yesaya.indocell.net
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Januari 2013
Cerita, Renungan
Pandanglah Aku Di Salib
dikutip dari: Pintu ke Surga, Pesan-pesan Kasih Yesus
Pandanglah
Aku di Salib… Jadi, Aku tidak membuatmu jijik dalam keadaan ini?
Kejijikan manusia, jauh dari Bapa, sendirian, dengan beban dosa-dosa,
disalibkan pada Salib… Masih dapatkah engkau memandang pada-Ku dengan
penuh kepercayaan, penuh pengharapan dan keyakinan bahwa Aku adalah
Tuhan-mu dan Mempelai-mu?... Semua orang telah meninggalkan-Ku dalam
kebingungan mereka atas keterpurukan-Ku. Dua atau tiga jiwa yang setia
memandang pada-Ku dengan airmata di pelupuk mata… BundaKu, BundaKu
terkasih!... Murid yang begitu Aku kasihi, Maria Magdalena, dan engkau
bersama mereka… Aku mengenalimu dan Aku merasa bahagia, tetapi di
manakah yang lainnya? Di manakah Petrus, Batu Karang, yang topan badai
tidak akan menguasainya? Di manakah Gereja-Ku yang baru yang akan segera
muncul dari Luka ungu di Hati-Ku yang siap ditikam oleh prajurit? Ia
akan muncul sebagai bunga yang terindah di Firdaus, yang dikandung dari
Kasih dan diberi makan dengan Tubuh-Ku dan Darah-Ku yang akan terus
tercurah bagi Gereja hingga akhir waktu, sebagaimana Aku lakukan pada
saat ini.
Senin, 31 Desember 2012
Renungan
Bersepeda Bersama Yesus
Pada
awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim
yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku
akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku
mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui
gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.
Ketika
aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah
arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu
bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.
Aku
tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak
itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya.
Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu
tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu
jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga
melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan.
Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya
pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia
berkata, “Ayo, kayuh terus pedalnya!”
Aku
takut, khawatir dan bertanya, “Aku mau dibawa ke mana?” Yesus tertawa
dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan
yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang
mencengangkan. Dan ketika aku berkata, “Aku takut!” Yesus menurunkan
kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.
Ia
membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku
perlukan … orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku
dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku
perlukan untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku.
Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.
Kemudian,
Yesus berkata, “Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang
membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi
kita.” Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu
kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku
belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.
Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku
takut
Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh
sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana
melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk
mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk
diam sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin
sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku
yang setia: Yesus Kristus.
Dan
ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan
tersenyum dan berkata … “Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.”
sumber : Thoughts for the day, 19 Feb 2003 by Chuck Ebbs
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher:
Unknown
- 5:37:00 PM
Renungan
Membuka Helai-Helai Mawar
Hanyalah kuncup mawar mungil,
sekuntum bunga indah ciptaan Tuhan;
namun demikian, aku tak dapat membuka helai-helai bunganya,
dengan tangan-tanganku yang kikuk dan canggung.
Rahasia membuka helai-helai bunga,
aku tak mengetahuinya;
Tuhan membuatnya mekar menakjubkan,
sementara di tangan-tanganku, ia layu lalu mati.
Jika aku tak dapat membuka helai-helai kuncup mawar,
bunga indah ciptaan Tuhan,
bagaimana mungkin aku berpikir bahwa aku memiliki kebijaksanaan,
untuk membuka lembar-lembar hidupku?
Jadi, aku mengandalkan bimbingan-Nya,
setiap saat, setiap hari;
aku datang mohon tuntunan-Nya,
dalam setiap langkah melewati jalan ziarah.
