Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

,

Pandanglah Aku Di Salib

dikutip dari: Pintu ke Surga, Pesan-pesan Kasih Yesus
Pandanglah Aku di Salib… Jadi, Aku tidak membuatmu jijik dalam keadaan ini? Kejijikan manusia, jauh dari Bapa, sendirian, dengan beban dosa-dosa, disalibkan pada Salib… Masih dapatkah engkau memandang pada-Ku dengan penuh kepercayaan, penuh pengharapan dan keyakinan bahwa Aku adalah Tuhan-mu dan Mempelai-mu?... Semua orang telah meninggalkan-Ku dalam kebingungan mereka atas keterpurukan-Ku. Dua atau tiga jiwa yang setia memandang pada-Ku dengan airmata di pelupuk mata… BundaKu, BundaKu terkasih!... Murid yang begitu Aku kasihi, Maria Magdalena, dan engkau bersama mereka… Aku mengenalimu dan Aku merasa bahagia, tetapi di manakah yang lainnya? Di manakah Petrus, Batu Karang, yang topan badai tidak akan menguasainya? Di manakah Gereja-Ku yang baru yang akan segera muncul dari Luka ungu di Hati-Ku yang siap ditikam oleh prajurit? Ia akan muncul sebagai bunga yang terindah di Firdaus, yang dikandung dari Kasih dan diberi makan dengan Tubuh-Ku dan Darah-Ku yang akan terus tercurah bagi Gereja hingga akhir waktu, sebagaimana Aku lakukan pada saat ini.
 
yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 1:20:00 PM

Senin, 31 Desember 2012

Bersepeda Bersama Yesus

Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, “Ayo, kayuh terus pedalnya!”

Aku takut, khawatir dan bertanya, “Aku mau dibawa ke mana?” Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, “Aku takut!” Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan … orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, “Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.” Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku
takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata … “Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.”
sumber : Thoughts for the day, 19 Feb 2003 by Chuck Ebbs
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher: Unknown - 5:37:00 PM

Membuka Helai-Helai Mawar

Kuncup mawar
Hanyalah kuncup mawar mungil,
sekuntum bunga indah ciptaan Tuhan;
namun demikian, aku tak dapat membuka helai-helai bunganya,
dengan tangan-tanganku yang kikuk dan canggung.

Rahasia membuka helai-helai bunga,
aku tak mengetahuinya;
Tuhan membuatnya mekar menakjubkan,
sementara di tangan-tanganku, ia layu lalu mati.

Jika aku tak dapat membuka helai-helai kuncup mawar,
bunga indah ciptaan Tuhan,
bagaimana mungkin aku berpikir bahwa aku memiliki kebijaksanaan,
untuk membuka lembar-lembar hidupku?

Jadi, aku mengandalkan bimbingan-Nya,
setiap saat, setiap hari;
aku datang mohon tuntunan-Nya,
dalam setiap langkah melewati jalan ziarah.

Jalan yang terbentang di hadapanku,
hanya Bapa Surgawi yang tahu;
aku mengandalkan-Nya untuk membuka lembar-lembar waktuku,
seperti Ia membuka helai-helai mawar.(Yesaya.indocell.net)
Publisher: Unknown - 5:32:00 PM

Kamis, 27 Desember 2012

, ,

Kado Ulang Tahun Untuk Yesus


Menurut berbagai sumber kisah berikut ini adalah sebuah kisah nyata. Seorang anak laki-laki kelas empat sekolah dasar di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, setiap hari harus melintasi rute daerah tanah bebatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak kendaraan melaju kencang dan tak beraturan. Setiap pagi, setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, anak ini mampir sebentar ke gereja sekedar untuk menyapa Tuhan dalam Tabernakel. Tindakannya selama ini diamati oleh Pastor Agaton, pastor paroki, yang merasa tersentuh melihat perilaku anak laki-laki yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu hari ini Andy? Apakah kamu akan segera berangkat ke sekolah?"

"Ya, Pastor!" balas Andy dengan senyum khasnya.

Sebab Pastor mengkhawatirkan keselamatan Andy, suatu hari ia mengatakan kepada bocah tersebut,

"Jangan menyeberang jalan raya sendirian. Sepulang sekolah, kau boleh mampir ke gereja dan aku akan menemanimu ke seberang jalan. Dengan begitu aku bisa memastikan bahwa kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Pastor."

