"Barangsiapa kehilangan nyawanya ia akan menyelamatkannya"
(2Yoh 4-9; Luk 17:26-37)
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari rini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Hari-hari
ini kita mulai mendekati akhir Tahun Liturgi sebelumnya memasuki
Tahun Baru Liturgi, masa Adven. Dengan kata lain sudah hampir selama
setahun kita merenungkan sabda-sabda Tuhan, yang berarti sudah cukup
banyak yang kita baca dan renungkan. Sabda hari ini mengajak kita
semua untuk mawas diri dengan cermin sabdaNya:"Barangsiapa berusaha
memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa
kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya". Dengan kata lain
sejauh mana kita telah hidup dan bertindak dijiwai oleh sabda-sabda
Tuhan, tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan
pribadi atau sebagai orang beriman kita semakin beriman, sebagai
suami-isteri semakin saling mengasihi, sebagai pekerja semakin terampil
bekerja, sebagai orang yang bertugas belajar semakin berpengetahuan
dan dewasa, sebagai anggota lembaga hidup bakti semakin membaktikan
diri sepenuhnya kepada Tuhan, dst.. Ada kemungkinan diri kita tidak
lama lagi dipanggil Tuhan, mengingat dan memperhatikan kematian dapat
terjadi kapan saja dan dimana saja, maka apakah kita telah siap sedia
dipanggil Tuhan atau meninggal dunia untuk selanjutnya menikmati hidup
bahagia dan mulia selamanya di sorga. Maka baiklah kita mawas diri
bahwa ketika dilahirkan di dunia ini kita tidak membawa harta kekayaan
apa-apa, dalam keadaan telanjang bulat, dan ketika dipanggil Tuhan
kita pun juga tak mungkin membawa harta benda atau kekayaan
sedikitpun. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun
yang kaya akan harta benda atau uang untuk memfungsikannya sedemikian
rupa sehingga anda semakin beriman atau semakin suci, semakin siap
sedia sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.
· "Dan
inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya.
Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih,
sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya" (2Yoh 6). Perintah
agar hidup saling mengasihi kiranya diajarkan oleh semua agama atau
keyakinan, dan kita semua kiranya telah berkali-kali mendengarkan homili
atau kotbah atau mungkin membaca buku-buku rohani atau keagamaan,
dengan kata lain secara jujur hendaknya mengakui bahwa kita telah
mengenal perintah-perintahNya, dan semua perintahNya kiranya
dipadatkan dalam perintah untuk hidup saling mengasihi. Maka pertanyaan
bagi kita semua: apakah kita semakin hidup saling mengasihi, dan
dengan demikian juga bersahabat dan bersaudara dengan siapapun tanpa
pandang bulu, SARA? Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa
masing-masing dari kita adalah buah kasih atau yang terkasih, dapat
tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena dan
oleh kasih. Dengan kata lain kita kaya akan kasih, maka panggilan
untuk saling mengasihi tidak sulit asal kita tidak pelit, yaitu
tinggal menyalurkan kasih kepada orang lain, yang kita miliki secara
melimpah ruah. Tidak hidup saling mengasihi berarti tidak beriman,
tidak percaya kepada Tuhan alias kafir. Sekali lagi kita semua
diingatkan bahwa sejak semua, sejak dilahirkan di dunia ini, kita
telah mendengar dan menikmati kasih, maka hendaknya jangan dilupakan,
melainkan hendaknya diperdalam dan diperkembangkan, sehingga pada
suatu saat kita siap sedia bertemu dengan 'Kekasih Sejati', Allah,
ketika kita meninggal dunia.
"Berbahagialah
orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat
TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang
peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati" (Mzm 119:1-2)
Dikutip dari : renunganimankatolik.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar