun kadang-kadang kita merasa sendirian saja dalam hasrat untuk mengikuti Yesus, namun kita dapat mengandalkan kasih pemeliharaan Tuhan atas kita. Ia akan senantiasa menjamin bahwa kita memiliki kekuatan dan dukungan yang kita butuhkan.
 
yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 6:52:00 PM

Jumat, 11 Januari 2013

,

Santo Theodosius



Theodosius dilahirkan di Asia Kecil pada tahun 423. Sebagai pemuda ia berangkat berziarah ke Tanah Suci. Dikatakan bahwa ia terinspirasi oleh perjalanan iman Abraham sebagaimana dicatat dalam Kitab Kejadian dalam Kitab Suci.

Setelah mengunjungi tempat-tempat suci, ia memutuskan untuk mengamalkan hidup doa. Ia mohon bimbingan dari seorang kudus bernama Longinus. Segera orang menyadari betapa kudus Theodosius sendiri. Banyak orang mohon diperkenankan bergabung dengannya. Mereka juga rindu menjadi biarawan.

Theodosius membangun sebuah biara besar di Cathismus, dekat Betlehem. Tak lama kemudian, biaranya telah dipenuhi dengan para biarawan dari Yunani, Armenia, Arabia, Persia dan negara-negara Slav. Pada akhirnya, wilayah itu berkembang menjadi sebuah “kota kecil”. Satu bangunan diperuntukkan orang-orang sakit, satu untuk orang-orang lanjut usia, dan satu untuk kaum miskin dan kaum tuna wisma.

Theodosius senantiasa murah hati. Ia memberi makan suatu antrian fakir miskin yang tanpa akhir. Terkadang tampaknya tak akan tersedia cukup makanan bagi para biarawan. Tetapi Theodosius menempatkan kepercayaan besar pada Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan mereka yang datang pergi dengan tangan kosong, bahkan meski nyaris tak tersisa lagi makanan. Biara itu merupakan suatu tempat yang amat damai. Para biarawan hidup dalam keheningan dan doa. Semuanya berjalan begitu baik hingga Patriark Yerusalem menunjuk Theodosius sebagai pemimpin dari segenap biarawan di timur.

Theodosius wafat pada tahun 529 dalam usia 106 tahun. Patriark Yerusalem dan banyak orang menghadiri pemakamannya. Theodosius dimakamkan di mana ia pertama-tama hidup sebagai seorang biarawan. Tempat itu disebut Gua Para Majus. Orang percaya bahwa Para Bijak tinggal di sana ketika mereka datang dalam perjalanan mencari Yesus.

Meski karya Theodosius dimulai dari sesuatu yang kecil, kebajikannya segera menarik perhatian orang-orang lain yang rindu melayani Tuhan.  

www.yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 4:26:00 PM

Kamis, 10 Januari 2013

,

Santo William dari Bourges



St. William berasal dari sebuah keluarga Perancis yang kaya. Sejak masih kanak-kanak, ia tidak suka menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang atau bermalas-malasan. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa setiap hari. Ketika ia bergabung dengan Ordo Cistercian, ia berusaha menjadi seorang biarawan yang baik. Teman-teman biarawan mengaguminya, meskipun ia sendiri tidak berusaha menampilkan kesan yang baik kepada siapa pun.

St. William memiliki devosi yang mendalam kepada Yesus dalam Sakaramen Mahakudus. Ia melakukan mati raga tanpa menunjukkan betapa keras matiraganya itu. Ia selalu tampak gembira. Ketika ia dipilih sebagai pemimpin biara dalam komunitasnya, ia tetap rendah hati. Ketika Uskup Agung Bourges wafat, William dipilih untuk menggantikannya. Ia bersyukur ditahbiskan sebagai uskup, tetapi sedih karena segala perhatian yang akan diterimanya. Ia tetap rendah hati dengan melakukan silih bagi jiwanya sendiri dan bagi pertobatan orang-orang berdosa.

Walaupun William suka sendirian bersama Tuhan dalam Sakramen Mahakudus, ia tahu bahwa merupakan kewajibannya sebagai uskup agung untuk pergi berkeliling ke seluruh wilayah keuskupannya dengan senang hati. Ia merayakan Ekaristi dan mewartakan iman. Ia mengunjungi orang-orang sakit dan orang-orang miskin, menghibur mereka dan membawa mereka kepada Kristus. Uskup Agung William wafat pada tanggal 10 Januari tahun 1209. Ia dimakamkan di Katedral Bourges. Orang yang berdoa di makamnya mulai melaporkan terjadinya mukjizat-mukjizat. William dinyatakan kudus pada tahun 1218 oleh Paus Honorius III.