Jalan yang terbentang di hadapanku,
hanya Bapa Surgawi yang tahu;
aku mengandalkan-Nya untuk membuka lembar-lembar waktuku,
seperti Ia membuka helai-helai mawar.(Yesaya.indocell.net)
Publisher:
Unknown
- 5:32:00 PM
Kamis, 27 Desember 2012
Artikel, Cerita, Renungan
Kado Ulang Tahun Untuk Yesus
Menurut
berbagai sumber kisah berikut ini adalah sebuah kisah nyata. Seorang
anak laki-laki kelas empat sekolah dasar di suatu daerah di Milaor
Camarine Sur, Filipina, setiap hari harus melintasi rute daerah tanah
bebatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak
kendaraan melaju kencang dan tak beraturan. Setiap pagi, setiap kali
berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, anak ini mampir sebentar ke
gereja sekedar untuk menyapa Tuhan dalam Tabernakel. Tindakannya selama
ini diamati oleh Pastor Agaton, pastor paroki, yang merasa tersentuh
melihat perilaku anak laki-laki yang lugu dan beriman tersebut.
"Bagaimana kabarmu hari ini Andy? Apakah kamu akan segera berangkat ke sekolah?"
"Ya, Pastor!" balas Andy dengan senyum khasnya.
Sebab Pastor mengkhawatirkan keselamatan Andy, suatu hari ia mengatakan kepada bocah tersebut,
"Jangan
menyeberang jalan raya sendirian. Sepulang sekolah, kau boleh mampir ke
gereja dan aku akan menemanimu ke seberang jalan. Dengan begitu aku
bisa memastikan bahwa kamu pulang ke rumah dengan selamat."
"Terima kasih, Pastor."
"Kenapa kamu tidak segera pulang sekarang?"
"Saya masih ingin menyapa Tuhan sebentar, Pastor."
Pastor meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan Tabernakel.
"Tuhan, Engkau tahu ulangan matematikaku hari ini sangat jelek, tetapi aku tidak mencontek meski teman-temanku melakukannya.
Kami mengalami musim paceklik, tetapi aku masih bisa sarapan sepotong kue. Terima kasih atas kuenya.
Orang
bilang bahwa kami akan mengalami masa-masa musim panen yang susah,
bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolonglah supaya mereka
bisa bersekolah kembali.
Lihat, Tuhan, ini sepatuku. Mungkin aku harus berjalan ke sekolah tanpa sepatu minggu depan.
Mama
memukulku lagi. Sakit, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling
tidak aku masih punya seorang mama. Tuhan... Engkau mau lihat lukaku?
Aku tahu Engkau bisa menyembuhkannya, di sini... di sini... aku rasa
Engkau tahu yang ini kan ...? Tolong jangan marahi Mama... Mama hanya
sedang kesal dan khawatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku.
Ah
Tuhan, ... aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis
cantik di kelasku, namanya Anita ...menurut-Mu apakah dia akan
menyukaiku? Ah, bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap
menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk
menyenangkan-Mu. Engkau adalah sahabatku.
O
ya ... sebentar lagi Natal, ulang tahun-Mu tinggal beberapa hari lagi,
apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat aku punya kado
untuk-Mu. Tapi, ini kejutan untuk-Mu. Aku harap Engkau akan menyukainya.
Ooops, aku harus pergi sekarang."
"Pastor … Pastor … aku sudah selesai. Pastor bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"
Suatu
hari, Pastor Agaton jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Empat
perempuan tua yang tidak pernah tersenyum diserahi tugas merawat
gereja. Seusai pesta Natal di sekolah, Andy bergegas menuju gereja, tak
sabar hendak memberikan kadonya untuk Yesus. Ia menerobos masuk ke dalam
gedung gereja dan mendapati keempat perempuan tua itu sedang berlutut
dengan Rosario di tangan.
"Halo… aku...," sapanya riang.
"Bocah tidak tahu sopan! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa?! Keluar!"
Andy
terkejut, "Tetapi, di mana Pastor Agaton? Pastor akan membantuku
menyeberangi jalan raya… Pastor menyuruhku mampir lewat pintu belakang
gereja. Aku juga harus menyapa Tuhan - aku punya kado ulang tahun
untuk-Nya. "
Andy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, ketika seorang dari keempat perempuan itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar gereja.
Sambil membuat tanda salib ia berkata, "Keluarlah bocah... jangan ganggu kami yang sedang berdoa!"
Andy
sendirian menyeberangi jalan raya dengan pikiran galau, ketika
tiba-tiba sebuah bus datang melaju kencang dari arah tikungan jalan. Tak
ada waktu untuk menghindar, dan Andy tewas seketika. Orang-orang
berlarian datang dan mengelilingi tubuh bocah malang yang sudah tak
bernyawa tersebut. Sekonyong-konyong, muncul seorang Lelaki berjubah
putih yang dengan berurai airmata datang dan memeluk tubuh Andy.
