Ayahnya
ingin agar salah seorang puteranya melayani dan mengabdi Gereja. Ketika
sedang bertanya-tanya siapakah gerangan yang akan memenuhi keinginannya
itu, dengan tertawa Laurensius mengatakan kepada ayahnya agar jangan
bingung lagi. “Itulah kerinduanku,” kata Laurensius, “bagian warisanku
adalah melayani Tuhan dalam Gereja-Nya.” Maka, ayahnya membimbing
tangannya dan menyerahkannya kepada uskup. Laurensius menjadi seorang
imam dan abbas (= pemimpin biara) sebuah biara yang besar. Suatu ketika,
terjadilah paceklik di mana bahan pangan sulit didapatkan di seluruh
daerah sekitar biara. Abbas yang baik itu membagi-bagikan sejumlah besar
bahan makanan agar penduduk terhindar dari bahaya kelaparan.
Laurensius
juga harus menangani banyak masalah sehubungan dengan jabatannya
sebagai pemimpin biara. Sebagian biarawan mengkritiknya karena terlalu
disiplin. Meskipun demikian, Laurensius tetap membimbing komunitasnya
dengan cara laku silih dan matiraga. Ada juga masalah dengan para
penyamun dan perompak yang tinggal di bukit-bukit sekitarnya. Walaupun
begitu, tidak ada suatu pun yang membuat Laurensius O'Toole gentar.
Laurensius
menjadi begitu terkenal hingga tak lama kemudian ia dipilih sebagai
Uskup Agung Dublin. Dalam kedudukannya yang baru itu, ia hidup kudus
sepanjang hidupnya. Setiap hari, ia mengundang kaum fakir miskin untuk
menjadi tamu kehormatannya. Di samping itu, ia memberikan pertolongan
kepada banyak orang lain juga. Laurensius sangat mencintai umatnya dan
negaranya, Irlandia, dan ia melakukan segalanya untuk menjadikannya
damai sejahtera. Suatu ketika, seorang gila menyerang Laurensius ketika
ia hendak naik ke altar untuk mempersembahkan Misa. Laurensius jatuh ke
lantai tak sadarkan diri. Namun, segera saja ia siuman kembali. Saat itu
juga dibasuhnya luka-lukanya, lalu langsung mempersembahkan Misa.
Setelah
tahun-tahun pengabdian bagi Gereja, St. Laurensius O'Toole sakit parah.
Ketika ditanya apakah ia hendak menuliskan surat wasiat, uskup agung
yang kudus itu tersenyum. Jawabnya, “Tuhan tahu bahwa aku tidak memiliki
apa-apa di dunia ini.” Sejak lama ia telah memberikan segala yang ia
miliki kepada orang-orang lain, sama seperti ia telah memberikan dirinya
seutuhnya kepada Tuhan. St. Laurensius O'Toole wafat pada tanggal 14
November 1180. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Honorius III pada tahun
1225.
St. Laurensius sadar akan pentingnya berdiri kokoh dalam melakukan apa yang benar, meskipun badai kritik menerjang.
Dikutip dari : Yesaya.indocell.net
0 komentar:
Posting Komentar