Bagaimana aku menanggapi perhatian dan pujian yang aku terima? Apakah biasanya aku memuji diri sendiri ataukah aku bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah Ia lakukan melalui aku?
 
yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 5:17:00 PM

Rabu, 09 Januari 2013

, ,

Santo Julianus & Santa Basilissa



St. Julianus & St. BasilissaSt. Julianus dan St. Basilissa adalah pasangan suami isteri. Mereka hidup pada awal abad keempat. Cinta akan iman mendorong mereka melakukan sesuatu yang gagah berani: mereka mengubah rumah mereka menjadi sebuah rumah sakit. Dengan demikian, mereka dapat merawat mereka yang sakit dan miskin yang membutuhkan pertolongan mereka.

St. Julianus merawat pasien pria, sementara St. Basilissa merawat pasien perempuan. Pasangan tersebut menemukan Yesus dalam diri orang-orang yang mereka layani. Mereka melakukan apa yang mereka lakukan itu karena cinta, bukan karena uang ataupun maksud-maksud tertentu.

Kita tidak tahu banyak mengenai kehidupan pasangan tersebut. Namun demikian kita tahu, bahwa St. Basilissa wafat setelah mengalami penganiayaan dahsyat karena imannya. Julianus hidup lebih lama. Ia melanjutkan karya pelayanan kasihnya terhadap mereka yang sakit setelah kematian isterinya. Kelak, Julianus juga wafat sebagai martir.

Basilissa dan Julianus melewatkan seluruh hidup mereka dengan menolong sesama dan melayani Tuhan. Mereka menanam benih iman dengan hidup kudus. Mereka menyirami iman itu dan membuatnya tumbuh subur dengan darah mereka yang dicurahkan bagi Yesus yang tersalib.           

Hubungan kita dengan sesama dapat membantu kita melayani Tuhan dengan lebih baik. Berhentilah sejenak dan berdoalah mohon penyertaan Tuhan dalam membina suatu hubungan yang kamu anggap penting dalam hidupmu.
 
yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 7:12:00 PM
,

Santo Thorfinn

Kisah hidup St. Thorfinn diketahui lama sesudah wafatnya. Ia wafat pada tahun 1285 di sebuah biara di Belgia. Lima puluh tahun kemudian, kuburnya secara tak sengaja dibongkar karena suatu pekerjaan bangunan. Semua orang dikejutkan oleh bau harum yang kuat yang berasal dari peti matinya. Pemimpin biara mulai menyelidiki hal tersebut. Ia mendapatkan seorang biarawan tua, Walter de Muda, yang mengenal Thorfinn. Sesungguhnya, Pastor Walter, yang begitu terkesan oleh kelemahlembutan dan keteguhan iman Thorfinn, telah menulis sebuah puisi tentangnya. Walter menaruh puisinya itu dalam kubur Thorfinn. Para biarawan pergi mencari puisi tersebut. Mereka menemukan perkamen yang tampak baru dan baik keadannya seperti saat diletakkan di sana.

Para biarawan merasa bahwa ini merupakan tanda bahwa Tuhan menghendaki agar Thorfinn dikenang serta dihormati. Orang mulai mohon bantuan doanya dan mukjizat-mukjizat pun terjadi. Pastor Walter diminta untuk menuliskan apa saja yang dapat diingatnya tentang Thorfinn. Ia menulis bahwa Thorfinn datang dari Norwegia. Sebagai imam, kemungkinan ia melayani di katedral. Tampaknya Thorfinn menandatangani suatu dokumen penting semasa ia bertugas di katedral. Ia juga menjadi saksi atas Perjanjian Tonsberg pada tahun 1277. Perjanjian tersebut adalah perjanjian antara Raja Magnus VI dengan uskup agung untuk membebaskan Gereja dari campur tangan negara. Tetapi, beberapa tahun kemudian, Raja Eric meyangkal perjanjian tersebut. Ia melawan uskup agung serta mereka semua yang mendukungnya. Uskup agung diusir, demikian juga Thorfinn, yang saat itu adalah Uskup Hamar, Norwegia.