"Apakah Anda mengenalnya? Apakah Anda keluarga bocah malang ini?"
Lelaki
itu menggeleng dan dengan hati pilu menjawab, "Dia sahabat-Ku." Hanya
itu yang Ia katakan. Ia mengambil hadiah dari dalam baju bocah malang
tersebut dan menaruhnya di dada-Nya. Lalu Ia berdiri dan pergi sambil
membopong tubuh Andy; keduanya pun segera lenyap dari pandangan.
Sepulang dari rumah sakit, Pastor Agaton berkunjung ke rumah Andy dan bercakap-cakap dengan kedua orangtuanya.
"Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal?"
"Seorang Lelaki berjubah putih menghantarnya kemari," ucap ibu Andy terisak.
"Apa yang dikatakan-Nya?"
Ayah
Andy menjawab, "Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sangat
berduka. Kami tidak mengenal-Nya, namun Ia terlihat sangat sedih atas
meninggalnya Andy. Anehnya, ada suatu kedamaian yang sulit dimengerti
mengenai Lelaki itu ketika Ia menyerahkan anak kami. Ia membelai wajah
Andy dan mengecup keningnya, sembari membisikkan sesuatu..."
"Apa yang dikatakannya?"
Ia
berkata, "Terima kasih untuk kadonya. Aku akan segera berjumpa
denganmu. Engkau akan bersama-Ku. Saya menangis, tetapi tidak tahu
mengapa begitu. Yang saya tahu, saya menangis karena bahagia ... saya
tak dapat menjelaskannya Pastor, tetapi ketika Dia meninggalkan kami,
ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Saya merasakan kasih yang
mendalam di hati. Tak dapat saya lukiskan sukacita dalam hati ini. Saya
tahu puteraku sudah berada di surga sekarang. Tapi tolong katakan,
Pastor, siapakah Lelaki ini yang biasa berbicara dengan puteraku setiap
hari di gereja? Pastor seharusnya tahu karena Pastor selalu berada di
sana setiap hari."
Pastor
Agaton merasa ada air mata menetes di pipinya, dengan lutut gemetar ia
berbisik, "Ia tidak berbicara dengan siapa-siapa … kecuali dengan
Tuhan."
dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher:
Unknown
- 7:26:00 PM
Rabu, 26 Desember 2012
Renungan
Dalam Tangan Siapa ?
Bola basket dalam tanganku berharga $19.
Bola basket dalam tangan Michael Jordan berharga $33 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Baseball dalam tanganku berharga $6.
Baseball dalam tangan Mark McGuire berharga $19 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Raket tenis tak ada gunanya dalam tanganku.
Raket tenis dalam tangan Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Tongkat dalam tanganku menghalau binatang buas.
Tongkat dalam tangan Musa membelah lautan luas.
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Ketapel dalam tanganku merupakan mainan anak-anak.
Ketapel dalam tangan Daud merupakan senjata dahsyat.
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Lima roti dan dua ikan dalam tanganku menjadi beberapa potong roti isi.
Lima roti dan dua ikan dalam tangan Yesus memberi makan ribuan orang.
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Paku-paku dalam tanganku menghasilkan sangkar burung.
Paku-paku dalam tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi segenap umat manusia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Kau lihat sekarang, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.
Jadi serahkan segala masalahmu, kekhawatiranmu, ketakutanmu,
harapan-harapanmu, impian-impianmu,
keluargamu, kawan serta sahabat-sahabatmu
dalam tangan Tuhan sebab…
segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.
Pesan ini sekarang ada dalam tanganmu.
Apa yang hendak KAU lakukan dengannya?
Tergantung ada dalam tangan siapa.
Publisher:
Unknown
- 1:59:00 PM
Rabu, 19 Desember 2012
Renungan
Saat-saat Indah
Terkadang ada saat-saat dalam hidup
ketika engkau merindukan seseorang
begitu dalam, hingga engkau ingin mengambilnya dari angan-anganmu,
lalu memeluknya erat-erat!
Ketika pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka;
tetapi, seringkali kita memandang terlalu lama
pada pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pintu yang lain,
yang telah terbuka bagi kita.
Jangan percaya penglihatan; penglihatan dapat menipu.
Jangan percaya kekayaan; kekayaan dapat sirna.
Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum,
sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan
untuk mengubah hari gelap menjadi terang.
Carilah dia, yang membuat hatimu tersenyum.
Angankan apa yang engkau ingin angankan;
pergilah kemana engkau ingin pergi;
jadilah seperti yang engkau kehendaki,
sebab hidup hanya satu kali dan
engkau hanya memiliki satu kesempatan
untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan.
Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum,
cukup pencobaan untuk membuatmu kuat,
cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi,
dan cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.
Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus
memiliki yang terbaik dari segala sesuatu;
mereka hanya mengoptimalkan
segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka.
Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat
diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu;
engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga
engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu.
Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis
sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya
engkaulah satu-satunya yang tersenyum
sementara semua orang di sekelilingmu menangis.
Kirimkan pesan ini kepada mereka yang berarti bagimu
(aku baru saja melakukannya);
kepada mereka yang menyentuh hidupmu dengan suatu atau lain cara;
kepada mereka yang membuatmu tersenyum ketika engkau sungguh membutuhkannya;
kepada mereka yang membuatmu melihat
sisi baik dari segala hal ketika engkau jatuh;
kepada mereka yang persahabatannya engkau hargai;
kepada mereka yang begitu berarti dalam hidupmu.
Jika engkau tidak mengirimkannya, janganlah khawatir,
tak ada hal buruk yang akan menimpamu;
hanya saja engkau kehilangan satu kesempatan
untuk menyemarakkan hari seseorang dengan pesan ini!!!
Jangan hitung tahun-tahun yang lewat,
hitunglah saat-saat yang indah ….
Hidup tidak diukur dengan banyaknya napas yang kita hirup;
melainkan dengan saat-saat di mana kita menarik napas bahagia!
Publisher:
Unknown
- 6:08:00 PM
Artikel, Renungan
Baju Compang-camping Sang Pengemis
Seorang
pengemis tinggal dekat istana raja. Suatu hari, ia melihat pengumuman
dipasang di luar gerbang istana. Raja mengadakan suatu perjamuan besar.
Siapa saja yang berpakaian kerajaan diundang ikut serta dalam perjamuan.

Si
pengemis pergi dengan sedih. Ia memandang baju compang-camping yang
dikenakannya dan mendesah. Tentu saja hanya para raja dan keluarga
kerajaan yang mengenakan jubah kerajaan, begitu pikirnya.
Sekonyong-konyong suatu ide muncul di benaknya. Memikirkannya saja telah
membuat tubuhnya gemetar. Beranikah ia?
Si
pengemis kembali ke istana. Ia menghampiri penjaga gerbang istana.
“Tolong saya, pak, saya mohon bicara dengan Sri Baginda.” “Tunggulah di
sini,” jawab penjaga. Beberapa menit kemudian ia telah kembali. “Sri
Baginda berkenan menemuimu,” demikian katanya, lalu menghantar si
pengemis masuk.
“Kamu
ingin menemuiku?” tanya raja. “Ya, Tuanku raja. Hamba begitu ingin ikut
serta dalam perjamuan yang Tuanku selenggarakan, tetapi hamba tidak
memiliki jubah kerajaan untuk dikenakan pada perjamuan tersebut. Sudilah
Tuanku, maafkan kelancangan hamba, sudilah Tuanku memberikan kepada
hamba salah satu jubah usang Tuanku, sehingga hamba dapat datang ke
perjamuan.”
Tubuh sang pengemis bergetar begitu hebat hingga ia tak sempat melihat sekilas senyum di
wajah sang raja. “Engkau sungguh bijaksana datang kepadaku,” kata raja.
Raja memanggil putranya, sang pangeran. “Ajaklah ia ke kamarmu dan
berilah ia pakaian dari pakaianmu.”
