St. Stanislaus Kostka, Pengaku Iman
Stanislaus
Kostka dilahirkan pada tahun 1550 dalam sebuah keluarga bangsawan di
Polandia. Bersama Paul - kakaknya -, ia dikirim orangtuanya belajar di
sebuah kolese Yesuit di Wina, Austria. Stanislaus masih berusia 14 tahun
kala itu. Ia seorang remaja yang lugu, periang dan peramah. Sehari dua
kali ia mengunjungi kapel untuk berdoa dan ia tidak pernah lalai
mendaraskan rosario setiap hari. Paul memperlakukan adiknya dengan kasar
dan kejam. Ketika Stanislaus jatuh sakit dan dalam keadaan kritis, Paul
melalaikan tanggung jawab terhadap adik kandungnya itu. Sulit
mendatangkan imam, sebab Stanislaus indekos di rumah sebuah keluarga
Protestan. Stanislaus berdoa kepada Tuhan dengan perantaraan Santa
Barbara yang tak akan membiarkan seorang pun yang memohon perantaraannya
meninggal tanpa menyambut sakramen. Doanya segera dikabulkan. Santa
Barbara menampakkan diri didampingi dua malaikat untuk menghantarkan
Komuni Kudus kepadanya. Santa Maria bersama Kanak-kanak Yesus
menampakkan diri juga dan menyembuhkannya. Sebagai ucapan syukur kepada
kerahiman ilahi, Stanislaus bertekad masuk Serikat Yesus. Pada bulan
Oktober 1567, Stanislaus menerima jubah Yesuit. Sepuluh bulan lamanya ia
menjalani novisiat dengan sangat baik. Ia seorang novis yang amat saleh
meski masih muda usianya. Kesehatannya yang rapuh membuat Stanislaus
rentan jatuh sakit. Ia berdoa dengan sungguh agar diperkenankan masuk ke
surga pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Ia jatuh sakit pada
tanggal 9 Agustus dan diwahyukan kepadanya bahwa permohonannya
dikabulkan. Stanislaus Kostka wafat pada tanggal 15 Agustus 1568.
Setelah wafatnya, banyak orang sakit menjadi sembuh dengan
perantaraannya. Tiga tahun setelah wafatnya, jenazah Stanislaus didapati
tidak rusak. Pada tahun 1604 Stanislaus Kostka dimaklumkan sebagai
beato dan pada tahun 1726 sebagai santo. Santo Stanislaus Kostka dijadikan pelindung para pelajar dan mahasiswa.
Renungan:
Iman
seorang beriman, terlebih iman kepercayaan seorang Kristiani,
menjadikan orang beriman itu dekat dengan Tuhan Allah-nya. Iman bagi
orang beriman laksana dian atau lilin yang bernyala siang dan malam.
Iman, harapan, dan cinta kasih kepada Kristus dalam Ekaristi mengutus
Santa Barbara membawa Komuni Kudus kepada Stanislaus. Imannya juga yang
menggerakkan hati Santa Perawan Maria bersama Kanak-kanak Yesus untuk
menyembuhkannya. Terlebih untuk menjemput dan menghantarnya masuk ke
surga pada pesta SP Maria, 15 Agustus 1568, di usia 18 tahun. Dalam usia
muda belia sudah menjadi kudus berkat iman yang selalu bernyala.
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
0 komentar:
Posting Komentar