"Kenapa kamu tidak segera pulang sekarang?"

"Saya masih ingin menyapa Tuhan sebentar, Pastor."

Pastor meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan Tabernakel.

"Tuhan, Engkau tahu ulangan matematikaku hari ini sangat jelek, tetapi aku tidak mencontek meski teman-temanku melakukannya.

Kami mengalami musim paceklik, tetapi aku masih bisa sarapan sepotong kue. Terima kasih atas kuenya.

Orang bilang bahwa kami akan mengalami masa-masa musim panen yang susah, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolonglah supaya mereka bisa bersekolah kembali.

Lihat, Tuhan, ini sepatuku. Mungkin aku harus berjalan ke sekolah tanpa sepatu minggu depan.

Mama memukulku lagi. Sakit, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang mama. Tuhan... Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau bisa menyembuhkannya, di sini... di sini... aku rasa Engkau tahu yang ini kan ...? Tolong jangan marahi Mama... Mama hanya sedang kesal dan khawatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku.

Ah Tuhan, ... aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis cantik di kelasku, namanya Anita ...menurut-Mu apakah dia akan menyukaiku? Ah, bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkan-Mu. Engkau adalah sahabatku.

O ya ... sebentar lagi Natal, ulang tahun-Mu tinggal beberapa hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat aku punya kado untuk-Mu. Tapi, ini kejutan untuk-Mu. Aku harap Engkau akan menyukainya. Ooops, aku harus pergi sekarang."

"Pastor … Pastor … aku sudah selesai. Pastor bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Suatu hari, Pastor Agaton jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Empat perempuan tua yang tidak pernah tersenyum diserahi tugas merawat gereja. Seusai pesta Natal di sekolah, Andy bergegas menuju gereja, tak sabar hendak memberikan kadonya untuk Yesus. Ia menerobos masuk ke dalam gedung gereja dan mendapati keempat perempuan tua itu sedang berlutut dengan Rosario di tangan.

"Halo… aku...," sapanya riang.

"Bocah tidak tahu sopan! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa?! Keluar!"

Andy terkejut, "Tetapi, di mana Pastor Agaton? Pastor akan membantuku menyeberangi jalan raya… Pastor menyuruhku mampir lewat pintu belakang gereja. Aku juga harus menyapa Tuhan - aku punya kado ulang tahun untuk-Nya. "

Andy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, ketika seorang dari keempat perempuan itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar gereja.

Sambil membuat tanda salib ia berkata, "Keluarlah bocah... jangan ganggu kami yang sedang berdoa!"

Andy sendirian menyeberangi jalan raya dengan pikiran galau, ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju kencang dari arah tikungan jalan. Tak ada waktu untuk menghindar, dan Andy tewas seketika. Orang-orang berlarian datang dan mengelilingi tubuh bocah malang yang sudah tak bernyawa tersebut. Sekonyong-konyong, muncul seorang Lelaki berjubah putih yang dengan berurai airmata datang dan memeluk tubuh Andy.

"Apakah Anda mengenalnya? Apakah Anda keluarga bocah malang ini?"

Lelaki itu menggeleng dan dengan hati pilu menjawab, "Dia sahabat-Ku." Hanya itu yang Ia katakan. Ia mengambil hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya di dada-Nya. Lalu Ia berdiri dan pergi sambil membopong tubuh Andy; keduanya pun segera lenyap dari pandangan.

Sepulang dari rumah sakit, Pastor Agaton berkunjung ke rumah Andy dan bercakap-cakap dengan kedua orangtuanya.

"Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal?"

"Seorang Lelaki berjubah putih menghantarnya kemari," ucap ibu Andy terisak.

"Apa yang dikatakan-Nya?"

Ayah Andy menjawab, "Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sangat berduka. Kami tidak mengenal-Nya, namun Ia terlihat sangat sedih atas meninggalnya Andy. Anehnya, ada suatu kedamaian yang sulit dimengerti mengenai Lelaki itu ketika Ia menyerahkan anak kami. Ia membelai wajah Andy dan mengecup keningnya, sembari membisikkan sesuatu..."

"Apa yang dikatakannya?"

