Ketika
Fransiskus berusia tigapuluh empat tahun, St. Ignatius mengutusnya
sebagai misionaris ke Hindia Belanda. Raja Portugal hendak memberinya
hadiah-hadiah dan juga seorang pelayan untuk menyertainya. Tetapi,
Fransiskus dengan halus menolak pemberian raja dengan mengatakan: “Cara
terbaik bagi seseorang untuk mendapatkan martabat sejati adalah dengan
mencuci baju serta memasak makanannya sendiri.” Sepanjang karyanya yang
gemilang di Goa, India, Indonesia, Jepang serta pulau-pulau lain di
timur, St. Fransiskus mempertobatkan banyak orang. Sesungguhnya, ia
membaptis begitu banyak orang hingga ia menjadi terlalu lemah bahkan
untuk mengangkat tangannya sendiri. Ia mengumpulkan anak-anak kecil di
sekitarnya serta mengajarkan iman Katolik kepada mereka. Kemudian ia
menjadikan mereka misionaris-misionaris kecil. Ia mengajak mereka untuk
menyebarluaskan iman yang telah mereka peroleh. Tidak ada yang tidak
dilakukan St. Fransiskus untuk membantu sesama. Suatu ketika, ia
berhadapan dengan segerombolan perompak yang garang, ia sendirian dan
tanpa senjata kecuali salibnya. Gerombolan perompak itu mundur kembali
dan tidak jadi menyerang penduduk Kristennya. St. Fransiskus juga
membawa kembali orang-orang Kristen yang hidup tidak baik untuk
bertobat. Satu-satunya “alat”-nya adalah kelemahlembutan, keramahan
serta doa-doanya.
Sepanjang
perjalanan dan kerja kerasnya yang melelahkan, St. Fransiskus
senantiasa dipenuhi oleh sukacita yang datang dari Tuhan. Ia mendambakan
untuk dapat pergi ke Cina, ke daerah di mana tak seorang asing pun
diijinkan masuk. Akhirnya, persiapan-persiapan dilakukan, tetapi
misionaris besar kita jatuh sakit. Ia wafat, hampir-hampir tanpa
ditemani siapa pun, pada tahun 1552 di sebuah pulau di pesisir Cina.
Usianya baru empatpuluh enam tahun. Fransiskus Xaverius dinyatakan kudus
oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622. Ia dikanonisasi bersama para
kudus yang hebat lainnya dalam suatu upacara kanonisasi di Roma. Ignatius dari Loyola, Theresia dari Avila, Filipus Neri dan Isidorus si Petani, dikanonisasi pada hari yang sama.
Cinta
Fransiskus kepada Yesus demikian besar hingga ia tidak dapat
beristirahat karena pemikiran akan begitu banyaknya orang yang belum
pernah mendengar Injil. Bagaimana jika aku membagikan imanku kepada
setidak-tidaknya satu orang dalam hidupku?
Dikutip dari : yesaya.indocell.net
0 komentar:
Posting Komentar