Kemudian,
mulailah penderitaan St. Elizabeth. Louis wafat karena suatu wabah
penyakit. Elizabeth demikian pilu hatinya hingga ia berseru: “Dunia
sudah mati untukku, dunia beserta segala kesenangannya.” Sanak-saudara
Louis tidak pernah menyukai Elizabeth karena ia biasa membagikan banyak
makanan kepada kaum miskin. Semasa Louis masih hidup, mereka tidak dapat
berbuat apa-apa. Tetapi sekarang, mereka dapat dan mereka melakukannya.
Segera saja, puteri yang cantik serta lemah lembut ini beserta ketiga
anaknya diusir dari kastil. Mereka menderita kelaparan serta kedinginan.
Namun, Elizabeth tidaklah mengeluh akan penderitaannya yang berat itu.
Malahan ia mengucap syukur kepada Tuhan dan berdoa dengan lebih tekun.
Elizabeth menerima penderitaannya sama seperti ia menerima
kabahagiaannya.
Sanak-saudara
Elizabeth datang menolongnya. Ia beserta anak-anaknya mempunyai tempat
tinggal kembali. Pamannya menghendaki agar Elizabeth menikah lagi,
karena ia masih muda dan menarik. Tetapi orang kudus ini telah bertekad
untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ia ingin meneladani semangat
kemiskinan St. Fransiskus.
Elizabeth kemudian tinggal di sebuah desa miskin dan menghabiskan
tahun-tahun terakhir hidupnya dengan melayani mereka yang sakit serta
miskin. Ia bahkan pergi memancing sebagai usaha untuk memperoleh
tambahan uang bagi kaum miskin yang dikasihinya. St. Elizabeth baru
berusia duapuluh empat tahun ketika ia wafat. Menjelang ajalnya, orang
dapat mendengarnya bersenandung pelan di atas pembaringannya. Ia yakin
betul bahwa Yesus akan membawanya kepada-Nya. Elizabeth wafat pada tahun
1231.
St.
Elizabeth mempunyai cinta kasih yang amat besar bagi kaum miskin.
Sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil untuk tergerak oleh belas
kasihan melihat penderitaan sesama.
Dikutip dari: yesaya.indocell.net
0 komentar:
Posting Komentar