Ia berkata, "Terima kasih untuk kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersama-Ku. Saya menangis, tetapi tidak tahu mengapa begitu. Yang saya tahu, saya menangis karena bahagia ... saya tak dapat menjelaskannya Pastor, tetapi ketika Dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Saya merasakan kasih yang mendalam di hati. Tak dapat saya lukiskan sukacita dalam hati ini. Saya tahu puteraku sudah berada di surga sekarang. Tapi tolong katakan, Pastor, siapakah Lelaki ini yang biasa berbicara dengan puteraku setiap hari di gereja? Pastor seharusnya tahu karena Pastor selalu berada di sana setiap hari."

Pastor Agaton merasa ada air mata menetes di pipinya, dengan lutut gemetar ia berbisik, "Ia tidak berbicara dengan siapa-siapa … kecuali dengan Tuhan."
 
dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 7:26:00 PM

Rabu, 26 Desember 2012

Dalam Tangan Siapa ?



Bola basket dalam tanganku berharga $19.
Bola basket dalam tangan Michael Jordan berharga $33 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Baseball dalam tanganku berharga $6.
Baseball dalam tangan Mark McGuire berharga $19 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Raket tenis tak ada gunanya dalam tanganku.
Raket tenis dalam tangan Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Tongkat dalam tanganku menghalau binatang buas.
Tongkat dalam tangan Musa membelah lautan luas.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Ketapel dalam tanganku merupakan mainan anak-anak.
Ketapel dalam tangan Daud merupakan senjata dahsyat.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Lima roti dan dua ikan dalam tanganku menjadi beberapa potong roti isi.
Lima roti dan dua ikan dalam tangan Yesus memberi makan ribuan orang.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Paku-paku dalam tanganku menghasilkan sangkar burung.
Paku-paku dalam tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi segenap umat manusia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Kau lihat sekarang, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.
Jadi serahkan segala masalahmu, kekhawatiranmu, ketakutanmu,
harapan-harapanmu, impian-impianmu,
keluargamu, kawan serta sahabat-sahabatmu
dalam tangan Tuhan sebab…
segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.


Pesan ini sekarang ada dalam tanganmu.
Apa yang hendak KAU lakukan dengannya?

Tergantung ada dalam tangan siapa.
Publisher: Unknown - 1:59:00 PM

Rabu, 19 Desember 2012

Saat-saat Indah


Terkadang ada saat-saat dalam hidup
ketika engkau merindukan seseorang
begitu dalam, hingga engkau ingin mengambilnya dari angan-anganmu,
lalu memeluknya erat-erat!

Ketika pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka;
tetapi, seringkali kita memandang terlalu lama
pada pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pintu yang lain,
yang telah terbuka bagi kita.



Jangan percaya penglihatan; penglihatan dapat menipu.
Jangan percaya kekayaan; kekayaan dapat sirna.
Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum,
sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan
untuk mengubah hari gelap menjadi terang.
Carilah dia, yang membuat hatimu tersenyum.


Angankan apa yang engkau ingin angankan;
pergilah kemana engkau ingin pergi;
jadilah seperti yang engkau kehendaki,
sebab hidup hanya satu kali dan
engkau hanya memiliki satu kesempatan
untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan.

Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum,
cukup pencobaan untuk membuatmu kuat,
cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi,
dan cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.


Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus
memiliki yang terbaik dari segala sesuatu;
mereka hanya mengoptimalkan
segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka.

Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat
diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu;
engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga
engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu.



Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis
sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya
engkaulah satu-satunya yang tersenyum
sementara semua orang di sekelilingmu menangis.

Kirimkan pesan ini kepada mereka yang berarti bagimu
(aku baru saja melakukannya);
kepada mereka yang menyentuh hidupmu dengan suatu atau lain cara;
kepada mereka yang membuatmu tersenyum ketika engkau sungguh membutuhkannya;
kepada mereka yang membuatmu melihat
sisi baik dari segala hal ketika engkau jatuh;
kepada mereka yang persahabatannya engkau hargai;
kepada mereka yang begitu berarti dalam hidupmu.


Jika engkau tidak mengirimkannya, janganlah khawatir,
tak ada hal buruk yang akan menimpamu;
hanya saja engkau kehilangan satu kesempatan
untuk menyemarakkan hari seseorang dengan pesan ini!!!