Thorfinn memulai perjalanan yang berat ke Flanders. Kapalnya bahkan karam dalam perjalanan. Pada akhirnya, ia tiba dan tinggal di biara di mana akhirnya ia kemudian wafat. Ia mengunjungi Roma, tetapi kembali dalam keadaan sakit parah. Thorfinn tidak punya banyak, tetapi ia membagikan sedikit barang miliknya di antara para anggota keluarga dan kelompok amal kasih. Kemudian ia wafat pada tanggal 8 Januari tahun 1285. Umat Katolik di Hamar, Norwegia, masih menghormati St. Thorfinn dan merayakan pestanya.

Sebagian orang hidup terkenal dan termasyhur; sebagian lainnya datang dan pergi dari kehidupan kita tanpa banyak mendapatkan perhatian kita. Luangkan waktu pada hari ini untuk memberikan perhatian kepada seseorang yang biasanya tidak banyak kita perhatikan.
 
yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 7:10:00 PM

Senin, 07 Januari 2013

,

Santo Raimundus dari Penyafort



St. Raimundus dari PenyafortRaimundus dilahirkan antara tahun 1175 dan 1180 di sebuah kota kecil dekat Barcelona, Spanyol. Ia bersekolah di sekolah katedral di Barcelona dan menjadi seorang imam. Raimundus menyelesaikan kuliah hukum di Bologna, Italia dan menjadi seorang guru yang terkenal. Ia bergabung dengan Ordo Dominikan pada tahun 1218. Pada tahun 1230, Paus Gregorius IX meminta imam yang penuh pengabdian ini untuk datang ke Roma. Ketika Raimundus tiba, paus memberinya beberapa tugas. Salah satunya adalah mengumpulkan semua surat-surat resmi dari para paus sejak tahun 1150. Raimundus mengumpulkan serta menerbitkan 5 jilid buku. Ia juga ikut ambil bagian dalam menulis hukum Gereja.

Pada tahun 1238, Raimundus dipilih sebagai Superior Jenderal Dominikan. Dengan pengetahuannya dalam bidang hukum, ia memeriksa regula ordo dan memastikan bahwa segala sesuatunya sah secara hukum. Setelah selesai, ia mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1240. Kini ia dapat sepenuhnya mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk tugas-tugas parokial. Itulah yang sesungguhnya ia inginkan.

Paus hendak menjadikan Raimundus sebagai uskup agung, tetapi Raimundus menolak. Ia mohon diijinkan kembali ke Spanyol dan memang ia kembali ke sana. Ia begitu bersukacita dapat bertugas di paroki. Cinta kasihnya membawa banyak orang kembali kepada Tuhan melalui Sakramen Tobat.

Selama tahun-tahun yang dilewatkannya di Roma, Raimundus sering mendengar tentang kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi para misionaris. Mereka berusaha keras menjangkau orang-orang non-Kristen di Afrika Utara dan Spanyol. Guna membantu para misionaris, Raimundus mendirikan sebuah sekolah yang mengajarkan bahasa serta kebudayaan orang-orang di daerah misi yang dituju. Juga, Pastor Raimundus minta seorang Dominikan terkenal, St. Thomas Aquinas, untuk menulis sebuah buku saku. Buku saku ini dimaksudkan untuk menjelaskan kebenaran iman dengan suatu cara yang dapat dimengerti oleh mereka yang belum beriman.

Raimundus berumur hingga hampir seratus tahun. Ia wafat di Barcelona pada tanggal 6 Januari tahun 1275. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1601 oleh Paus Klemens VIII. Paus yang sama memaklumkannya sebagai santo pelindung ahli hukum Gereja karena pengaruhnya yang besar dalam hukum Gereja.

Semoga kita menjadi orang yang penuh cinta kasih dan pengertian bagi mereka yang kita layani.
 
yesaya.indoell.net
Publisher: Unknown - 2:06:00 PM

Sabtu, 05 Januari 2013

,

Santo Yohanes Neunmann



Bukan saja Yohanes Neumann itu seorang yang pendiam, ia juga seorang yang pendek dengan tingginya seratus tujuhpuluh lima senti. Sinar matanya amat lembut dan ia banyak tersenyum.

Yohanes dilahirkan pada tanggal 28 Maret 1811 di Bohemia, sekarang bagian dari Republik Czech. Orangtuanya adalah Filipus dan Agnes Neumann. Yohanes mempunyai empat orang saudari dan seorang saudara kandung. Setelah lulus dari sekolah, Yohanes masuk seminari. Ketika tiba satnya untuk ditahbiskan, Bapa Uskup jatuh sakit. Sesudahnya, tanggal pentahbisannya tidak pernah ditetapkan lagi karena pada saat itu Bohemia sudah memiliki banyak imam. Yohanes membaca tentang karya-karya misi di Amerika Serikat, jadi ia memutuskan untuk pergi ke Amerika agar dapat ditahbiskan. Dengan berjalan kaki ia menempuh hampir seluruh perjalanannya ke Perancis, lalu menumpang kapal yang menuju Eropa.