Pangeran
melakukan apa yang diperintahkan ayahnya dan segera saja sang pengemis
telah berdiri di depan sebuah cermin, mengenakan jubah yang tak berani
ia berharap untuk memilikinya. “Sekarang engkau layak ikut ambil bagian
dalam perjamuan raja esok malam,” kata pangeran. “Tetapi, yang lebih
penting dari itu, engkau tidak akan pernah memerlukan baju lagi. Jubah
yang engkau kenakan itu akan tahan untuk selamanya. Sang pengemis jatuh
tersungkur, “Oh, terima kasih,” serunya.
Tetapi,
sementara ia pergi meninggalkan kamar, terlihat olehnya tumpukan baju
dekilnya di atas lantai. Ia ragu-ragu. Bagaimana jika yang dikatakan
pangeran itu tidak benar? Bagaimana jika ia membutuhkan baju lamanya
lagi? Segera dipungutnya baju compang-campingnya.
Perjamuan
itu jauh lebih mengagumkan daripada yang dapat dibayangkannya. Namun
demikian, ia tak dapat menikmati perjamuan seperti seharusnya. Ia telah
menggulung baju compang-campingnya menjadi suatu buntalan, dan buntalan
itu berkali-kali jatuh dari pangkuannya. Hidangan berlalu cepat dan
sebagian hidangan paling lezat itu terlewatkan olehnya.
Waktu
membuktikan bahwa pangeran benar. Jubah pemberian pangeran tahan untuk
selamanya. Tetapi, tetap saja pengemis yang malang itu merasa sayang
untuk membuang baju compang-campingnya. Dengan berlalunya waktu, orang
mulai lupa akan jubah kerajaan yang dikenakannya. Mereka hanya melihat
buntalan baju compang-camping yang ia bawa kemanapun ia pergi. Mereka
bahkan menyebutnya sebagai pak tua dengan baju compang-camping.
Suatu
hari, sementara ia terbaring mendekati ajalnya, raja mengunjunginya. Si
pengemis melihat wajah sedih raja ketika raja melihat buntalan dekil
baju compang-camping di sisi pembaringannya. Tiba-tiba teringatlah sang
pengemis akan ucapan pangeran dan ia menjadi sadar bahwa buntalan dekil
itu telah membuatnya kehilangan kesempatan menikmati kerajaannya yang
sebenarnya sepanjang hidupnya. Ia pun menangis pilu mengingat
kebodohannya.
Dan raja ikut menangis bersama dia.
Kita
telah diundang masuk ke dalam keluarga kerajaan - yaitu kerajaan Allah.
Agar dapat ikut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan, yang perlu kita
lakukan hanyalah menanggalkan baju lama kita dan mengenakan “baju baru”
iman yang telah disediakan oleh Putra Allah, Yesus Kristus.
Namun
demikian, kita tidak dapat menahan terus baju lama kita. Ketika kita
mengenakan iman akan Kristus, kita harus melepaskan dosa-dosa dalam
hidup kita dan cara hidup kita yang lama. Yang lama harus ditinggalkan,
jika kita rindu menikmati kerajaan yang sejati dan hidup berlimpah dalam
Kristus.