Jangan hitung tahun-tahun yang lewat,
hitunglah saat-saat yang indah ….

Hidup tidak diukur dengan banyaknya napas yang kita hirup;
melainkan dengan saat-saat di mana kita menarik napas bahagia!
Publisher: Unknown - 6:08:00 PM
,

Baju Compang-camping Sang Pengemis

Seorang pengemis tinggal dekat istana raja. Suatu hari, ia melihat pengumuman dipasang di luar gerbang istana. Raja mengadakan suatu perjamuan besar. Siapa saja yang berpakaian kerajaan diundang ikut serta dalam perjamuan.
Si pengemis pergi dengan sedih. Ia memandang baju compang-camping yang dikenakannya dan mendesah. Tentu saja hanya para raja dan keluarga kerajaan yang mengenakan jubah kerajaan, begitu pikirnya. Sekonyong-konyong suatu ide muncul di benaknya. Memikirkannya saja telah membuat tubuhnya gemetar. Beranikah ia?

Si pengemis kembali ke istana. Ia menghampiri penjaga gerbang istana. “Tolong saya, pak, saya mohon bicara dengan Sri Baginda.” “Tunggulah di sini,” jawab penjaga. Beberapa menit kemudian ia telah kembali. “Sri Baginda berkenan menemuimu,” demikian katanya, lalu menghantar si pengemis masuk.  

“Kamu ingin menemuiku?” tanya raja. “Ya, Tuanku raja. Hamba begitu ingin ikut serta dalam perjamuan yang Tuanku selenggarakan, tetapi hamba tidak memiliki jubah kerajaan untuk dikenakan pada perjamuan tersebut. Sudilah Tuanku, maafkan kelancangan hamba, sudilah Tuanku memberikan kepada hamba salah satu jubah usang Tuanku, sehingga hamba dapat datang ke perjamuan.”

Tubuh sang pengemis bergetar begitu hebat hingga ia tak sempat melihat sekilas senyum di wajah sang raja. “Engkau sungguh bijaksana datang kepadaku,” kata raja. Raja memanggil putranya, sang pangeran. “Ajaklah ia ke kamarmu dan berilah ia pakaian dari pakaianmu.”

Pangeran melakukan apa yang diperintahkan ayahnya dan segera saja sang pengemis telah berdiri di depan sebuah cermin, mengenakan jubah yang tak berani ia berharap untuk memilikinya. “Sekarang engkau layak ikut ambil bagian dalam perjamuan raja esok malam,” kata pangeran. “Tetapi, yang lebih penting dari itu, engkau tidak akan pernah memerlukan baju lagi. Jubah yang engkau kenakan itu akan tahan untuk selamanya. Sang pengemis jatuh tersungkur, “Oh, terima kasih,” serunya.

Tetapi, sementara ia pergi meninggalkan kamar, terlihat olehnya tumpukan baju dekilnya di atas lantai. Ia ragu-ragu. Bagaimana jika yang dikatakan pangeran itu tidak benar? Bagaimana jika ia membutuhkan baju lamanya lagi? Segera dipungutnya baju compang-campingnya.

Perjamuan itu jauh lebih mengagumkan daripada yang dapat dibayangkannya. Namun demikian, ia tak dapat menikmati perjamuan seperti seharusnya. Ia telah menggulung baju compang-campingnya menjadi suatu buntalan, dan buntalan itu berkali-kali jatuh dari pangkuannya. Hidangan berlalu cepat dan sebagian hidangan paling lezat itu terlewatkan olehnya.

Waktu membuktikan bahwa pangeran benar. Jubah pemberian pangeran tahan untuk selamanya. Tetapi, tetap saja pengemis yang malang itu merasa sayang untuk membuang baju compang-campingnya. Dengan berlalunya waktu, orang mulai lupa akan jubah kerajaan yang dikenakannya. Mereka hanya melihat buntalan baju compang-camping yang ia bawa kemanapun ia pergi. Mereka bahkan menyebutnya sebagai pak tua dengan baju compang-camping.