Yohanes tiba di Manhattan pada tanggal 9 Juni 1836. Uskup Yohanes Dubois amat gembira menyambut kedatangannya. Hanya ada tigapuluh enam imam untuk melayani dua ratus ribu umat Katolik yang tinggal di negara bagian New York dan sebagian New Jersey. Hanya enambelas hari setelah kedatangannya, Yohanes ditahbiskan sebagai imam dan diutus ke Buffalo. Di sana ia akan membantu Pastor Pax melayani parokinya yang luasnya sembilan ratus meter persegi. Pastor Pax memberinya kebebasan untuk memilih antara kota Buffalo atau daerah pedesaan. Watak Yohanes yang gagah berani mulai kelihatan. Ia memilih yang paling sulit - daerah pedesaan. Ia memutuskan untuk tinggal di sebuah kota kecil dengan sebuah gereja yang belum selesai dibangun. Ketika gereja itu selesai pembangunannya, ia pindah ke kota lain dengan gereja yang dibangun dari balok-balok kayu. Di sana ia mendirikan bagi dirinya sendiri sebuah kamar kecil berdinding kayu. Hampir tidak pernah ia menyalakan api dan seringkali hanya makan roti dan air saja. Ia juga tidur hanya beberapa jam saja setiap malam. Pertanian-pertanian di daerahnya jauh jaraknya antara yang satu dengan yang lain. Yohanes harus berjalan kaki menempuh perjalanan yang panjang agar dapat mengunjungi umatnya. Mereka adalah orang-orang Jerman, Perancis, Irlandia dan Skotlandia. Dahulu di sekolah, Yohanes telah menguasai delapan bahasa. Sekarang ia fasih berbahasa Inggris dan Gaelic pula. Sebelum wafatnya, Yohanes menguasai duabelas macam bahasa.

Yohanes bergabung dengan Kongregasi Pater-Pater Redemptoris dan melanjutkan karya misinya. Ia diangkat menjadi Uskup Philadelphia pada tahun 1852. Uskup Neumann mendirikan lima puluh gereja dan mulai membangun sebuah katedral. Ia mendirikan hampir seratus sekolah dan meningkatkan jumlah murid sekolah paroki dari 500 anak ke 9000 anak. Kesehatan Uskup Neumann tidak pernah prima, namun demikian orang tetap saja amat terkejut mendengar berita kematiannya yang tiba-tiba pada tanggal 5 Januari 1860. Ia sedang berjalan kaki pulang dari suatu pertemuan ketika ia jatuh rebah ke tanah karena stroke. Bapa Uskup segera dibawa ke sebuah rumah terdekat dan wafat di sana pada pukul tiga sore. Bulan Maret berikutnya, akan merupakan hari ulang tahun Uskup Neumann yang keempatpuluh sembilan. Yohanes Neumann dinyatakan kudus oleh Paus Paulus VI pada tanggal 19 Juni 1977.

Mungkin kita tidak sepandai, sehebat, atau seaktif yang kita harapkan. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi Tuhan untuk tetap mencintai kita dan memanggil kita untuk melakukan hal-hal yang mengagumkan. Ketika kita harus melakukan sesuatu yang sulit, kita dapat mohon bantuan doa St. Yohanes Neumann.

St. Yohanes Neumann tidak membiarkan “kelemahannya” membuatnya berputus asa dalam bekerja tanpa mengenal lelah demi mewartakan Injil. Apakah aku sungguh percaya bahwa Tuhan hendak memakaiku untuk melakukan hal-hal mengagumkan bagi kemuliaan-Nya dan bagi keselamatan banyak orang?     

yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 6:18:00 AM

Rabu, 02 Januari 2013

,

Santo Basilius Agung & Santo Gregorius dari Nazianze




St. Basilius Agung
St. Gregorius dari Nazianze

St. Basilius Agung
Basilius dan Gregorius dilahirkan di Asia Kecil pada tahun 330. Sekarang daerah tersebut dikenal dengan nama Turki. Keluarga Basilius: nenek, ayah, ibu, dua saudara serta seorang saudarinya semuanya adalah orang kudus. Sedangkan orangtua Gregorius adalah St. Nonna dan St. Gregorius Tua. Basilius dan Gregorius saling bertemu dan menjadi sahabat karib di sekolah di Athena, Yunani.