sumber : “The Beggar's Rags”; author unknown
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Publisher:
Unknown
- 6:04:00 PM
Jumat, 16 November 2012
Renungan
"Dan
sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak
pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan
dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu
datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti
yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan
menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi
keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit
dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di
mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu
sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam
rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang
yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri
Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan
nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan
menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang
di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan
ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang
seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." [Kalau ada dua
orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan
ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya
kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."(Luk 17:26-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Renungan Hari Ini (16 November 2012)
"Barangsiapa kehilangan nyawanya ia akan menyelamatkannya"
(2Yoh 4-9; Luk 17:26-37)
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari rini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Hari-hari
ini kita mulai mendekati akhir Tahun Liturgi sebelumnya memasuki
Tahun Baru Liturgi, masa Adven. Dengan kata lain sudah hampir selama
setahun kita merenungkan sabda-sabda Tuhan, yang berarti sudah cukup
banyak yang kita baca dan renungkan. Sabda hari ini mengajak kita
semua untuk mawas diri dengan cermin sabdaNya:"Barangsiapa berusaha
memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa
kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya". Dengan kata lain
sejauh mana kita telah hidup dan bertindak dijiwai oleh sabda-sabda
Tuhan, tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan
pribadi atau sebagai orang beriman kita semakin beriman, sebagai
suami-isteri semakin saling mengasihi, sebagai pekerja semakin terampil
bekerja, sebagai orang yang bertugas belajar semakin berpengetahuan
dan dewasa, sebagai anggota lembaga hidup bakti semakin membaktikan
diri sepenuhnya kepada Tuhan, dst.. Ada kemungkinan diri kita tidak
lama lagi dipanggil Tuhan, mengingat dan memperhatikan kematian dapat
terjadi kapan saja dan dimana saja, maka apakah kita telah siap sedia
dipanggil Tuhan atau meninggal dunia untuk selanjutnya menikmati hidup
bahagia dan mulia selamanya di sorga. Maka baiklah kita mawas diri
bahwa ketika dilahirkan di dunia ini kita tidak membawa harta kekayaan
apa-apa, dalam keadaan telanjang bulat, dan ketika dipanggil Tuhan
kita pun juga tak mungkin membawa harta benda atau kekayaan
sedikitpun. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun
yang kaya akan harta benda atau uang untuk memfungsikannya sedemikian
rupa sehingga anda semakin beriman atau semakin suci, semakin siap
sedia sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.
· "Dan
inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya.
Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih,
sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya" (2Yoh 6). Perintah
agar hidup saling mengasihi kiranya diajarkan oleh semua agama atau
keyakinan, dan kita semua kiranya telah berkali-kali mendengarkan homili
atau kotbah atau mungkin membaca buku-buku rohani atau keagamaan,
dengan kata lain secara jujur hendaknya mengakui bahwa kita telah
mengenal perintah-perintahNya, dan semua perintahNya kiranya
dipadatkan dalam perintah untuk hidup saling mengasihi. Maka pertanyaan
bagi kita semua: apakah kita semakin hidup saling mengasihi, dan
dengan demikian juga bersahabat dan bersaudara dengan siapapun tanpa
pandang bulu, SARA? Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa
masing-masing dari kita adalah buah kasih atau yang terkasih, dapat
tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena dan
oleh kasih. Dengan kata lain kita kaya akan kasih, maka panggilan
untuk saling mengasihi tidak sulit asal kita tidak pelit, yaitu
tinggal menyalurkan kasih kepada orang lain, yang kita miliki secara
melimpah ruah. Tidak hidup saling mengasihi berarti tidak beriman,
tidak percaya kepada Tuhan alias kafir. Sekali lagi kita semua
diingatkan bahwa sejak semua, sejak dilahirkan di dunia ini, kita
telah mendengar dan menikmati kasih, maka hendaknya jangan dilupakan,
melainkan hendaknya diperdalam dan diperkembangkan, sehingga pada
suatu saat kita siap sedia bertemu dengan 'Kekasih Sejati', Allah,
ketika kita meninggal dunia.
"Berbahagialah
orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat
TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang
peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati" (Mzm 119:1-2)
Dikutip dari : renunganimankatolik.blogspot.com
Publisher:
Unknown
- 5:09:00 AM
Rabu, 14 November 2012
Renungan
TIGA KARUNG BERAS
TIGA KARUNG BERAS
Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah
kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak
laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak
laki-lakinya untuk saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung
tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut
diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih
menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg
beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya
tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan
kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan
membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan
berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali
tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah
melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi
daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah,
mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang
anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga
kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil
melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama,
dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin
sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
pengawas
yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan
mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para
wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini
isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat
penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam
kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari
kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan
berkata:
"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir,
apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian
berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima
tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka
beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.
Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya"
.
Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami
semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan
berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam
bermacam-macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu
tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan
ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah
besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa
begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa
pulang saja berasmu itu !".
Dengan berlinang air mata sang ibu
pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu,
sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata
sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang
ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan
memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan
membengkak.
Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita
rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk
bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti
sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan
menyuruhnya bersekolah
lagi."
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat
pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap
pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua
beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.
Pada saat sang ibu
bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir,
kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata:
"Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa
diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak
dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk
sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan
mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu
pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."