Suatu hari, sementara ia terbaring mendekati ajalnya, raja mengunjunginya. Si pengemis melihat wajah sedih raja ketika raja melihat buntalan dekil baju compang-camping di sisi pembaringannya. Tiba-tiba teringatlah sang pengemis akan ucapan pangeran dan ia menjadi sadar bahwa buntalan dekil itu telah membuatnya kehilangan kesempatan menikmati kerajaannya yang sebenarnya sepanjang hidupnya. Ia pun menangis pilu mengingat kebodohannya.

Dan raja ikut menangis bersama dia.
Pengemis
Kita telah diundang masuk ke dalam keluarga kerajaan - yaitu kerajaan Allah. Agar dapat ikut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan, yang perlu kita lakukan hanyalah menanggalkan baju lama kita dan mengenakan “baju baru” iman yang telah disediakan oleh Putra Allah, Yesus Kristus.

Namun demikian, kita tidak dapat menahan terus baju lama kita. Ketika kita mengenakan iman akan Kristus, kita harus melepaskan dosa-dosa dalam hidup kita dan cara hidup kita yang lama. Yang lama harus ditinggalkan, jika kita rindu menikmati kerajaan yang sejati dan hidup berlimpah dalam Kristus.  


sumber : The Beggar's Rags; author unknown
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher: Unknown - 6:04:00 PM

Jumat, 16 November 2012

Renungan Hari Ini (16 November 2012)

"Barangsiapa kehilangan nyawanya ia akan menyelamatkannya"
(2Yoh 4-9; Luk 17:26-37)
"Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."(Luk 17:26-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari rini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hari-hari ini kita mulai mendekati akhir Tahun Liturgi sebelumnya memasuki Tahun Baru Liturgi, masa Adven. Dengan kata lain sudah hampir selama setahun kita merenungkan sabda-sabda Tuhan, yang berarti sudah cukup banyak yang kita baca dan renungkan. Sabda hari ini mengajak kita semua untuk mawas diri dengan cermin sabdaNya:"Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya". Dengan kata lain sejauh mana kita telah hidup dan bertindak dijiwai oleh sabda-sabda Tuhan, tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau  keinginan pribadi atau sebagai orang beriman kita semakin beriman, sebagai suami-isteri semakin saling mengasihi, sebagai pekerja semakin terampil bekerja, sebagai orang yang bertugas belajar semakin berpengetahuan dan dewasa, sebagai anggota lembaga hidup bakti semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dst.. Ada kemungkinan diri kita tidak lama lagi dipanggil Tuhan, mengingat dan memperhatikan kematian dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, maka apakah kita telah siap sedia dipanggil Tuhan atau meninggal dunia untuk selanjutnya menikmati hidup bahagia dan mulia selamanya di sorga. Maka baiklah kita mawas diri bahwa ketika dilahirkan di dunia ini kita tidak membawa harta kekayaan apa-apa, dalam keadaan telanjang bulat, dan ketika dipanggil Tuhan kita pun juga tak mungkin membawa harta benda atau kekayaan sedikitpun. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang kaya akan harta benda atau uang untuk memfungsikannya sedemikian rupa sehingga anda semakin beriman atau semakin suci, semakin siap sedia sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.
·   "Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya" (2Yoh 6). Perintah agar hidup saling mengasihi kiranya diajarkan oleh semua agama atau keyakinan, dan kita semua kiranya telah berkali-kali mendengarkan homili atau kotbah atau mungkin membaca buku-buku rohani atau keagamaan, dengan kata lain secara jujur hendaknya mengakui bahwa kita telah mengenal perintah-perintahNya, dan semua perintahNya kiranya dipadatkan dalam perintah untuk hidup saling mengasihi. Maka pertanyaan bagi kita semua: apakah kita semakin hidup saling mengasihi, dan dengan demikian juga bersahabat dan bersaudara dengan siapapun tanpa pandang bulu, SARA? Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah kasih atau yang terkasih, dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena dan oleh kasih. Dengan kata lain kita kaya akan kasih, maka panggilan untuk saling mengasihi tidak sulit asal kita tidak pelit, yaitu tinggal menyalurkan kasih kepada orang lain, yang kita miliki secara melimpah ruah. Tidak hidup saling mengasihi berarti tidak beriman, tidak percaya kepada Tuhan alias kafir. Sekali lagi kita semua diingatkan bahwa sejak semua, sejak dilahirkan di dunia ini, kita telah mendengar dan menikmati kasih, maka hendaknya jangan dilupakan, melainkan hendaknya diperdalam dan diperkembangkan, sehingga pada suatu saat kita siap sedia bertemu dengan 'Kekasih Sejati', Allah, ketika kita meninggal dunia.
"Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati" (Mzm 119:1-2)
Dikutip dari : renunganimankatolik.blogspot.com
Publisher: Unknown - 5:09:00 AM

Rabu, 14 November 2012

TIGA KARUNG BERAS


TIGA KARUNG BERAS

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah
kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak
laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak
laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.

Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.

Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat
penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:
"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.

Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya"

.

Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan
membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah
lagi."

Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata:
"Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa
diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...

Inti dari Cerita ini adalah:

Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya.
Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: " Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya"

Selamat Pagi Berkah Dalem
 Dikutip dari : FB.Bunda Maria Santa Perawan Suci
Publisher: Unknown - 4:32:00 AM

Selasa, 13 November 2012

, ,

St. Stanislaus Kostka, Pengaku Iman

 St. Stanislaus Kostka, Pengaku Iman

Stanislaus Kostka dilahirkan pada tahun 1550 dalam sebuah keluarga bangsawan di Polandia. Bersama Paul - kakaknya -, ia dikirim orangtuanya belajar di sebuah kolese Yesuit di Wina, Austria. Stanislaus masih berusia 14 tahun kala itu. Ia seorang remaja yang lugu, periang dan peramah. Sehari dua kali ia mengunjungi kapel untuk berdoa dan ia tidak pernah lalai mendaraskan rosario setiap hari. Paul memperlakukan adiknya dengan kasar dan kejam. Ketika Stanislaus jatuh sakit dan dalam keadaan kritis, Paul melalaikan tanggung jawab terhadap adik kandungnya itu. Sulit mendatangkan imam, sebab Stanislaus indekos di rumah sebuah keluarga Protestan. Stanislaus berdoa kepada Tuhan dengan perantaraan Santa Barbara yang tak akan membiarkan seorang pun yang memohon perantaraannya meninggal tanpa menyambut sakramen. Doanya segera dikabulkan. Santa Barbara menampakkan diri didampingi dua malaikat untuk menghantarkan Komuni Kudus kepadanya. Santa Maria bersama Kanak-kanak Yesus menampakkan diri juga dan menyembuhkannya. Sebagai ucapan syukur kepada kerahiman ilahi, Stanislaus bertekad masuk Serikat Yesus. Pada bulan Oktober 1567, Stanislaus menerima jubah Yesuit. Sepuluh bulan lamanya ia menjalani novisiat dengan sangat baik. Ia seorang novis yang amat saleh meski masih muda usianya. Kesehatannya yang rapuh membuat Stanislaus rentan jatuh sakit. Ia berdoa dengan sungguh agar diperkenankan masuk ke surga pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Ia jatuh sakit pada tanggal 9 Agustus dan diwahyukan kepadanya bahwa permohonannya dikabulkan. Stanislaus Kostka wafat pada tanggal 15 Agustus 1568. Setelah wafatnya, banyak orang sakit menjadi sembuh dengan perantaraannya. Tiga tahun setelah wafatnya, jenazah Stanislaus didapati tidak rusak. Pada tahun 1604 Stanislaus Kostka dimaklumkan sebagai beato dan pada tahun 1726 sebagai santo. Santo Stanislaus Kostka dijadikan pelindung para pelajar dan mahasiswa.

Renungan:

Iman seorang beriman, terlebih iman kepercayaan seorang Kristiani, menjadikan orang beriman itu dekat dengan Tuhan Allah-nya. Iman bagi orang beriman laksana dian atau lilin yang bernyala siang dan malam. Iman, harapan, dan cinta kasih kepada Kristus dalam Ekaristi mengutus Santa Barbara membawa Komuni Kudus kepada Stanislaus. Imannya juga yang menggerakkan hati Santa Perawan Maria bersama Kanak-kanak Yesus untuk menyembuhkannya. Terlebih untuk menjemput dan menghantarnya masuk ke surga pada pesta SP Maria, 15 Agustus 1568, di usia 18 tahun. Dalam usia muda belia sudah menjadi kudus berkat iman yang selalu bernyala. 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net

Publisher: Unknown - 6:54:00 PM