Basilius kemudian menjadi seorang guru yang tersohor. Suatu hari, saudarinya yaitu St. Makrina, menyarankan agar ia menjadi seorang biarawan. Basilius mendengarkan nasehat baik saudarinya, pergi ke tempat yang sunyi dan di sana mendirikan biaranya yang pertama. Regula (=peraturan biara) yang ditetapkannya bagi para biarawannya amatlah bijaksana. Biara-biara Gereja Timur masih menerapkannya hingga saat ini.

Keduanya, Basilius dan Gregorius, menjadi imam dan kemudian Uskup. Mereka dengan berani berkhotbah menentang bidaah Arianisme yang menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Ajaran sesat ini membingungkan banyak orang. Ketika menjadi Uskup Konstantinopel, Gregorius mempertobatkan banyak orang dengan khotbah-khotbahnya yang mengagumkan. Hal itu membuatnya hampir saja kehilangan nyawanya. Seorang pemuda berencana untuk membunuhnya. Pada saat-saat terakhir, pemuda tersebut bertobat serta memohon pengampunan dari Gregorius. St. Gregorius sungguh mengampuninya serta membawanya ke jalan yang benar dengan kelemahlembutan serta kebaikan hatinya.

Empatpuluh empat khotbah St. Gregorius, 243 suratnya, serta banyak puisinya kemudian diterbitkan. Buah penanya masih amat penting hingga saat ini. Banyak penulis mendasarkan karya-karya mereka pada buah penanya itu.

Basilius, sahabat Gregorius, seorang yang amat lembut serta murah hati. Ia selalu menyediakan waktu untuk menolong kaum miskin papa. Ia bahkan mendorong orang-orang miskin itu untuk menolong mereka yang lebih miskin dari mereka sendiri. “Berikanlah makanan terakhirmu kepada pengemis yang mengetuk pintumu,” desaknya, “dan percayalah akan belas kasihan Tuhan.” Basilius menyumbangkan segala miliknya dan membuka sebuah dapur umum. Di sana orang sering melihatnya mengenakan celemek dan melayani mereka yang lapar. Basilius wafat pada tahun 379 dalam usia empatpuluh sembilan tahun. Sementara Gregorius wafat pada tahun 390 dalam usia enampuluh tahun. Ia dimakamkan di Basilika St. Petrus di Roma.

Kita tidak akan pernah menyesal mempergunakan pengetahuan, waktu, serta bakat-bakat kita untuk membantu orang-orang di sekitar kita semakin dekat dengan Tuhan.

Semoga teladan serta ajaran St. Basilius dan St. Gregorius senantiasa mendorong kita “untuk menyatakan kebenaran di dalam kasih” (Ef 4:15). Biarlah semangat tersebut menjadi doa kita pada hari ini.

yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 1:18:00 PM

Senin, 31 Desember 2012

,

Santo Sylvester I



Paus St Sylvester hidup pada masa Gereja Perdana, yakni pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus. Sylvester I dinobatkan menjadi paus pada tahun 314 dan bertahta selama duapuluh satu tahun hingga wafatnya pada tahun 335.

Dikisahkan bahwa pada mulanya Konstantinus menganiaya Paus Sylvester dan umat Kristiani. Kemudian kaisar terjangkit penyakit kusta dan hendak menyelenggarakan suatu ritual kafir sebagai usaha mendapatkan kesembuhan. Ia begitu ingin sembuh. Konon Konstantinus mendapatkan mimpi di mana St Petrus dan St Paulus berbicara kepadanya. Mereka menyuruh kaisar pergi kepada Paus Sylvester untuk disembuhkan. Konstantinus memohon kepada paus agar ia dibaptis dan kaisar dibaptis di Basilika St Yohanes Lateran. Pada saat Pembaptisan, Kontantinus sama sekali disembuhkan dari penyakitnya. Sejak saat itu, Konstantinus tidak hanya mengijinkan agama Kristiani berkembang, malahan ia juga mendorongnya.

Devosi kepada Paus Sylvester I amat terkenal pada masa Gereja Perdana. Ia adalah paus pertama bukan martir yang dimaklumkan sebagai santo. Di Basilika St Yohanes Lateran di Roma terdapat suatu dinding berhiaskan mosaik yang sungguh indah, menggambarkan Yesus memberikan kunci-kunci kuasa rohani kepada Paus St Sylvester I.