Akhirnya
masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam
kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut
selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus
masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.
Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari
anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu
banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini
yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong
beras.
Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan
menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya
bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.
Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan
melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan
sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut
kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat
mamanya dan berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...
Inti dari Cerita ini adalah:
Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan
sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus
memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati
mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah
dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa
depannya.
Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama
kita berada dengan satu kalimat: " Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu,
Aku Mengasihimu. .. selamanya"
Selamat Pagi Berkah Dalem
Dikutip dari : FB.Bunda Maria Santa Perawan Suci
Publisher: Unknown - 4:32:00 AMSelasa, 13 November 2012
Renungan, Santo, Santo-Santa
Stanislaus
Kostka dilahirkan pada tahun 1550 dalam sebuah keluarga bangsawan di
Polandia. Bersama Paul - kakaknya -, ia dikirim orangtuanya belajar di
sebuah kolese Yesuit di Wina, Austria. Stanislaus masih berusia 14 tahun
kala itu. Ia seorang remaja yang lugu, periang dan peramah. Sehari dua
kali ia mengunjungi kapel untuk berdoa dan ia tidak pernah lalai
mendaraskan rosario setiap hari. Paul memperlakukan adiknya dengan kasar
dan kejam. Ketika Stanislaus jatuh sakit dan dalam keadaan kritis, Paul
melalaikan tanggung jawab terhadap adik kandungnya itu. Sulit
mendatangkan imam, sebab Stanislaus indekos di rumah sebuah keluarga
Protestan. Stanislaus berdoa kepada Tuhan dengan perantaraan Santa
Barbara yang tak akan membiarkan seorang pun yang memohon perantaraannya
meninggal tanpa menyambut sakramen. Doanya segera dikabulkan. Santa
Barbara menampakkan diri didampingi dua malaikat untuk menghantarkan
Komuni Kudus kepadanya. Santa Maria bersama Kanak-kanak Yesus
menampakkan diri juga dan menyembuhkannya. Sebagai ucapan syukur kepada
kerahiman ilahi, Stanislaus bertekad masuk Serikat Yesus. Pada bulan
Oktober 1567, Stanislaus menerima jubah Yesuit. Sepuluh bulan lamanya ia
menjalani novisiat dengan sangat baik. Ia seorang novis yang amat saleh
meski masih muda usianya. Kesehatannya yang rapuh membuat Stanislaus
rentan jatuh sakit. Ia berdoa dengan sungguh agar diperkenankan masuk ke
surga pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Ia jatuh sakit pada
tanggal 9 Agustus dan diwahyukan kepadanya bahwa permohonannya
dikabulkan. Stanislaus Kostka wafat pada tanggal 15 Agustus 1568.
Setelah wafatnya, banyak orang sakit menjadi sembuh dengan
perantaraannya. Tiga tahun setelah wafatnya, jenazah Stanislaus didapati
tidak rusak. Pada tahun 1604 Stanislaus Kostka dimaklumkan sebagai
beato dan pada tahun 1726 sebagai santo. Santo Stanislaus Kostka dijadikan pelindung para pelajar dan mahasiswa.
Publisher: Unknown - 6:54:00 PM
St. Stanislaus Kostka, Pengaku Iman
Renungan:
Iman
seorang beriman, terlebih iman kepercayaan seorang Kristiani,
menjadikan orang beriman itu dekat dengan Tuhan Allah-nya. Iman bagi
orang beriman laksana dian atau lilin yang bernyala siang dan malam.
Iman, harapan, dan cinta kasih kepada Kristus dalam Ekaristi mengutus
Santa Barbara membawa Komuni Kudus kepada Stanislaus. Imannya juga yang
menggerakkan hati Santa Perawan Maria bersama Kanak-kanak Yesus untuk
menyembuhkannya. Terlebih untuk menjemput dan menghantarnya masuk ke
surga pada pesta SP Maria, 15 Agustus 1568, di usia 18 tahun. Dalam usia
muda belia sudah menjadi kudus berkat iman yang selalu bernyala.
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
Publisher: Unknown - 6:54:00 PM
Langganan:
Postingan (Atom)