Baiklah kita meluangkan waktu pada hari ini untuk mengenangkan begitu banyak rahmat istimewa yang kita terima sepanjang tahun ini. Bagaimanakah Tuhan telah menarikku untuk terlebih dekat kepada-Nya sepanjang masa-masa yang telah lewat itu?
 
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”
Publisher: Unknown - 6:15:00 AM

Sabtu, 29 Desember 2012

,

Santo Thomas Becket



Thomas Becket dilahirkan pada tahun 1118 di London, Inggris. Setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, ia pergi untuk bekerja di sebuah kantor. Sebagai seorang pemuda, ia suka pergi berburu dan melakukan kegiatan olah raga lainnya. Ketika usianya sekitar duapuluh empat tahun, Thomas mendapatkan pekerjaan di Keuskupan Agung Canterbury. Ia mulai tertarik untuk menjadi seorang imam. Thomas seorang pemuda yang tampan, amat cerdas dan pandai bergaul. Sebentar saja, ia telah menjadi kesayangan Raja Henry II sendiri. Orang mengatakan bahwa raja dan Thomas memiliki hanya satu hati dan satu pikiran - seperti layaknya sepasang sahabat kental. Ketika Thomas berusia tigapuluh enam tahun, Raja Henry menjadikannya ketua parlemen.

Sebagai ketua parlemen Inggris, Thomas memiliki rumah yang besar dan hidup dalam kemewahan. Namun demikian, ia sungguh murah hati kepada orang-orang miskin. Ia seorang yang cepat marah, tapi ia melakukan banyak matiraga juga secara diam-diam. Ia melewatkan berjam-jam lamanya dalam doa, bahkan seringkali hingga larut malam.

Ketika Uskup Agung Canterbury wafat, raja menghendaki paus memberikan jabatan tersebut kepada Thomas. Itu berarti bahwa Thomas harus ditahbiskan menjadi seorang imam. Tetapi, Thomas mengatakan secara terus terang kepada raja bahwa ia tidak ingin menjadi Uskup Agung Canterbury. Ia sadar sepenuhnya bahwa jabatan itu akan menempatkannya dalam konflik langsung dengan Raja Henry II. Thomas tahu bahwa ia akan harus membela Gereja dan bahwa itu berarti masalah. “Kasih baginda kepadaku akan berubah menjadi kebencian,” demikian ia memperingatkan Henry. Raja tidak peduli, dan Thomas ditahbiskan menjadi iman dan kemudian menjadi uskup pada tahun 1162. Pada mulanya, segala sesuatu berjalan lancar seperti sedia kala. Namun demikian, segera saja raja mulai menuntut uang yang dirasa Thomas tidak pada tempatnya dirampas dari Gereja. Raja semakin dan semakin geram terhadap mantan sahabatnya. Akhirnya, ia mulai memperlakukan Thomas dengan buruk. Sesaat, Thomas tergoda untuk sedikit mengalah. Tetapi kemudian ia mulai sadar akan betapa besar keinginan Raja Henry untuk mengendalikan Gereja. Thomas sungguh menyesal bahwa ia bahkan pernah berpikiran untuk mengalah kepada raja. Ia mohon ampun atas kelemahannya itu dengan bermatiraga, dan kemudian ia menjadi lebih tegas dari sebelumnya.

Suatu hari, raja teramat murka. “Tak adakah seorang pun yang dapat mengenyahkan uskup agung ini dari hadapanku?” Beberapa perwiranya menganggapi hal ini secara serius. Mereka bermufakat untuk menghabisi uskup agung. Mereka menyerang Thomas di katedralnya sendiri. Dalam sakrat maut, bapa uskup mengatakan, “Demi nama Yesus dan demi membela Gereja, aku bersedia mati.” Hari itu tanggal 29 Desember 1170. Segenap umat Kristiani di seluruh penjuru dunia terkejut ngeri atas perbuatan yang begitu keji itu. Paus Alexander III menegur raja bahwa ia secara pribadi bertanggung jawab atas pembunuhan uskup agung. Mukjizat-mukjizat mulai terjadi di makam Uskup Agung Thomas. Ia dimaklumkan sebagai santo oleh paus yang sama pada tahun 1173.

“Andai engkau mendapati dalam diriku sesuatu yang kau anggap salah, janganlah ragu untuk memberitahukannya kepadaku secara pribadi. Sebab mulai dari sekarang, orang akan berbicara tentang aku, tetapi tidak kepadaku. Sungguh berbahaya bagi orang-orang yang berkuasa andai tiada seorang pun berani mengatakan kepada mereka ketika mereka berbuat salah.” 
 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 4:57:00 AM

Kamis, 27 Desember 2012

,

Santo Yohanes Rasul



St. YohanesSt. Yohanes adalah seorang nelayan di Galilea. Ia, bersama dengan St. Yakobus saudaranya, dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Yesus memberi julukan “anak-anak guruh” kepada kedua putera Zebedeus ini. St. Yohanes adalah rasul yang termuda. Ia amat dikasihi oleh Yesus. Pada perjamuan malam terakhir, Yohanes diperbolehkan menyandarkan kepalanya didada Yesus. Yohanes juga satu-satunya rasul yang berdiri di kaki salib. Yesus yang sedang menghadapi ajal menyerahkan pemeliharaan Bunda-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya ini. Sambil memandang Bunda Maria, Ia berkata, “Inilah ibumu.” Jadi, hingga akhir hidupnya di dunia, Bunda Maria tinggal bersama St. Yohanes. Hanya Yohanes seorang yang memperoleh hak istimewa untuk menghormati serta melayani Bunda Allah yang tanpa noda.

Pada hari Paskah, pagi-pagi sekali, Maria Magdalena dan beberapa wanita membawa rempah-rempah menuju ke makam Yesus untuk meminyaki Tubuh-Nya. Mereka kembali dengan berlari-lari kepada para rasul untuk menyampaikan suatu berita yang mengejutkan. Tubuh Yesus telah hilang dari makam. Petrus dan Yohanes pergi untuk menyelidiki hal itu. Yohanes tiba terlebih dahulu, tetapi ia menunggu Petrus untuk masuk ke dalam makam terlebih dahulu. Baru sesudahnya, ia masuk dan melihat kain kapan yang telah tergulung rapi. Kemudian, pada minggu itu juga, para murid sedang memancing di Danau Tiberias tanpa hasil. Seseorang yang berdiri di pantai mengatakan kepada mereka untuk menebarkan jala mereka ke sisi lain perahu. Ketika mereka menarik jala mereka kembali, jala itu penuh dengan ikan besar. Yohanes, yang mengenali siapa orang itu, segera berseru kepada Petrus, “Itu Tuhan!”

Dengan turunnya Roh Kudus, para rasul penuh dengan keberanian baru. Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang lumpuh dalam Nama Yesus.

Yohanes hidup hampir seabad lamanya. Ia sendiri tidak wafat dimartir, tetapi sungguh ia menempuh hidup yang penuh penderitaan. Ia mewartakan Injil dan menjadi Uskup Efesus. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ketika ia tidak lagi dapat berkhotbah, para muridnya akan membawanya kepada jemaat Kristiani. Pesannya yang sederhana adalah, “Anak-anakku, kasihilah seorang akan yang lain.” St. Yohanes wafat di Efesus sekitar tahun 100.

“Para rasul melihat Yesus secara jasmani, dari muka ke muka; mereka mendengarkan perkataan yang Ia ucapkan, dan setelah tiba saatnya mereka mewartakaan sabda-Nya itu kepada kita. Jadi, kita juga telah mendengarkan, meskipun kita tidak melihat; kita bersekutu dengan mereka, karena kita dan mereka memiliki iman yang sama.” St. Agustinus.    

Dikutp dari : Yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 6:57:00 AM

Rabu, 26 Desember 2012

,

Santo Stefanus



St. Stefanus, martirStefanus artinya mahkota. Ia adalah pengikut Kristus yang pertama yang menerima mahkota kemartiran. Stefanus adalah seorang diakon pada masa Gereja Perdana. Kita membaca kisah tentangnya dalam Kitab Kisah Para Rasul bab 6 dan 7. Petrus dan para rasul lainnya menyadari bahwa mereka membutuhkan penolong-penolong untuk mengurus para janda serta kaum miskin. Jadi, mereka mentahbiskan tujuh orang diakon. Stefanus adalah yang paling terkenal dari antara mereka.

Tuhan mengadakan banyak mukjizat melalui St. Stefanus. Ia berbicara dengan hikmat dan karunia yang membuat banyak dari para pendengarnya menjadi pengikut Yesus. Para musuh Gereja Yesus merasa geram melihat betapa berhasilnya khotbah St. Stefanus. Pada akhirnya, mereka bersekongkol untuk melawan dia. Mereka tidak dapat membantah perkataan-perkataannya yang bijaksana, jadi mereka memerintahkan beberapa orang untuk bersaksi dusta terhadapnya. Saksi-saksi palsu itu mengatakan bahwa Stefanus telah berbicara hujat terhadap Tuhan. St. Stefanus menghadapi gerombolan para musuhnya yang banyak itu tanpa rasa takut. Malahan, Kitab Suci mengatakan bahwa wajahnya menjadi serupa dengan wajah malaikat.

Stefanus berbicara tentang Yesus, menunjukkan bahwa Ia adalah Juruselamat yang dijanjikan Tuhan. Ia mencela para musuhnya karena tidak percaya kepada Yesus. Mendengar itu, mereka menjadi amat marah serta berteriak-teriak kepadanya. Tetapi, Stefanus memandang ke langit dan berkata bahwa ia melihat langit terbuka dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Para musuhnya menutup telinga mereka dan tidak mau mendengarnya lebih lanjut. Mereka menyeret St. Stefanus ke luar kota Yerusalem dan melemparinya dengan batu hingga mati. Orang kudus itu berdoa, “Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Kemudian ia berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk tidak menghukum para musuh yang membunuhnya. Setelah pernyataan kasih yang sedemikian besar itu, Stefanus pergi untuk menerima ganjaran surgawi.

“Kasih yang membawa Kristus dari surga ke dunia telah membawa Stefanus dari dunia ke surga… Kristus telah menjadikan kasih sebagai tangga yang memungkinkan segenap umat Kristiani untuk mendaki ke surga. Oleh karenanya, berpegang-teguhlah kepadanya, dengan segala ketulusan hati, hendaknya kamu saling membagikan wujud nyata kasihmu itu, dan dengan kemajuanmu dalam kasih, mendakilah bersama-sama.”  St. Fulgentius
 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 1:24:00 PM

Kamis, 20 Desember 2012

,

St. Dominikus dari Silos


St. Dominikus dari SilosDominikus, seorang anak Spanyol penggembala domba, dilahirkan pada awal abad kesebelas. Ia melewatkan sebagian besar waktunya seorang diri dengan ditemani kawanan dombanya di lembah pegunungan Pyrenees. Di sanalah ia mulai mencintai doa. Segera Dominikus menjadi seorang biarawan, seorang biarawan yang amat baik. Ia diangkat menjadi abbas (artinya pemimpin biara) dan membawa banyak kemajuan bagi biaranya.

Tetapi, suatu hari Raja Garcia III dari Navarre, Spanyol menyatakan bahwa sebagian dari harta milik biara adalah miliknya. St. Dominikus menolak memberikannya kepada raja. Ia berpendapat bahwa tidaklah benar menyerahkan harta milik Gereja kepada raja. Keputusannya ini membuat raja amat murka. Ia memerintahkan Dominikus untuk segera meninggalkan kerajaannya. Abbas Dominikus serta para biarawannya disambut dengan hangat oleh seorang raja lain, Ferdinand I dari Castile. Ferdinand mengatakan bahwa mereka boleh menempati suatu biara tua yang dikenal sebagai biara St. Sebastianus di Silos. Biara ini terletak di suatu daerah yang terpencil dan dalam keadaan rusak parah. Tetapi dengan Dominikus sebagai kepala biaranya, segera saja biara tersebut berubah penampilannya. Malahan, Dominikus menjadikannya sebagai salah satu biara yang paling terkenal di seluruh Spanyol.

St. Dominikus mengadakan banyak mukjizat dengan menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Bertahun-tahun setelah kematiannya, St. Dominikus menampakkan diri kepada seorang isteri dan ibu. Nama wanita itu ialah Yoana, sekarang dikenal sebagai Beata Yoana dari Aza. St. Dominikus mengatakan kepadanya bahwa Tuhan akan mengirimkan seorang anak laki-laki lagi kepadanya. Ketika puteranya itu lahir, Yoana memberinya nama Dominikus sebagai ungkapan rasa syukurnya. Dominikus inilah yang kelak menjadi St. Dominikus yang agung, pendiri Ordo Dominikan.

St. Dominikus dari Silos wafat pada tanggal 20 Desember 1073.

Melalui doa-doanya setiap hari, St. Dominikus membina hubungan yang mesra abadi dengan Tuhan. Luangkan sedikit waktu - meskipun hanya sepuluh menit saja - untuk berdoa setiap pagi, dan bertekunlah dalam doamu itu. 
 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 4:50:00 AM